Showing posts with label Communication-Public Relations-Technology. Show all posts
Showing posts with label Communication-Public Relations-Technology. Show all posts

Tuesday, 10 April 2018

Budaya Internet dan Globalisasi

Source pinterest

The world is flat! dunia semakin datar. Jarak bukanlah menjadi kendala untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Kelahiran internet telah membuka mata dunia, berbagai informasi mulai dari politik, ekonomi, sosial hingga fashion dari belahan benua lain sekalipun dapat diakses hanya dengan hitungan detik saja. Bayangkan saja, model fashion terbaru musim ini dari Domenico Dolce dan Stefano Gabbana, Marc jacob, ataupun Christian Dior dari pusat mode dunia di Paris, Italia, ataupun Milan, dapat kita ketahui hanya dengan hitungan detik saja melalui internet, tanpa kita harus bersusah payah pergi ke Paris, Italia ataupun Milan untuk melihatnya.

Model-model baju terbaru, model sepatu, trent rambut dunia yang sedang populer saat ini, makanan tradisional dari belahan dunia manapun, kendaraan terbaru, perangkat teknologi tercanggih, budaya-budaya populer seperti K-Pop, dalam hitungan hari semua itu dapat menjadi tren dunia, dapat diterima dan diadopsi secara global. Tren dunia tersebut akhirnya masuk dan diterima secara global menjadi tren karena peran media massa dan internet, film, ataupun buku yang menyebarkannya. Hal tersebut disebut sebagai globalisasi. Globalisasi yaitu perubahan budaya terkait dengan teknologi, informasi, komunikasi dan gaya hidup, yang memiliki sifat menyeluruh, diterima di seluruh belahan dunia manapun.
Dalam sejarahnya, globalisasi, pertama kali diungkapkan oleh Theodore Levitte pada tahun 1985, dalam hal ini globalisasi menunjuk pada sistem politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Sekitar tahun 1985 globalisasi mulai muncul dengan adanya revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik pada waktu itu dapat melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Sedangkan disintegrasi negara-negara komunis, menjadi motor globalisasi karena disintegrasi negara komunis memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global pada waktu itu.
Globalisasi semakin meluas hingga ke seluruh dunia ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Sehingga, globalisasi telah membawa perubahan perilaku terhadap kehidupan masyarakat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Salah satu contoh globalisasi adalah dalam bidang komunikasi. Friedman (2005) menyebutkan globalisasi komunikasi adalah kemampuan untuk menyediakan dan mengakses informasi dalam berbagai latar belakang budaya dengan cara berbicara, mendengarkan, atau membaca dan menulis. Di era globalisasi ini, kemampuan bahasa global (bahasa Inggris, Mandarin) sangat diperluakan untuk pergaulan Internasional, terutama untuk urusan bisnis, kerjasama kenegaraan, ataupun pendidikan dan penelitian.
Bentuk globalisasi selanjutnya adalah globalisasi media. Globalisasi media massa yaitu persebaran atau serbuan media massa baik surat kabar, majalah, televisi ataupun radio ke seluruh dunia. Apabila globalisasi media tidak diantisipasi dengan baik, akan terjadi benturan antar budaya lokal dari luar negeri yang tak dikenal oleh bangsa Indonesia. Contoh globalisasi media yang mulai masuk ke Indonesia yaitu munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia seperti : majalah Playboy, Cosmopolitan, Spice, FHM (For Him Magazine), Good Housekeeping, Trax dan sebagainya. Demikian halnya dengan acara televisi dan radio, di Indonesia telah banyak program-program acara produksi Amerika, Eropa dan beberapa negara Asia versi Indonesia, seperti tayangan Indonesian Idol, X-Factor, Mater Chef, drama korea, telenovela, dan lain sebagainya.
Selain globalisasi komunikasi dan globalisasi media, globalisasi teknologi juga memberikan efek besar terhadap perubahan budaya dan kemajuan bidang ekonomi suatu Negara. Globalisasi teknologi yaitu lahir dan berkembangnya berbagai macam teknologi yang memudahkan pekerjaan manusia, teknologi baik dalam bidang komunikasi, pertanian, ataupun industri. Masuk, berkembang dan diadopsinya berbagai macam perangkat teknologi ke Indonesia menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Negara. Sebut saja berbagai macam perangkat teknologi komunikasi buatan Amerika seperti iPhone, iPad, iPod, dan Negara Korea dengan produk Samsung android yang merajai pasar dunia. Adanya perkembangan teknologi komunikasi tersebut menjadikan jarak tak berarti. Setiap orang bisa berkomunikasi dan mengakses informasi dimanapun dan kapanpun juga secara cepat dan mudah.
Globalisasi lahir sebagai perwujudan upaya atau  respon manusia untuk dapat menaklukkan dan mengolah alam dan segala tantangan dunia (challenge) demi kelangsungan hidupnya. Globalisasi semakin berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga dapat mempermudah kerja manusia, secara efesien dan produktif
Sering kita mengidentikkan globalisasi dengan perkembangan dalam bidang ekonomi, Namun walaupun demikian, secara tidak langsung globalisasi juga mempengaruhi transformasi masyarakat menuju cybercultureGlobalisasi merupakan salah satu pendorong berkembangnya cyberculture (budaya cyber/internet). Cyberculture menurut Manovich dalam buku The New Media Reader adalah budaya yang muncul dari penggunaan jaringan komputer untuk komunikasi, hiburan dan bisnis. Cyberculture menyangkut hubungan antar manusia, komputer dan kepribadian yang dilakukan di dunia maya.
Beberapa ciri cyberculture yang berkembang di Indonesia dapat diketahui sebagai berikut: komunikasi global berkembang sangat cepat, meretas batasan jarak dan waktu, dapat dilihat dari perkembangn barang-barang seperti munculnya media digital, telpon selulertelevisi satelit,  dan internet; Perdagangan internasional, perusahaan multinasional dan dominasi organisasi semakin berkembang dan menjadikan pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung satu dengan yang lain; Media massa menjadi pendorong tumbuhnya interaksi cultural antar bangsa. Berbagai macam budaya asing mulai masuk dan berkembang di Indonesia, misalnya dalam bidang  fashionmakanan, lagu dan film.
Globalisasi  dan cyberculture mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Seperti yang disampaikan oleh Friedman di buku The World Is Flat bahwa globalisasi berkembang dalam tiga era, yaitu globalisasi 1.0, globalisasi 2.0 dan globalisasi 3.0.
Pertama kali muncul adalah globalisasi 1.0, yaitu merupakan globalisasi negara. Globalisasi web 1.0 dimanfaatkan untuk kepentingan Negara. Pemerintah dan lembaga terkait beperan penting sebagai pengguna dan pengembang teknologi komunikasi. Segala bentuk media teknologi komunikasi yang ketika itu masih web 1.0 yang masih bersifat satu arah, dimaksimalkan oleh Negara untuk mengirim informasi dalam bentuk elektronik mail antar negara ataupun antar pejabat kenegaraan.
Selanjutnya berkembang globalisasi 2.0, yang disebut sebagai era globalisasi perusahaan. Web 2.0 yang bersifat dua arah, telah menjadi bagian terpenting bagi perkembangan bisnis perusahaan. Aktivitas ekonomi komunikasi seperti perjanjian jual-beli, tawar menawar harga, promosi, pemasaran tidak hanya terjadi secara fisik, namun dapat dilakukan secara online dengan media internet. Sehingga kegiatan bisnis menjadi semakin luas tak terpancang jarak dan waktu. Sehingga mulai muncullah e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking, sebagai bagian dari globalisasi 2.0.
Globalisasi 2.0 belum merata dirasakan hingga ke daerah-daerah terpencil di Indonesia, namun kini sudah mulai muncul dan berkembang era globalisasi 3.0, Friedman menyebutnya sebagai globalisasi individu. Globalisasi 3.0 merupakan pemberdayaan individu, dimana individu sangat dimudahkan oleh kecanggihan web 3.0 (web semantik). Dalam hal ini web 3.0 dengan pintar dapat memprediksi, memberikan rekomendasi dan menyediakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan masing-masing individu, sehingga masing-masing individu tersebut dapat memiliki media untuk menyalurkan bakat minatnya dan semakin kreatif mengembangkan potensi pribadinya.
Globalisasi tidak hanya memberikan pengaruh kepada kehidupan masyarakat Indonesia, namun juga merata bagi masyarakat dunia. Tidak ada lagi batas-batas penghalang aktivitas komunikasi antarindividu ataupun kelompok. Globalisasi telah menjadi jendela dunia yang menyediakan berbagai informasi dari berbagai Negara di seluruh penjuru dunia. Berbagai macam informasi diproduksi dan dikonsumsi dari satu tempat ke tempat lain. Bagai pisau bermata dua, banyak hal positif dari pengaruh globalisasi, namun juga tidak sedikit hal negatif yang terkandung di dalamnya. Sehingga membutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan kita untuk dapat menyaring informasi yang pantas dan tidak pantas untuk kita konsumsi.

Buku Acuan
Dominick, J. R. (2008). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill, International Edition
Friedman, Thomas. (2005). The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century, Farrar Straus and Giroux (USA)
Littlejohn, S.W. (2010). Theories of Human Communication, Belmont, CA: Wadsworth
 Manovich, Lev. "New Media From Borges to HTML." The New Media Reader. Ed. Noah Wardrip-Fruin & Nick Montfort. Cambridge, Massachusetts, 2003. 13-25.
Toffler, Alvin. (1980). The Third Wave. Bantan Books (USA)





Thursday, 5 April 2018

As We May Think

Illustration by Rachel Levit

Like any people living in the age of information superhighway, sepertinya saya pun tak bisa lepas dari kebutuhan akan tautan informasi pada jaringan internet (world wide web). Keberadaan internet sudah menjadi bagian vital dalam hidup saya, kalau diibaratkan mungkin internet bagi saya sepertihalnya oksigen untuk bernafas dan air untuk saya minum, sevital itulah kira-kira (iya tahu, saya memang lebay :p). Karena merasa terbantu sekali dengan jaringan internet dan website, sayapun tertarik untuk mengulas salah satu artikel klasik karya Vannevar Bush tahun 1945, yang berhasil meramalkan kemunculan new media.
Adalah “As We May Think”, yaitu artikel klasik yang ditulis oleh Vannevar Bush tahun 1945 di majalah Atlantic Monthly. Bush menyebutkan bahwa manusia harus membangun peradabannya sendiri, manusia harus memesinkan segala catatannya, dimana manusia tak harus terkendala dengan ingatan pendeknya sendiri.
As We May Think telah menginspirasi terciptanya internet dan world wide web (website). Jauh sebelum internet ditemukan, Vannevar Bush dalam artikelnya tersebut telah memprediksi tingkah laku manusia ketika masuk era new media, baik itu dari sisi positif maupun negatifnya. Menurutnya, human mind bekerja berdasarkan asosiasi (assosiation). Dengan sebuah data (informasi) dipegang, maka ia akan meyambung dengan informasi berikutnya yang terasosiasi dengan data sebelumnya.
Siapa sih Vannevar Bush? Dia adalah seorang insinyur dan ilmuwan berkebangsaan Amerika yang dikenal karena pencapaiannya pada bidang komputasi analog. Ia menemukan 50 buah penemuan antara lain komputer analog yang ia beri nama Differential Analyzer (alat penganalisis aljabar tinggi), yang mampu menghitung persamaan aljabar tinggi. Tahun 1945 Bush menulis artikel berjudul As We May Think di majalah Atlantic Monthly, tulisannya tersebut sangat popular dan menjadi cikal bakal munculnya era new media.
As We May Think menjadi popular karena disebut-sebut sebagai artikel yang berhasil meramalkan beberapa jenis teknologi masa kini diantaranya : Hypertextpersonal computerinternetspeech recognition bahkan hingga ensiklopedia daring seperti Wikipedia. Dalam artikelnya, Bush mendeskripsikan sebuah mesin teoretis bernama Memex (Memory Extender), sebuah mesin mekanis yang berfungsi sebagai peranti penyimpanan dan pengambilan informasi.
Seperti ibarat otak manusia yang membentuk memori melalui asosiasi neuron, memex juga memanfaatkan teknologi microfilm sebagai media penyimpanan dimana pengguna dapat menghubungkan dokumen-dokumen yang tersimpan pada Memex.
Secara fisik memex dideskripsikan terdiri atas sebuah meja yang dilengkapi dengan layar, keyboard, tombol dan pengungkit (lever) serta tempat penyimpanan microfilm. Informasi yang tersimpan dalam microfilm dapat diakses dengan cepat dan ditampilkan melalui layar yang disediakan. Bush menyebut konsep ini sebagai “associative trails”, setiap trail nantinya dapat dilengkapi dengan komentar tambahan untuk memperjelas hubungan antar dokumen yang dihubungkan.
Ilustrasi bentuk Memex yang menggunakan meja, layar dan keyboard dapat dikatakan mirip dengan bentuk personal computer masa kini. Konsep Associative trail yang Bush usulkan mirip dengan teknologi hypertext yang muncul pada era 60-an, dan juga bentuk dari tautan informasi pada jaringan Internet (world wide web). Secara eksplisit Bush dalam artikel tersebut juga meramalkan dengan sangat dekat akan kemunculan ensiklopedia-ensiklopedia yang lengkap dengan “associative trail” dan dapat digabungkan satu sama lain, mirip dengan apa yang ditawarkan wikipedia saat ini.
Dalam artikelnya, Vannevar Bush juga mengungkapkan tentang keprihatinannya akan arah tujuan usaha penelitian di bidang sains lebih pada kehancuran, karena masa itu penelitian dipusatkan untuk pengembangan senjata dan strategi perang, dibandingkan untuk tujuan pemahaman dan mencari penjelasan rinci dengan mesin memori kolektif dengan konsep “memex”, yang akan membuat berbagai pengetahuan menjadi accessible, dan dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan manusia.
Setelah perang dunia ke dua berakir, penelitian di bidang sains semakin dikembangkan. Demikian halnya dengan penelitian pada jaringan internet dan website juga semakin berkembang pesat. Seperti apa perkembangan dan dampak internet bagi dunia? akan saya tulis di tulisan saya selanjutnya 😉
Itulah sedikit tulisan tentang ‘As We May Think, artikel klasik yang ditulis oleh Vannevar Bush tahun 1945 di majalah Atlantic Monthly, yang memprediksi tingkah laku manusia ketika masuk era new media, hingga akhirnya prediksi tersebut menjadi nyata sejak jaringan internet dan website ditemukan tahun 1990an, dan semakin berkembang hingga sekarang.

Thursday, 1 September 2016

The Adventures of Media

(Paulina Damayanti)

Bicara tentang media massa, media sosial, dan produk-produk media memang tidak ada habisnya. Produk-produk media massa ataupun new media (internet) termasuk sosial media di dalamnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, yang rasanya hidup tak lengkap kalau sehari saja tidak mengakses media.
 Kali ini bolehlah saya mengutip kata-kata dari Malcolm, The media’s the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty, and to make the guilty innocent, and that’s power. Because they control the mind of the masses. Hal itu menandakan bahwa pengaruh media sangat besar bagi kehidupan kita. Secara tidak sadar kita dikonstruksi oleh media yang kita konsumsi sehari-hari, you are what you watch or you are what you read.
Sebagai contoh, saya mencoba untuk melihat salah satu produk media, yaitu kartun satir berjudul The Adventures of Media Lapdog for Obama, yang diambil dari website People’s Cube. Tujuannya adalah memaknai pesan dibalik media tersebut. Kita harus sadar bahwa selalu ada ‘pesan’ dibalik media, bahwa kelompok dominan selalu berhasil menggiring opini karena mereka mayoritas, juga kelompok lainnya yang berjuang dengan ideologi mereka yang mencoba melawan kekuatan dominasi. Berikut ulasannya :

Autor
The Lapdog for Obama, diambil dari website People’s Cube. Website tersebut adalah komunitas humor politik di Amerika Serikat (AS), yang membuat cerita kartun satir untuk mengkritisi pemerintah dan para tokoh politik AS. Penulis dan pemilik website tersebut adalah Oleg Atbashian.
Sebelum pindah ke AS pada tahun 1994, Atbashian tinggal di Ukraina, ia bekerja sebagai seniman propaganda Uni Soviet, membuat poster propaganda politik dan agitprop visual untuk Komite Partai lokal di Siberia. Selama waktu itu, Oleg menyaksikan dan merasakan sendiri transisi republik Uni Soviet (Negara komunis) dari sosialisme, kleptokrasi dan korupsi.
Pada tahun 1994 ia pindah ke AS dengan harapan hidup di negara liberal, menghargai kebebasan dan kemakmuran. Namun Oleg kecewa karena liberalisasi di Amerika yang liberty & equal tidak seperti ekspektasi dia, sehingga ia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah. Terutama ia mengkritisi kandidat calon Presiden dari partai demokrat, yaitu Obama. Aktivisme Oleg ini berkembang, memanfaatkan new media, yaitu dengan website yang diberi nama website People’s Cube.
People’s Cube mengkonstruksi pesan dengan menggunakan kartun tokoh Obama dan seekor anjing. Anjing tersebut menggambarkan media Amerika yang memiliki karakter lapdog (anjing pangkuan), dan tidak menjalankan fungsinya sebagai watch dog (anjing pengawas). Media dianggap memihak Obama (waktu itu sebagai calon Presiden Amerika 2008, dari partai Demokrat).

Konten
Dari segi format, kartun The Lapdog for Obama di website People’s Cube memiliki warna dominan merah. Warna merah yang dominan dan seragam, sewarna, merupakan ciri komunis yaitu diseragamkan. Seperti diambil dari Story of the Red Flag (situs Partai Komunis Revolusioner Amerika Serikat) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, kata ‘merah’ memiliki kaitan erat dengan ideologi komunis. Setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, merah menjadi warna bendera nasional Uni Soviet, hingga akhir masa hidup negara tersebut pada 1991.
Dalam mitologi Soviet, merah dianggap sebagai warna darah yang ditumpahkan oleh kelas pekerja dalam perjuangannya melawan penindasan kapitalisme. Bendera merah dalam dunia politik adalah simbol politik sayap kiri, terutama sosialisme dan komunisme. Bendera ini telah dikaitkan dengan politik sayap kiri sejak meletusnya Revolusi Perancis (Story of the Red Flag, 2006).
Judul kartun tersebut adalah The Adventures of Media Lapdog for Obama, kata ‘media’ ditulis dengan warna merah, seperti yang dijabarkan diatas, bahwa warna merah adalah simbol komunis. Oleg menganggap bahwa media tak ada bedanya dengan kaum komunis dan sosialis, yang menjadi agen propaganda dan pembentuk citra positif Obama.
Obama dan media bekerjasama untuk meraih kekuasaan (power) dengan cara menarik simpati dari publik Amerika dan dunia. Hal tersebut dinilai Oleg sebagai konspirasi yang merugikan masyarakat yang seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan liberty & equal.
Judul artikel adalah Media the Lapdog for Obama, sangat lugas dan langsung dapat dipahami bahwa media di Amerika yang seharusnya memiliki peran sebagai pilar ke-4 negara (yudikatif, eskutif, legislatif, dan media sebagai watch dog), namun justru media menjadi lapgog (anjing pangkuan).
Desain gambar yang dipilih memperlihatkan anjing (merepresentasikan media), yang selalu menempel Obama. Kartun tersebut mengkonstruksi pesan bahwa media memiliki fungsi lap dog (anjing pangkuan). Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi saja.
Oleg mengkritisi media Amerika yang menjadi lapdog Obama, terutama sejak kampanye Presiden 2008, hingga akhirnya Obama terpilih menjadi Presiden Amerika. Keberhasilan Obama menjadi Presiden AS tak lepas dari peran media yang mengcover isi berita tentang Obama (tentu hanya konten-konten positif saja yang ditulis). Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media.
Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.

Kesimpulan
Kartun di website People’s Cube tersebut merupakan salah satu produk media, yang diproduksi untuk kepentingan tertentu. Kartun tersebut ditujukan untuk mengkritik media (pers) yang telah mengambil posisi sebagai lap dog. Pada era sekarang ini, pers lap dog tidak semata-mata menghamba kepada pemerintah, tetapi juga kepada korporasi besar.
Model fungsi lap dog (anjing pangkuan) yang digambarkan oleh kartun ‘The Adventures of Media Lapdog for Obamamerupakan gambaran nyata yang benar-benar terjadi di era kebabasan pers ini. Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi.
Mengapa media menjadi lapdog? persaingan media yang sangat ketat, mengakibatkan pertumbuhan media menjadi tidak sehat. Persaingan untuk mendapat kue iklan semakin ketat. Akibatnya, pers yang tidak kebagian jatah iklan mencari cara lain untuk merebut setetes rezeki. Ini dapat dilihat dalam kasus, pers yang menjual headline atau agenda setting untuk kepentingan korporasi atau elite tertentu. Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media. Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.
Semoga kita dapat lebih bijak dalam mengkonsumsi ataupun memproduksi media, dan memiliki literasi media yang baik (melek media). Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar kita tidak mudah terpengaruh ataupun terprovokasi oleh media baik itu cetak, elektronik ataupun new media (internet), karena tidak semua produk media itu terjamin akurasinya dan tidak semua produk media baik untuk kita konsumsi. 

Wednesday, 4 May 2016

DIBALIK BANJIRNYA FILM SUPERHERO HOLLYWOOD HINGGA 2020


(Paulina Damayanti)

Sejak tahun 2015 lalu, secara berturut-turut kita disuguhi berbagai film superhero Hollywood yang rilis secara berdekatan. Masa kejayaan film-film superhero tersebut jelas belum akan berakhir dalam waktu dekat ini, Hollywood akan merilis hampir 30 film superhero yang siap rilis hingga tahun 2020 nanti. Mengapa film superhero terus dibuat Hollywood?


Bukanlah hal yang kebetulan ketika Hollywood secara besar-besaran memproduksi berbagai film bertema superhero secara beruntun dari tahun 2015 hingga 2020 mendatang. Bisa dipastikan selama lima tahun kedepan, bioskop kita makin disesaki film-film superhero. Warner Bros yang memiliki hak atas tokoh superhero DC Comics, Disney pemilik Marvel, serta Fox dan Sony yang memiliki beberapa tokoh-tokoh kunci Marvel siap merilis hampir 30 film superhero.

Tahun 2015 lalu, masih lekat diingatan kita, secara berdekatan rilis berbagai film bertema superhero, seperti Avengers: Age of Ultron (1 Mei), Ant-Man (17 Juli), dan The Fantastic Four (7 Agustus). Diawal tahun 2016 ini muncul Deadpool (12 Februari), dan pada bulan Maret DC memulai seri cross-over Justice League lewat Batman, Superman, Wonder Woman, dan Aquaman dalam satu layar lewat Batman vs Superman: Dawn of Justice. Kemudian disusul film Captain America 3 (26 April), X-Men: Apocalypse (27 Mei), Suicide Squad (5 Agustus), The Sinister Six (11 Agustus). Awal tahun 2017 akan dirilis film Wolverine terbaru (3 Maret), Wonder Woman (23 Juni), The Fantastic Four 2 (14 Juli), Guardians of the Galaxy 2 (28 Juli), Justice League, Part One (17 November). Dan berbagai judul film lainnya, hingga tahun 2020 ditutup dengan film produksi DC, Cyborg (3 April) dan Green Lantern (19 Juni).

Rilis Hollywood untuk berbagai film superhero hingga lima tahun ke depan sekilas menjadi kabar gembira bagi kita, terutama para pecinta seri Marvel dan DC, namun bila kita cermati, film-film fiksi tersebut tidak hanya menghibur, tetapi banyak pesan dan informasi yang disampaikannya, bahkan secara tidak sadar pesan tersebut terekam dalam memori kita. Film mampu membangun keterikatan emosi pada penontonnya, sehingga bila dipaparkan terus-menerus penonton menjadi fanatik, bahkan secara tidak sadar dapat merubah ideologi, sifat, dan karakter kita sesuai dengan apa yang disampaikan film tersebut.

Sejak abad 19, film telah menjadi bagian dari hidup kita, yang telah berkembang dari pertunjukan keliling menjadi salah satu alat penting komunikasi dan hiburan serta media massa pada abad 21 sekarang ini. Film merupakan produk kebudayaan manusia yang dianggap berdampak besar bagi masyarakat dan merupakan salah satu bentuk seni, sumber hiburan dan alat yang ampuh untuk mendidik serta mengindoktrinasi para penontonnya.

Demikian halnya dengan berbagai film bertema superhero produksi Hollywood.  Pada awal berkembangnya sebelum diangkat ke layar bioskop, komik superhero memang tak lepas dari misi sosial politis. The Action Comic, komik yang pertama kali memperkenalkan Superman sebagai superhero pada tahun 1938, muncul sebagai kritik terhadap kehidupan sosial politik Amerika Serikat saat mengalami The Great Depression. Superhero tidak digambarkan melawan alien atau supervillain, namun bertarung melawan pelecehan terhadap wanita dan pemerintahan yang korup.

Ketika Perang Dunia II merebak. Dunia superhero ikut ambil bagian. Superman, Captain America, dan superhero lainnya menjalani misi propaganda sebagai agen patriot pemerintah Amerika. Misi yang bertolak belakang saat awal mereka dikenalkan. Kemudian Amerika Serikat memiliki presiden keturunan Afrika-Amerika pertama mereka. Feminisme, persamaan gender, dan keberagaman menguat di negeri tersebut. Perkembangan sosial politis ini juga turut menjadi inspirasi bagi dunia komik. Beberapa waktu belakangan muncul versi-versi alternatif dari superhero kenamaan lintas ras dan gender.

Jika dilihat, tren film superhero tahun 2016 ini bertema superhero melawan superhero. Misalnya saja dari kubu DC dengan Batman vs Superman serta film animasi Justice League vs Teen Titans. Marvel juga tidak mau kalah dengan tema serupa, melalui Marvel Cinematic Universe mereka menghadirkan film bertajuk Captain America: Civil War. Pesan sosial yang terkandung di dalamnya adalah bahwa perbedaan pendapat, pola pikir, apa yang diyakini benar dalam suatu tim, bahkan orang yang sudah dianggap sebagai sahabat atau keluarga dekat akan mungkin timbul perpecahan internal.

Baik itu film Batman vs Superman ataupun Captain America: Civil War sendiri mencoba mengangkat krisis dari berjayanya para superhero tersebut ketika mereka melakukan penyelamatan gemilang dari ancaman yang mampu menghancurkan kelangsungan hidup umat manusia. Namun, catatan hitam dari event tersebut adalah: korban jiwa tidak bisa dihindarkan. Meskipun masyarakat dan dunia tau bahwa keberadaan superhero sangat berjasa untuk mereka, namun status mereka sebagai organisasi privat yang tidak terikat oleh politik dan pemerintahan menjadikan warga cemas bahwa tidak ada yang mengawasi dan mengontrol mereka. Pada akhirnya, film tersebut menggambarkan, bahwa tetap para superhero itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran, sedangkan pemerintah dan militer selalu menjadi pihak yang terdesak dan lemah.

Film-film superhero yang secara beruntun diproduksi oleh Hollywood hingga tahun 2020 tersebut menjadi kritik terhadap situasi sosial politik dan pemerintahan di Amerika, terutama ditengah-tengah perseteruan panas pemilihan presiden Amerika tahun ini. Bahwa masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah, mereka mendambakan seorang ‘superhero’ sesungguhnya yang dapat mengentaskan kesengsaraan masyarakat secara cepat tanpa banyak pertimbangan birokrasi. Dengan hadirnya superhero tersebut, seolah-olah masyarakat merayakan utopia pembebasan dan kemerdekaannya dari berbagai bentuk kemusnahan dan kejahatan dunia seperti terbebas dari terorisme, pelecehan seksual, perampokan, pembunuhan, pemerintahan yang korup dan diskriminasi.

Semoga film-film superhero yang akan kita nikmati selama lima tahun ke depan tersebut tidak hanya dapat menghibur kita, namun juga dapat menjadi bahan refleksi kita terhadap berbagai permasalah sosial, politik dan budaya di sekitar kita. Kita sebagai penikmat film juga sebaiknya lebih kritis dalam mengkonsumsinya, karena tidak semua hal yang dianggap baik menurut ideologi film itu benar, dan sesuatu yang dianggap benar belum tentu baik untuk kita.

Friday, 10 April 2015

Pemanfaatan Teknologi dalam Ekonomi Komunikasi



Komunikasi menjadi bagian penting di setiap bidang kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial-budaya, politik dan ekonomi. Sehingga beragam kajian ilmu pun menempatkan komunikasi sebagai turunnya, misalnya komunikasi politik, komunikasi pendidikan, filsafat komunikasi, ekonomi komunikasi, teknologi komunikasi, dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadi kajian yang menarik karena kekuatan komunikasi dengan empat komponennya (source, message, chanel, receiver) memiliki dampak yang besar bagi masyarakat luas. Salah satu kajian yang menarik di bidang komunikasi adalah, pengaruh kemajuan teknologi komunikasi bagi pertumbuhan ekonomi. Kajian tersebut terdiri dari tiga hal pokok yang saling berkaitan, yaitu, teknologi komunikasi, ekonomi dan masyarakat.
            Teknologi dan ekonomi komunikasi kini semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Ekonomi komunikasi adalah aktifitas penyampaian informasi yang berhubungan dengan usaha-usaha yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Toffler : 1980). Sehingga ketika teknologi mengalami perkembangan, maka aktifitas ekonomi komunikasipun akan semakin meningkat. Aktifitas komunikasi dalam bentuk kerjasama bisnis, jual-beli barang dan jasa, pemasaran, perbankan, menjadi semakin mudah dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi. Ekonomi komunikasi menjadi semakin mudah, bebas dari batasan jarak dan waktu.
            Besarnya pengaruh kemajuan teknologi komunikasi bagi masyarakat, telah membuat catatan penting bagi sejarah. Alvin Toffler, dalam bukunya The Third Wave (1980), membagi sejarah teknologi menjadi tiga gelombang, yaitu :
Gelombang pertama (800 BC-1700), mulai berkembang teknologi pertanian (terjadi sebelum revolusi industri). Pada periode ini teknologi yang berkembang dan diterapkan adalah teknologi pertanian. Masyarakat pada periode ini masih menggunakan energi alam, yaitu matahari, angin dan air. Teknologi komunikasi yang digunakan masih bersifat analog, seperti menggunakan kurir untuk mengantar surat, cahaya lampu untuk navigasi, asap untuk signal, dan lain sebaginya.
Gelombang ke-2 (1800-1970), ketika dunia industri mulai berkembang semakin pesat, ditandai dengan ditemukannya mesin cetak dan mesin uap (masa revolusi industri), mulai diproduksi tekstil, mobil, kereta api uap dan lain sebagainya. Pada periode ini teknologi komunikasi semakin berkembang seperti ditemukannya telepon analog, fax, televisi analog, radio, surat kabar dan majalah. Teknologi komunikasi massa mulai berkembang menjadi media komunikasi untuk propaganda politik dan pemasaran hasil-hasil industri.
Gelombang ke-3 (1970-2000), kemajuan teknologi pada periode ini yaitu mulai berkembangnya teknologi komunikasi dan pengolahan data. Teknologi komunikasi berkembang dengan ditemukannya internet dan World Wide Web (www). Kemajuan teknologi komunikasi tersebut berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi industri. Sehingga produk dari industri dikomunikasikan melalui media teknologi komunikasi. Pada periode ini, terjadi perubahan gaya ekonomi komunikasi yang menjadikan perekonomian semakin menguat karena hadirnya berbagai kemajuan dibidang teknologi komunikasi, yaitu mulai munculnya web 2.0 dan 3.0 untuk pemasaran produk, bisnis, perbankan, public relations, menjadi lebih luas tanpa batasan jarak dan waktu.
Straubhaar (2011) menyebutkan bahwa web 2.0 merupakan media komunikasi online yang memungkinkan masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, namun juga berperan aktif memproduksi informasi. Sedangkan web. 3.0 merupakan media komunikasi online yang seolah-olah seperti komunikasi di kehidupan nyata. Dimana ciri-cirinya tanpa banyak sentuhan panca indra manusia, web sudah  dapat menyarankan rekomendasi hingga memberikan aplikasi sesuai kebutuhan manusia.
Adanya perkembangan teknologi komunikasi khususnya internet, Thomas Friedman (2005) menyebutkan bahwa dunia semakin datar (flat world/horizontal), maksudnya disini adalah dengan adanya kemajuan internet, jarak di bumi ini menjadi tak berarti lagi. Internet telah melampaui jarak dan waktu, sehingga informasi dan komunikasi dapat sampai di tempat tujuan dengan efektif dan efisien hanya dengan hitungan detik saja. Friedman juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi telah berhasil meningkatkan taraf hidup secara ekonomi, karena individu menjadi semakin kreatif, potensinya terasah, dan semakin membebaskan eksistensi diri karena di dunia maya tidak mengenal strata sosial.
Ekonomi erat kaitannya dengan globalisasi. Globalisasi dalam hal ini memiliki sifat menyeluruh, diterima di seluruh belahan dunia manapun. Friedman menyebutkan di buku The World Is Flat bahwa globalisasi terbagi dalam tiga era, yaitu globalisasi 1.0, globalisasi 2.0 dan globalisasi 3.0.
Globalisasi 1.0 disebutkan menjadi globalisasi negara. Dimana dalam hal ini Negara mempunyai peran penting sebagai pengguna dan pengembang teknologi komunikasi. Segala bentuk media teknologi komunikasi yang ketika itu masih web 1.0 yang masih bersifat satu arah, dimaksimalkan oleh Negara untuk mengirim informasi dalam bentuk elektronik mail antar negara ataupun antar pejabat kenegaraan.
Kemudian berkembang web 2.0, yang disebut sebagai era globalisasi perusahaan. Web 2.0 yang bersifat dua arah, telah menjadi bagian terpenting bagi perkembangan bisnis perusahaan. Aktifitas ekonomi komunikasi seperti perjanjian jual-beli, tawar menawar harga, promosi, pemasaran tidak hanya terjadi secara fisik, namun dapat dilakukan secara online dengan media internet. Sehingga kegiatan bisnis menjadi semakin luas tak terpancang jarak dan waktu. Sehingga mulai muncullah e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking, sebagai bagian dari globalisasi 2.0.
E-marketing, e-advertising dan e-public relations semakin populer karena memiki daya magnet yang kuat sebagai upaya peningkatan profit perusahaan. Kegiatan marketing dan public relations yang dahulu bersifat konvensional seperti memasang iklan di surat kabar, menyebar spanduk dan brosur, selain menghabiskan banyak biaya dan tidak ramah lingkungan, juga informasi pemasaran yang dihasilkan sangat terbatas. Sedangkan kini, muncullah kegiatan marketing, advertising dan public relations berbasis internet, yang dikenal dengan e-marketing, e-advertising, dan e-public relations, yang menginformasikan perusahaan, produk, kegiatan pemasaran, dan iklan, melalui website perusahaan, ataupun melalui sosial media twitter dan facebook. Dengan media internet, pemasaran akan lebih efektif dan efisien, informasi yang disampaikan juga lebih luas, tak terbatas jarak dan waktu.
Manusia kini telah memasuki era globalisasi 3.0, Friedman menyebutnya sebagai globalisasi individu. Globalisasi 3.0 merupakan pemberdayaan individu, dimana individu sangat dimanjakan dan dimudahkan oleh kecanggihan web 3.0. Dalam hal ini web 3.0 dengan pintar dapat memprediksi, memberikan rekomendasi dan menyediakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan masing-masing individu, sehingga masing-masing individu tersebut dapat memiliki media untuk menyalurkan bakat minatnya dan semakin kreatif mengembangkan potensi pribadinya. Di bidang ekonomi web 3.0 memudahkan pihak penjual ataupun pembeli menemukan target bisnisnya karena web sendiri yang akan mencarikan atau mempertemukan antar penjual dan pembeli tersebut sesuai segmentasi kebutuhan barang atau jasa yang diminati atau dicari masing-masing pembeli tersebut.
Keberhasilan suatu negara dalam meningkatkan ekonomi bangsa, tidak hanya dilihat dari faktor economic of scale saja, namun juga economic of internet (scope). Economic of scale dalam hal ini adalah sarana dan prasana barang dan jasa dan transaksi ekonomi secara fisik di dunia nyata, sedangkan economi of scope dalam hal ini adalah internet yang cakupannya lebih luas tanpa batasan jarak. Aktifitas ekonomi di dunia virtual ini meliputi jual-beli online, pemasaran online, e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking dan lain sebaginya. Dalam hal ini, tercapainya pertumbuhan ekonomi, tentu akan berhasil apabila masyarakat Indonesia secara menyeluruh telah menjadi masyarakat informasi. Masyarakat informasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah masyarakat yang mampu memaksimalkan informasi dan teknologi komunikasi. Sehingga teknologi komunikasi dalam ekonomi komunikasi benar-benar dapat dimanfaatkan dengan positif dan semaksimal mungkin.

Buku Acuan
Friedman, Thomas. (2005). The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century, Farrar Straus and Giroux (USA)
Hoskin, C, McFadyen, Stuart & Adam Finn. (2004). Media Economics: Applying Economics to New and Traditional Media, Thousand Oaks, CA: Sage Publication
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, 2011 Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth
Toffler, Alvin. (1980). The Third Wave. Bantan Books (USA)

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...