Showing posts with label Note about Feature Story. Show all posts
Showing posts with label Note about Feature Story. Show all posts

Wednesday, 11 June 2014

Melihat Kantor Pos Besar Yogyakarta Dari Sudut Pandang Whitehead


Tepat di kawasan nol kilometer Yogyakarta, berdiri dengan kokoh gedung besar bercat putih. Gedung tersebut tampak tua, sebagian catnya sudah rusak. Rusaknya cat tersebut tidak membuat bangunan itu terlihat jelek dan suram, namun justru mengentalkan unsur historisnya. Di depan gedung tersebut, terdapat tulisan besar berbunyi “KANTOR POS YOGYAKARTA”.


Segala sesuatu di dunia ini bersifat dinamis, dan selalu berkembang, terjadi melalui sebuah proses dan terus menjadi. Begitu juga dengan Kantor Pos Besar Yogyakarta, bahwa sebenarnya kantor pos yang sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda ini, dapat menjadi besar dan bertahan hingga sekarang, bukan datang tiba-tiba, namun terbentuk melalui sebuah proses yang cukup panjang dan waktu yang lama. Namun, kita harus tahu bahwa hal tersebut tidak hanya berhenti di sini. Masih akan selalu ada proses yang lebih unik dan khas di kemudian hari.

Di satu sisi zaman akan terus berkembang, seperti yang kita ketahui, kini kita telah memasuki zaman auidovisual, dimana TV, HP, dan internet bukan merupakan barang-barang yang asing bagi kita dan bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari. Perkembangan teknologi telah memudahkan hidup manusia, hingga segala informasi yang dibutuhkan dapat terpenuhi hanya dengan hitungan detik. Poinnya adalah, lebih efektif, efisien, hemat waktu, tenaga dan juga biaya. Pada titik ini, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita masih memerlukan kantor pos? Bukankah sudah tersedia berbagai macam kemudahan yang ditawarkan oleh HP ataupun juga internet? sehingga kehadiran kantor pos akan tampak sia-sia? Apa yang terjadi disini?

Sebelum berbicara lebih jauh, saya akan memberikan pengertian dari kantor pos dahulu, supaya ada kesamaan visi dan patokan yang jelas. Menurut KBBI, kantor pos disini berarti: jawatan yang menyelenggarakan kirim-mengirim barang, surat, uang, dsb; kantor tempat kirim-mengirim surat, uang, dsb. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kantor pos yang dimaksut dalam tulisan ini mengarah kepada kantor sebagai tempat untuk kirim-mengirim surat, uang, dsb.

Kantor peninggalan Belanda tersebut, sejak awal berdiri hingga kini memang diperuntukkan sebagai kantor pos (untuk kirim-mengirim surat, barang, uang, dsb). Tak hanya secara fungsional saja yang sama, namun juga secara fisik, bentuk bangunannya masih menggambarkan bangunan gaya Eropa, dengan aksen tiang-tiang tingginya, dan gedung kokohnya. Keaslian dari peninggalan sejarah itu masih tetap dipertahankan, dan tidak dirubah sedikitpun.

Saksi sejarah yang hingga kini masih difungsikan sebagai gedung Kantor Pos ini, mempunyai peran yang cukup penting, terutama ketika tradisi tulis mulai berkembang pesat di kota Jogjakarta. Hingga sekarang, kantor pos ini pun masih tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat Yogyakarta khususnya, dalam hal jasa penyampaian informasi ataupun barang dan uang. Baik pada zaman dahulu, ketika pada masa awal berdiri, hingga sekarang saat Indonesia telah merdeka, kantor pos tetap konsisten dalam pelayanannya.

Perangkat pos pun tak berupah, dimana sejak zaman Belanda hingga sekarang, ketika kita akan berkirim surat, maka kita perlu perangko, cap pos, amplop, materai dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan penulisan alamat dan tata letaknya tak berubah dari tahun ke tahun. Bahkan, cap pos yang digunakan ketika masa awal kantor pos ini berdiri, masih digunakan hingga sekarang.

Hal tersebut sesuai dengan konsep prinsip proses milik Whitehead, yaitu disebut proses mikroskopis. Proses mikroskopis adalah proses menjadi satu satuan aktual, suatu unit individu dengan aktualitas tertentu, dari banyak data-data objektif warisan masa lalu yang mengkondisi proses tersebut (Whitehead, 1991 :37). Jadi dapat disimpulkan, bahwa kantor pos dapat menjadi seperti sekarang ini, merupakan hasil dari pengalaman masa lampau, yang terus dilakukan dalam suatu proses yang panjang, hingga akhirnya tetap konsisten hingga sekarang, dan membentuk citra/image kantor pos seperti sekarang. Yaitu, menjadi sebuah kantor tempat kirim-mengirim surat, uang ataupun barang, dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati tanpa pandang bulu.
Namun, terlepas dari itu semua, kantor pos tidak bersifat statis, namun dinamis. Dimana kantor pos Yogyakarta mengambil langkah cepat dan tepat dalam menghadapi terpaan kemajuan teknologi dan budaya audiovisual yang kini telah akrab bagi masyarakat. Hal tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman. Sehingga dalam hal ini kantor pos merubah sistem pelayanannya, dari yang semua manual, namun kini juga dengan media online dan komputerisasi. Hal tersebut tetap berdasar pada visi dan misi kantor pos yang selalu menjadi pedoman, yaitu melayani masyarakat, dan memudahkan transaksi, dan memberikan perhatian tulus kepada masyarakat.

Hal tersebut sesuai dengan konsep prinsip proses milik Whitehead, yaitu disebut proses makroskopis. Proses makroskopis adalah proses perubahan dari satu atuan aktual yang sudah mencapai kepenuhan, ke proses menjadi datum bagi munculnya satuan aktual yang baru. (Whitehead, 1991:38). Jadi dapat disimpulkan, bahwa kantor pos tidak hanya statis, atau mandeg, namun terus bergerak dan berubah dalam suatu proses evolusi yang tak kunjung henti.

Kantor pos Yogyakarta yang juga merupakan bagian dari realitas yang ada di dunia ini, juga tak lepas dari proses perubahan mengikuti perkembangan zaman, terbentuk melalui sebuah proses yang cukup panjang dan waktu yang lama. Namun, kita harus tahu bahwa hal tersebut tidak hanya berhenti di sini. Masih akan selalu ada proses yang lebih unik dan khas di kemudian hari, yaitu dimungkinkan bahwa kantor pos yang kita kenal sekarang, akan berubah dari waktu ke waktu, mengikuti perkembangan zaman. Semoga segala kemajuan dan perkembangan perdaban manusia, tidak membawa kehancuran, namun membawa kesejahteraan dan harapan baru bagi masa depan.

Menari Adalah Hidup Bagi Kami

(Diambil dari tulisan saya di majalah PASTI 2010)
Tubuhnya melenggak-lenggok mengikuti alunan musik. Baju dan dandanan khas yang mereka kenakan menggambarkan kegagahan dan keangkuhan. Siapa sangka, di balik topeng dan dandanan gagahnya, terselip suatu kisah hidup yang elok dan patut untuk di tilik.
            Di sinilah mereka berkarya, bukan di panggung pertunjukan yang megah dan berAC, namun hanya di perempatan jalan yang penuh polusi dan teramat panas. Tidak ada tepuk tangan riuh penonton yang mengelu-elukan mereka, yang ada hanya raut muka tak bersahabat dari para pengguna jalan. Walaupun demikian, mereka akan terus menari, tak peduli peluh keringat yang terus mengalir, tak peduli perut yang sudah mulai keroncongan, adalah karena mereka merupakan kepala keluarga yang harus bertanggung jawab dan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, karena mereka ingin turut melestarikan budaya, dan karena mereka adalah para penari Jathilan.
            “Kami melakukanya dengan senang, kami mencintai pekerjaan ini.”Jawab Sukir sambil tersenyum, saat di tanya alasan dia tetap bertahan menjadi penari Jathilan. Laki-laki 35 tahun ini merupakan salah satu penari Jathilan yang berasal dari Bojonegoro, Temanggung, yang mencoba peruntungan menjadi penari Jathilan di Jogja. Ia sudah satu tahun bertahan menjadi penari Jathilan jalanan, bersama Budi, adiknya, dan Widi, tetangganya yang baru berusia 19 tahun.
            Kos-kosan kecil berukuran 3x4 meter, di daerah Ketandan, yang mereka tempati seakan menggambarkan penghasilan mereka sebagai penari Jathilan jalanan tak seberapa. Kamar kos yang di sewa seratus lima puluh ribu rupiah sebulan itu mereka tempati bertiga. Di ruangan sempit itu penuh dengan kostum-kostum dan peralatan tari mereka yang di gantung di dinding dan sebagian di letakkan begitu saja di pojok ruangan. Tidak ada radio, TV, atupun barang-barang mewah lainnya, bahkan kasur dan bantalpun tak ada. Mereka hanya tidur beralaskan karpet tipis berwarna biru yang sudah berlubang di sana-sini.
            “Ya beginilah kami. Hidup serba pas-pasan. Tapi kami tetap bersyukur bisa mencari uang halal dengan menari Jathilan di perempatan jalan.”Ungkap Budi.
Dalam sehari, pendapatan bersih mereka menjadi penari Jathilan adalan tiga puluh ribu rupiah. Walaupun kecil dan sangat pas-pasan untuk mencukupi kehidupan keluarga mereka di Temanggung, namun mereka hanya ingin menunjukkan bahwa kesenian mereka belum mati, mereka masih ada, meskipun hanya di pertontonkan di jalanan.
Jathilan sudah menjadi bagian hidup Sukir, Budi, dan Widi. Sejak dari kecil mereka sudah bisa menari Jathilan. Warga Temanggung ini juga mengikuti perkumpulan tari Jathilan di Desanya. Di daerah Temanggung tarian tersebut memang bukan hal yang asing lagi. Jathilan diminati oleh semua usia, dari anak kecil hingga orang tua. Namun di daerah tersebut, Jathilan tidak untuk tujuan komersial, hanya sebatas untuk mengisi acara-acara adat seperti tahun baru Jawa, perayaan 17-an, dan juga bersih desa.
Karena di Temanggung tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, dan penghasilan yang memadai, maka Sukir mempunyai ide untuk merantau ke Jogja, dan mencari uang sebagai penari Jathilan di perampatan jalan.
“Waktu itu saya yakin, kalau di Jogja kami pasti bisa mendapat penghasilan lebih. Keluarga kami pun mendukung niat kami untuk bekerja sebagai penari Jathilan di kota Jogja.”Kata Sukir lagi.
Kenyataannya, semua tidak semudah yang mereka bayangkan. Pekerjaan sebagai penari Jathilan jalanan di Jogja mempunyai banyak resiko, selain persaingan dengan sesama penari, juga ‘kucing-kucingan’ dengan para  satuan polisi pamong praja (satpol-pp) sangat merepotkan dan membuat was-was.
Bagaimana tidak, sudah beberapa kali Sukir tertangkap oleh satpol pp saat dirinya sedang menari di perempatan jalan. Tidak hanya denda kurungan satu hari, namun juga peralatan Jathilan, seperti kendang dan kenong juga di sita oleh polisi pamong praja.
“Kami tahu kami salah, karena seharusnya kami memang tidak boleh menari di perempatan jalan, tapi mau gimana lagi, selain menari Jathilan, kami tidak punya keahlian apa-apa lagi. Wong kami Cuma lulusan SD.”Budi, laki-laki tinggi berkulit hitam itu mengungkapkan.
Belajar dari pengalaman, mereka kini lebih berhati-hati saat menari Jathilan di perempatan jalan. Ketika polisi pamong praja mulai menjalankan tugas ‘mulianya’, yaitu membersihkan jalan dari pengamen jalanan dan pengemis, kira-kira sekitar pukul 11 siang hingga pukul 12, Sukir, Budi dan Widi tidak menari di jalan. Mereka menggunakan waktu itu untuk makan siang dan mengumpulkan energi.
Sedangkan untuk persaingan, di Jogja sendiri sudah banyak penari Jathilan di perempatan jalan. Mereka biasanya menari di perempatan Janti, Giwangan, Gejayan, dan Maguoharjo. “Pernah kami selama satu hari tidak mendapatkan penghasilan sama sekali, karena sudah keduluan penari lain. Ya sudah, karena di setiap perempatan sudah ada penarinya semua, akhirnya kami pulang tanpa hasil apa-apa.”Kata Sukir sambil merubah posisi  duduknya.
Pahit-manisnya menjadi penari Jathilan jalanan akan menjadi warna bagi kehidupan Sukir, Budi dan Widi. Walaupun pendapatannya tidak seberapa, namun mereka tetap menjalankan pekarjaan ini dengan senyuman. “ Buat kami, rejeki sudah ada yang ngatur, jadi kerjaan apa aja juga sama saja bagi kami, semua ada baik dan buruknya. Termasuk nari Jathilan, dinikmatin saja, karena menari adalah hidup bagi kami.”Widi menambahkan.
Dan pagi ini, tepat pukul 6 mereka sudah mulai merias wajah dan bersiap untuk menari di perempatan jalan. Tidak ada sarapan pagi, kopi ataupun teh hangat sebagai penyemangat pagi. Mereka harus cepat-cepat berangkat agar tempat tidak di dahului oleh penari Jathilan yang lainnya. Sekitar pukul delapan, mereka selesai berdandan, dan dengan bis kota mereka menuju perempatan Janti, untuk tujuan hari ini. Kurang lebih sekitar delapan jam mereka akan membawakan tari Jathilan di perempatan padat kendaraan itu, dengan harapan “Hari ini kami bisa mendapat lebih banyak rejeki dari pada hari kemarin.”Kata Widi dengan pandangan menerawang.

Gua Sejuta Keindahan

(Diambil dari tulisan saya di majalah PASTI 2009)
Apa yang ada di benak anda saat mendengar kata Gua? Mungkin anda langsung membayangkan sebuah tempat yang sunyi, gelap dan menakutkan. Namun, Gua ini sangat berbeda dengan gua pada umumnya. Tempatnya jauh dari kesan seram dan menakutkan, tetapi justru cantik dan mengesankan. Gua tersebut bernama Gua Selarong.
Tempat wisata yang mempunyai luas sekitar 1,5 hektar ini terletak di dukuh Putihan, kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, sekitar 14 km arah Selatan kota Yogyakarta. Gua yang eksotik ini berada di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari objek tersebut.
 Obyek wisata Gua Selarong menawarkan wisata alam sekaligus wisata sejarah. Merupakan wisata alam karena tempat ini menawarkan keindahan alam yang masih alami, terletak di puncak bukit dengan pemandangan alam yang indah dan udara bersih, dipadukan dengan gemericik air terjun yang airnya masih jernih. Sedangkan wisata sejarah, karena tempat ini dahulu merupakan markas perang Pangeran Diponegoro, yang merupakan pahlawan paling populer di Nusantara ( surve Metro TV). Maka tak heran, jika tempat wisata ini begitu diminati oleh para wisatawan, terutama para wisatawan asing.
Para wisatawan tidak hanya dapat berziarah saja di tempat ini, namun juga dapat berkemping, aoutbond, melihat diorama yang menceritakan perjuangan Diponegoro, atau hanya sekedar menikmati keindahan alam sambil bermain air, di air terjun yang juga terdapat di tempat tersebut. Hanya dengan membayar tiket 2000 rupiah saja, kita dapat belajar, berziarah,sekaligus merilekskan pikiran kita dengan menikmati keindahan alam di obyek wisata Gua Selarong ini.
Karena terletak di atas bukit, maka untuk sampai di depan Gua dan di air terjun, kita harus menaiki beberapa anak tangga. Jumlah anak tangga tersebut tidak dapat di hitung secara pasti, ada yang menyebutkan 80 anak tangga, ada juga yang menyebutkan 100 anak tangga, atau bahkan hanya 50 anak tangga. Memang aneh, boleh percaya atau tidak, setiap orang yang mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga yang dilewati tersebut, pasti antara orang yang satu dan lainnya mempunya jumlah yang berbeda-beda. Konon katanya, semakin banyak jumlah anak tangga yang kita hitung maka semakin banyak rejeki kita.
Setelah kita menaiki beberapa anak tangga tersebut, maka sampai di atas kita akan menemukan 2 buah gua, yaitu Gua kakung (3.2.1,5 m), dan gua putri (12.10.1,5 m). Gua Kakung merupakan gua dimana Diponegoro dan para prajuritnya mengatur siasat perang, sedangkan gua Putri adalah tempat para istri prajurit tinggal. Disamping kanan gua putri ada sebuah air terjun yang jernih, dipercaya air tersebut dapat menghilangkan rasa capek, dan menyembuhkan bermacam penyakit. Kemudian jika kita berjalan ke arah Timur, dari air terjun tersebut, terdapat pula jalan setapak yang di tumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari tempat tersebut.
Jika sudah puas berjalan-jalan di areal atas, maka kita juga wajib mencicipi obyek di areal bawah. Yaitu, terdapat diorama, camping graund, dan juga tempat untuk outbound.
            Jika dari arah atas, maka sebelum ke camping graud, kita akan melewati sebuah bangunan bercat putih, yang tidak terlalu besar dan berjendela banyak. Tempat tersebut adalah diorama. Di dalam diorama terdapat beberapa lukisan raksasa yang menggambarkan kegigihan Diponegoro saat berperang melawan Belanda. Walaupun agak kotor karena kurang terawat, namun tempat ini masih menyimpan daya tarik tersendiri. Terutama pada lukisan Diponegoro yang menunggangi kuda dan menghabisi para tentara Belanda dengan pedang andalannya, benar-benar terlihat seperti nyata.
            Tepat di samping diorama, terdapat mainan anak-anak, yaitu beberapa perosoran dan ayunan. Selain itu juga tempat tempat outbound. Sangat cocok bagi para petualang yang menyukai tantangan. Tempatnya cukup luas, dan terdapat beberapa permainan khas outbound, seperti flaying fox dan juga jaring spider.
            Selanjutnya di areal paling bawah, yang letaknya dekat dengan sungai adalah camping ground. Tempat ini sering di sewa untuk tempat camping, terutama oleh anak-anak Pramuka baik dari SD, SMP ataupun SMA. Jika berminat untuk camping di tempat ini, jangan takut akan kesulitan untuk mendapatkan air, karena selain tempatnya cukup lapang, areal camping ini juga terletak di dekat sungai yang airnya masih jernih. Kamar mandi pun juga tersedia khusus untuk para peserta camping. Walaupun terletak di dekat sungai, jangan takut kebanjiran, karena walaupun musim hujan sekalipun, sungai di tempat tersebut tidak akan meluap airnya, karena sungai tersebut bersih dari sampah, dan juga terdapat pohon-pohon yang tumbuh di sekitar sungai, sehingga penyerapan air hujan menjadi lancar.
Tempat wisata ini memang unik, karena tidak hanya menawarkan satu obyek saja, melainkan bermacam-macam obyek, sehingga wisatawan tidak bosan di tempat tersebut.
Selain hal-hal yang sudah di sebutkan diatas, Gua Selarong juga kental dengan nilai budaya Terutama untuk masyarakat kejawen. Biasanya di tempat ini, para penganut
Kepercayaan kejawen setiap malam tertentu(Selasa Keliwon, atau Jumat Kliwon), berkunjung ke tempat ini dan menaburkan kembang tujuh rupa. Mereka masih menyakini bahwa Diponegoro masih bersemayam di tempat tersebut.
Puncaknya, setiap bulan Juli Gua Selarong semakin di padati oleh para wisatawan, karena di tempat ini dilaksanakan Grebeg Selarong. Yaitu ritual untuk memperingati Hijrah Pangeran Diponegoro dari Tegal Rejo. Acara Grebeg ini diikuti oleh para masyarakat sekitar daerah tersebut, dengan cara mengarak tumpeng sebanyak 1000 dari desa Balai Sari menuju Gua Selarong.
Jika dilihat dari latar belakang sejarahnya, dapat di ceritakan demikian. Di masa lampau, gua ini bernama Gua Secang, karena sering digunakan oleh kyai Secang untuk bertapa. Namun setelah digunakan oleh Pangeran Diponegoro, Gua ini berubah nama menjadi Gua Selarong, yang berasal dari kata Sila dan Rong (digunakan Diponegoro untuk bersemedi).
Pangeran Diponegoro pindah ke Gua Selarong setelah rumahnya di Tegal Rejo diserang dan di bakar habis oleh Belanda. Kemudian Diponegoro menggunakan Gua Selarong sebagai markas Gerilya bersama para prajuritnya (1825-1830).
Sejak tahun 1954, Pemerintah Kota Bantul menjadikan Gua Selarong sebagai obyek wisata sejarah. Sejak saat itulah Gua Selarong semakin menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke tempat wisata tersebut. Menurut Bp. Mursidi, pengelola tempat wisata ini, jumlah pengunjung tiap tahunnya rata-rata sebanyak 29.000 pengunjung.
Di sekitar gua selarong juga terdapat sentral kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan hiasan-hiasan rumah tangga lainnya. Jadi selain berwisata, kita juga dapat berbelanja barang-barang kerajinan yang khas dari daerah tersebut untuk oleh-oleh ataupun kenang-kenangan.
Jadi, Jika anda bosan dengan obyek-obyek wisata di kota Jogjakarta dan menginginkan sesuatu yang baru, maka tidak ada salahnya jika anda dan teman-teman, pacar atau keluarga berkunjung ke objek wisata Gua Selarong. Obyek wisata yang unik dan kental dengan nilai sejarah ini, dapat dijadikan sebagai obyek wisata alternatif anda bersama keluarga atau teman-teman anda. Selamat berkujung!

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...