Showing posts with label Note about Life. Show all posts
Showing posts with label Note about Life. Show all posts

Friday, 5 November 2021

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)

 


Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusia-manusia yang punya predikat ‘orang yang selalu beruntung’, yang katanya tanpa banyak berusaha namun punya hidup yang mujur. Hidupnya lancar seperti jalan tol, selalu dimudahkan jalannya, yang rasanya gak pernah punya jejak-jejak kesusahan dalam hidupnya. We all know that kind of guy, the one who has that beautiful job, has that beautiful wife, beautiful car and that amazing life, yang sepertinya memiliki hidup too good to be true. Kemudian kita akan bertanya, kok dia bisa seberuntung itu? bagaimana cara mendapatkan keberuntungan? Is that a God power? is that an untouchable energy, or a nature scientific power? Absolutely not!

Ada beberapa orang menilai keberuntungan itu adalah berkat dari Tuhan, yang merupakan buah dari budi baik kita. Namun ada juga yang berpandangan, bahwa keberuntungan itu hanya kebetulan kita terima dan diluar kendali kita.

Lucius Annaeus Seneca seorang filsuf Stoik Romawi, mengungkapkan bahwa keberuntungan itu sesungguhnya memiliki rumus matematika, dan setiap manusia bisa meraih keberuntungan itu. Menurut Seneca, keberuntungan adalah hasil kulminasi pertemuan antara kesiapan dan kesempatan (opportunity+preparation=luck).

Pendapat Seneca ada benarnya, bahwa memang tidak ada satupun yang kebetulan di dunia, termasuk keberuntungan. Ketika kita merasa beruntung, entah tiba-tiba mendapatkan promosi jabatan di kantor, berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, berhasil mendapatkan hati cowok atau cewek idaman, berhasil memenangkan lomba-lomba bergensi, dan lain sebagainya, keberuntungan itu tidak akan terjadi apabila kesempatan sudah datang, namun kita belum siap menerimanya. Ada kesempatan namun belum ada kesiapan ya percuma, keberuntungan tidak akan terwujud.

Richard Wiseman, profesor psikologi dari Inggris telah melakukan penelitian, bahwa keberuntungan itu ternyata berpola. Jadi, sebenarnya keberuntungan itu akan melekat pada seseorang yang memiliki pola sifat dan sikap tertentu. Sikap yang dimaksud di sini adalah, sikap dalam menjalani dan merespon keadaan yang terjadi di kehidupannya. Itulah tahap untuk preparation (kesiapan). Preparation sendiri tidak bisa dilakukan dalam sekejab, namun juga membutuhkan proses.

Dalam penelitian ini, orang-orang beruntung memiliki skor lebih tinggi dalam sikap keterbukaan, tidak menutup diri dan komunikatif dengan dunia luar, serta memperoleh kepuasan dengan hal tersebut (exstroversi). Dan sederhananya adalah mereka (orang beruntung) tersenyum dua kali lebih sering kepada orang lain, menyapa dengan melibatkan kontak mata. Menurut penelitian ini, mereka yang seperti itulah yang mampu memanggil keberuntungan mendekat. Karena seseorang dengan sikap yang terbuka dan senang dengan bersosialisasi dengan orang banyak semakin memperbesar kesempatan untuk beruntung.

Dapat disimpulkan bahwa, mereka yang merasa beruntung mempunyai ekspektasi yang positif dan optimis dalam menghadapi hidup. Dalam situasi sesulit apapun, mereka akan mampu menemukan jalan keluar karena sikap optimismenya. Dan sikap tersebut akan membuat hidup mereka lebih bahagia. Seperti halnya formula keberuntungan dari Seneca bahwa keberuntungan adalah hasil dari pertemuan kesiapan dan kesempatan, maka ketika ada kesempatan, kita yang memiliki sifat positif dan optimis dalam menjalani hidup ini akan mampu menjemput keberuntungan itu.

In my opinion luck is made. Jika kita ingin meningkatkan probabilitas keberuntungan kita, sebaiknya perlu mengubah beberapa kebiasaan negatif (apabila masih ada), changes such as : stop being critical, eliminate complaining, be a contribution to others, look to see how you can help people around you, be disciplined with yourself, set goals and get moving on them, always be in action and never let fear stop you.


So, the best luck of all is the luck you make for yourself . Luck isn't just about being at the right place at the right time with the right man, but also about being open to and ready for new opportunities, that attracts lucky circumstances, and luck will naturally follow you.

             

Thursday, 20 May 2021

Berjalan, Bukan Berlari

 

Latihlah diriku, supaya langkah-langkahku seirama dengan Engkau dan kehendak-Mu

Oleh : Paulina Damayanti

 

Ada yang pernah ikut olah raga racewalking atau jalan cepat? aku pernah mencoba ikut olah raga ini, dan ternyata tidak semudah yang ku bayangkan sebelumnya. Olah raga jalan cepat ini berbeda dengan lari atau jogging, kita harus berjalan dengan lengan dan kaki terayun bergantian, bergerak maju dengan melangkah. Setiap kali kita melangkah, kaki depan harus menyentuh tanah sebelum kaki belakang meninggalkan tanah. Begitulah kira-kira peraturannya. Sebetulnya tekniknya tidak terlalu sulit, yang sulit bagiku adalah menahan diri untuk tetap berjalan dan tidak berlari. Jalan cepat jenis ini memang melibatkan teknik-teknik yang sengaja dibatasi untuk mengekang keinginan alamiah tubuh untuk berlari.

Aku yang memiliki karakter serba terburu-buru dan tidak sabaran, sering kali gagal saat melakukan olah raga racewalking jarak jauh, karena bukannya jalan cepat namun malah berlari agar cepat sampai di garis finish. Meski kesannya mudah hanya berjalan ratusan meter, namun tidak demikian, jalan cepat juga membutuhkan energi, fokus, dan kekuatan, terlebih lagi kita harus melatih kesabaran dan mengendalikan diri kita untuk tetap berjalan. Kekuatan yang terkendali itulah intinya.

Dari racewalking, aku dapat belajar sesuatu, bagaimana cara mengekang keinginan alamiah tubuh untuk ‘berlari’, agar cepat sampai di ‘tujuan hidup’ kita, untuk cepat mendapatkan apa yang kita inginkan. Di dunia yang serba cepat ini, seringkali kita pun menjadi tidak sabaran untuk mendapatkan segala sesuatu, pun ketika sedang mendapatkan ujian dari Tuhan, kita menjadi tidak sabaran, dan ingin agar berbagai pergumulan, ujian, dan masalah kita cepat berlalu, selesai, sesuai dengan kehendak kita.

Terkadang Tuhan memang mengijinkan kita menempuh jalan yang panjang dalam hidup ini, entah dalam hal karier, rencana pernikahan, punya momongan, atau hal-hal lainnya, supaya kita lebih siap melakukan perjalanan di depannya nanti.

Ada satu kalimat dari romo Carolus Putranto, saat memberikan homilinya di Katedral Jakarta, yang sampai sekarang masih aku ingat, terlebih ketika sedang menghadapi masa-masa sulit, kira-kira begini isi kalimatnya :

Melalui masa sulit, Allah memberikan suatu pedagogi ilahi, suatu pendidikan, cara mendidik menurut kehendak Allah. Melalui masa-masa paling kelam, kita diajak untuk menggantungkan sepenuhnya harapan kita hanya kepada Allah. Tuhan hendak menyatakan kepada kita batas-batas kemampuan kita sebagai manusia, batas di mana akal budi kita berhenti, dan Tuhan meminta iman kita yang bekerja pada saat ini.

Saat iman kita goyah karena menghadapi kesulitan yang sangat berat, Tuhan sepertinya tidak setia. Akan tetapi, inilah cara Tuhan menguatkan iman kita, yaitu ketika kita menang melawan godaan untuk menyangsikan Tuhan. Itulah iman, yaitu mampu berharap ketika seolah olah tiada lagi alasan untuk berharap.

Ketika kita merasa banyak hal berjalan terlalu lambat dan melelahkan, kita dapat mempercayai Tuhan. Karena Tuhan maha mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. Sama seperti mengizinkan lengan, kaki, dan telapak kaki dikendalikan oleh pikiran seorang pejalan cepat, menjadi penting bagi kita untuk mengendalikan diri terhadap kecenderungan kita mendahului Allah. Tidak perlu lelah ‘berlari’, sesungguhnya yang perlu kita lakukan hanyalah ‘berjalan’, dan biarkan Allah yang akan mengendalikan dan mengarahkan kita. Have faith in His plan. God’s got you!

Thursday, 11 February 2021

Cooking and Healing

 

I’m learning to appreciate quarantine and PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) by trying out new things, dan memasak adalah pilihanku.

 

Pandemic covid19 yang berkepanjangan dan PSBB (Pembatasan Social Berskala Besar) yang seakan tak berujung, memaksa kita untuk lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Banyak hal-hal kreatif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang di rumah, agar tetap produktif.

Pun demikian halnya denganku, tidak terbayang sebelumnya, aku yang dari dulu jarang masuk dapur, tapi akhir-akhir ini betah berlama-lama di dapur untuk memasak, mencoba resep-resep baru di cookpad, dan belajar bermacam-macam teknik memasak mulai dari memanggang, menumis, menyangrai, ataupun mengukus.

Mungkin bagi sebagian orang, memasak itu sulit, memakan waktu dan hasilnya tidak sepadan. Padahal menurutku, memasak juga bisa menjadi sumber kebahagiaan yang besar dan menjadi terapi untuk menghilangkan stress.

Ketika aku mengalami hari yang berat entah di pekerjaan atau masalah lain, akan sangat membantu ketika aku memilih untuk memasak, mulai dari memotong sayuran, meracik bumbu, mencincang daging, menggabungkan rasa hingga mengubahnya menjadi sesuatu yang enak. Aktivitas tersebut dapat mengalihkan pikiran dari hal-hal yang memusingkan dan menyalurkan perhatian kepada persiapan membuat hidangan. Selain itu, aroma masakan juga  membuat pikiran menjadi tenang dan dapat memberikan rasa puas pada diri sendiri (self-rewarding).

Kita tidak harus punya skill atau ahli dalam memasak, dengan memasak menu-menu sederhana, seperti menumis, membuat puding buah, membuat scrambled egg ataupun pancake, namun hasil kreasi masakan kita tetap memudahkan kita mencapai self rewarding. Kegiatan ini juga dapat melatih kemampuan berpikir dan meningkatkan kreativitas seseorang.

Memasak juga secara gak langsung menumbuhkan kedisiplinan, karena kita dengan sengaja setiap harinya bangun pagi untuk menyiapkan bahan makanan, mengolahnya hingga siap disajikan. Hal ini diperlukan agar kita dapat menyajikan makanan tepat waktu dan membuatnya tersaji dengan tepat di meja makan.

Itulah beberapa manfaat memasak, hobi baru yang aku lakukan selama pandemic ini. Satu hal yang selama ini masih bikin aku gak nyaman selama memasak, aku belum bisa menaklukkan bawang merah, masih suka bercucuran air mata setiap kali mengupas bawang merah.. Hmm… One day, I’m gonna make the onions cry. Lol.

Thursday, 25 October 2018

Welcome to Society

Welcome to society. We hope you enjoy your stay, and please feel free to be yourself. As long as it's in the right way. Make sure you love your body, not to much or we'll tear your down, We'll bully you for smiling, And then wonder why you frown (Kim Santiago)



Pernah gak sih kita mendapat komentar dari seseorang, “eh…kok lo gendutan sih sekarang? Anak gadis gak boleh gendut-gendut. Harus dikontrol makannya.” atau “Ih, kenapa potong rambut? Cewek kan lebih cantik kalau rambut panjang.” Stereotipe tentang perempuan cantik di Indonesia seringkali diidentikan sebagai perempuan yang memiliki tubuh langsing, rambut panjang dan kulit putih. Karenanya gak heran kalau wanita berlomba-lomba melakukan segala cara, mulai dari diet ketat, olah raga, rajin ke salon, agar  lulus mendapat predikat ‘cantik’ di mata masyarakat luas.  
Dari mana berbagai stereotipe tentang perempuan muncul? stereotipe muncul dan dikonstruksikan oleh lingkungan kita. Perempuan memang tak pernah lepas dari penilaian, dari konstruksi. Konstruksi ini pun merasuk dalam seni dan kebudayaan sehari-hari. Masih ingat lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci? Lukisan tersebut merupakan salah satu konstruksi perempuan pada masa Revolusi Industri. Sedangkan pada jaman modern ini konstruksi citra perempuan tergambar nyata dalam boneka Barbie, langsing, kaki jenjang, rambut panjang dan fashionable.
Berbagai macam produk kebudayaan dan seni, memproyeksikan pola pikir masyarakat pada tubuh perempuan. Pada rambut yang harus lurus dan panjang, pada mata yang harus lentik, pada bibir yang harus memerah ranum dan pada tubuh yang harus tinggi dan langsing. Nah, berbagai stereotipe terhadap perempuan tersebut kemudian dibesarkan oleh industri media.
Media menjadi alat yang sempurna untuk menyebarkan hegemoni sang penguasa kepada masyarakat. Siapa penguasa yang dimaksud? Pemilik modal, pengusaha berbagai macam produk-produk kecantikan, obat pelangsing, pemutih kulit, berbagai macam alat pelurus/pengriting rambut, dan masih banyak lagi bisnis di dalamnya. Althusser menyatakan bahwa media dalam konteks ideologi modern sebagai ideology state apparatus. Dalam hal ini media tidak hanya bersifat persuasif tetapi juga sebagai media propaganda yang melegitimasi fungsi dan ideology tertentu. Berarti media juga berperan mentransfer ideologi dominan terhadap kelompok sosial dominan.
Stereotipe yang telah dibesarkan oleh media yang melekat pada perempuan ini kemudian menimbulkan sejumlah persoalan baru yang terjadi di masyarakat. Misalnya, perempuan mengalami berbagai hambatan karena nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat membatasi akses dan kesempatannya. Stereotipe ini melestarikan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, dan industri media kita merupakan propagandis terdepan dalam mengkampanyekan stereotipe tersebut.
Akibat terburuk dari stereotipe yang berkisar dalam hal kecantikan adalah, membuat perempuan membenci tubuhnya. Para perempuan membenci wajahnya yang kurang cantik, kakinya yang kurang panjang dan tubuhnya yang terlalu gemuk. Akibatnya, perempuan menjadi pemimpi—ingin berubah wujud menjadi tubuh yang diinginkan industri. Karena prasyarat cantik inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan identitas seseorang.
Dari keprihatinan dengan semakin banyaknya iklan ataupun media massa yang mengeksploitasi perempuan, maka muncullah gerakan di media sosial sebagai supporting campaign bagi perempuan di seluruh dunia untuk melawan eksploitasi perempuan dalam iklan dan media massa, yaitu : #notbuyingit
Dengan # (tanda tagar/hashtag) notbuyingit di media sosial twitter dan instagram, kampanye ini menyuarakan ketidaksetaraan gender, stereotipe dan diskriminasi terhadap perempuan dalam promosi atau iklan dengan mengobjektifitasikan tubuh wanita. Gerakan kampanye dengan tagar ini berhasil mencegah beberapa perusahaan (termasuk di Indonesia) untuk membuat iklan dengan mengobjektifikasi tubuh wanita.
Seperti halnya puisi Kim Santiago diatas, Make sure you love your body, not to much or they'll tear your down. Kita harus mencintai diri kita sendiri, harus mampu menjadi diri kita sendiri dan berkarakter. Jangan sampai stereotipe yang berkisar tentang kecantikan tersebut membuat kita membenci tubuh kita sendiri, dan mati-matian merubah diri kita menjadi apa yang dikonstruksikan oleh media dan lingkungan. Ingatlah bahwa setiap perempuan diciptakan cantik adanya, yang terpenting adalah, kita harus memiliki behavior yang bagus, berpendidikan, rajin olah raga dan menjaga kesehatan, otomatis kecantikan dari dalam akan terpancar dengan sendirinya.

Thursday, 18 October 2018

Perempuan dan Stereotipe Gender


Tinggal di kota besar dan lingkungan yang modern ternyata tidak menjamin pemikiran orang-orang di dalamnya juga maju, justru masih banyak yang memiliki stereotip konservatif di dalamnya. Overheard meja sebelah saat makan siang di sebuah restoran daerah Jakarta Pusat, “Perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi lah, apalagi ngejar karier. Nanti habis nikah juga tinggal di rumah, urus keluarga.” Kata seorang pria di meja sebelah, sambil tertawa. Pernahkah orang sekitarmu mengatakan hal tersebut? Kalau pernah, berarti lingkunganmu masih memiliki stereotipe konservatif mengenai perempuan.  
Tidak dapat dipungkiri bahwa hingga saat ini, perempuan masih banyak “terkekang” oleh berbagai stereotipe yang ada, tidak hanya di daerah, namun di kota-kota besar yang notabene masyarakatnya lebih modern ternyata masih juga memiliki stereotipe yang salah mengenai perempuan.
Kapan perempuan pertama kali mendapatkan stereotipe? sebagai orang yang mudah menangis, lemah, tidak mandiri, tidak perlu karier dan pendidikan tinggi? Sejak ia lahir dan mengenal lingkungannya, atau sejak lingkungan membentuknya pada konstruksi hierarki gender yang melekat? Stereotipe ini memproyeksikan pola pikir masyarakat terhadap perempuan.
Beruntung saya dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang sangat demokratis dan jauh dari berbagai stereotipe, saya dibebaskan untuk bersekolah dimanapun sampai tingkat manapun, dan bebas mengajar cita-cita apapun yang saya mau, termasuk masalah pilihan pendamping hidup dan pernikahan.  Namun, berapa banyak perempuan yang seberuntung itu dibesarkan di lingkungan yang terbebas dari berbagai macam stereotipe yang mengekangnya? Saya rasa tidak banyak.
Sebagian besar stereotip menghalangi kaum perempuan menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih berkembang dan bebas menjadi apa yang benar-benar dia inginkan. Sebagai contoh, meski tidak selalu terucap, namun anggapan kalau pendidikan dan karier itu hanya milik lelaki masih cukup kuat di Indonesia. Sementara perempuan nantinya akan mengurus rumah tangga yang artinya tidak perlu bersusah payah membangun karier. Lalu apakah anggapan tersebut benar? Tentunya tidak. Sebagai perempuan kamu berhak kok mengejar apapun mimpimu, termasuk soal karier. Entah itu bekerja di perusahaan besar, menjadi pekerja seni, entrepreneur, dan profesi lainnya selama kamu mau. Asalkan kamu mau melakukan tindakan nyata, karier cemerlang tak hanya jadi milik laki-laki tapi juga perempuan.
Gimana dengan Pendidikan? Well, menurut saya pendidikan itu jauh lebih penting dari apapun. Bukan cuma untuk mengejar karir. Pendidikan tinggi itu berguna membantumu mencari solusi saat ada masalah, mendidik anak, atau menolong lingkungan sekitar melakukan perubahan. Jadi terlepas akan berkarir atau tidak, pendidikan yang memadai wajib untuk setiap perempuan.
Sebagai penutup, saya ingat ayah saya pernah berpesan kepada saya seperti ini, “Mungkin dunia akan memandang kamu sebelah mata karena kamu perempuan, tapi yakinlah kamu lebih hebat dari apapun yang mereka pikirkan tentang kamu. Make me proud, even you are a woman. Don’t let people tell you who you are and who you can be.”


Monday, 4 May 2015

Filosofi Rok Mini dan Make-Up

Tas, high heels, pakaian, assesoris dan kosmetik sudah menjadi bagian dari gaya hidup wanita modern di seluruh dunia. Pusat-pusat mode dunia seperti Paris, London, dan Milan dengan para perancang busananya seperti Donatella Versace, Domenico Dolce dan Stefano Gabbana, Marc Jacob, Giorgio Armani, Christian Dior, Valentino Garavani, Tom Ford, Ralph Lauren selalu menciptakan beragam model fashion terbaru di setiap musimnya. Berbagai model tas, sepatu dan pakain tersebut ada bukan muncul secara tiba-tiba, tapi berkembang dari jaman ke jaman dan memiliki sisi historis dan filosofinya masing-masing.
Kita pasti tahu bahwa fashion dunia lahir dan berkembang di Eropa. Pada abad XV, fashion yang berkembang saat itu adalah model gaun yang bertumpuk-tumpuk, dengan garis bulat melingkar tubuh dan menekankan perhatian utama pada dada (payudara) dan perut, serta di dominasi warna-warna kuat dan terang. Ketika itu perempuan masih dianggap kaum kelas dua dibawah kaum pria. Perempuan hanya dijadikan sebagai obyek seksual pria. Image perempuan cantik masa itu adalah keibuan menjadi tolok ukur kecantikan.
Sekitar tahun 1830-an munculah fashion yang bermaksud hendak melindungi wanita dari cuaca, maka lahirlah korset pada masa itu. Korset sebagai pakaian yang berfungsi sebagai pakaian dalam wanita memang dapat melindungi wanita dari cuaca, tapi dampaknya, si pemakai akan sangat tersiksa dengan ketatnya korset yang mereka pakai. Korset pun sebenarnya memiliki perkembangannya sendiri, di mulai dari korset yang memiliki penyangga dari besi, hingga kemudian berubah menjadi tulang ikan hiu, namun kesemuanya adalah bahan-bahan yang tidak benar-benar membuat wanita merasa nyaman. Pakaian tersebut semakin membatasi gerak wanita. Wanita belum memiliki kesetaraan hak seperti kaum pria, seperti dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Wanita saat itu memiliki peran utama sebagai istri dan ibu rumah tangga, dan tidak diberi kesempatan untuk berkarya di luar rumah.
Pada tahun 1960-an merupakan era revolusi barat, Undang-Undang Hak Sipil di Amerika diberlakukan, perang Vietnam berkecamuk, dan gerakan feminisme untuk kebebasan dan kesetaraan hak perempuan mulai disuarakan dan diperjuangankan oleh para tokoh feminis. Seperti Betty Friedan yang menulis buku berjudul The Feminine Mystique yang mencoba menggambarkan mitos yang mendoktrinasi ibu rumah tangga yang bahagia dan mengungkapkan keinginan perempuan untuk mengembangkan segala potensi diri melalui pendidikan, seni, dan peran di pemerintahaan ataupun parlemen seperti yang bisa dilakukan oleh para kaum pria. Dari berbagai tulisan dan perjuangan para tokoh feminis, maka pada tahuan 60-an tersebut perempuan mulai memiliki peran di luar rumah, baik di universitas maupun di dunia kerja. Gambaran perempuan sebagai seorang istri dan ibu, berubah menjadi seorang gadis yang pintar, mandiri, bangga akan seksualitasnya, dan memiliki kepercayaan diri terhadap potensi yang dimilikinya.
Dari perjuangan kaum feminis tersebut, maka muncullah tren busana baru bagi para perempuan. Adalah Mary Quant (1960), seorang perancang busana paling berpengaruh di London yang mencipkan rok mini (miniskirt). Rok mini diciptakan sebagai simbol kebebasan perempuan dan revolusi desain pakaian masa itu. Pakaian wanita yang sebelumnya bertumpuk-tumpuk dengan korset yang ketat dan membatasi gerak perempuan, berganti menjadi pakaian yang ringan,  seperti miniskirt membuat perempuan lebih leluasa bergerak dan beraktifitas. Image perempuan yang sebelumnya digambarkan lemah, dan hanya menjadi pemuas napsu pria, dengan busana dres bertumpuk, korset ketat dan menonjolkan buah dada dan lekuk tubuh perempuan, telah berganti menjadi busana yang ringan dan modern, sehingga image perempuan berubah menjadi gadis muda, pintar, mandiri, dan tidak dipandang sebelah mata oleh kaun pria.
Seperti halnya rok mini, menurut Hoodfar make up juga merupakan simbol kebebasan perempuan. Make up menjadi alternatif yang digunakan perempuan untuk meningkatkan partisipasinya dalam wilayah publik, baik di dunia kerja ataupun pendidikan. Bahwa sepenuhnya perempuan berhak untuk mempercantik tubuhnya sendiri dan menjadikan dirinya bernilai. Ketika selama ini perempuan dipandang sebagai obyek pemuas napsu pria, dengan lekuk tubuhnya, pinggul dan payudara, maka make up menjadi media untuk mengalihkan mata para pria dari pinggul dan payudara perempuan, sehingga lebih tertarik melihat perempuan dengan makeup di wajah yang cantik dan attitude yang bagus.
Setiap perempuan dengan khasnya memiliki gaya fashion dan make up nya masing-masing, sehingga fashion, mulai dari baju, sepatu, accesoris dan make up yang dikenakan, dapat menentukan kepribadian perempuan tersebut, apakah dia termasuk feminin, tomboy, funky, glamour, menyukai hal-hal vintage, bergaya wanita karier, atau menyukai kegiatan outdoor dan lain sebagainya.

Fashion dan make up yang sekarang berkembang terutama di Indonesia, seharusnya bisa digunakan sesuai filosofi dan semangat awal dahulu, yaitu untuk mendukung perempuan dalam berkarya dan mengembangkan potensinya, dan bukan malah disalahgunakan untuk hal-hal negatif seperti dengan sengaja mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenis. Kebebasan berekspresi dalam berpakaian dan bermake up seharusnya dibarengi dengan attitude yang bagus dan kedewasaan pemakainya, sehingga fashion dan make up semakin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia itu cerdas, cantik dan berbudaya.

Monday, 23 March 2015

LIVE IN THE MOMENT

LIVE IN THE MOMENT

Kamu akan terus bertumbuh dan waktu akan terus berjalan
Tak ada seorang pun yang dapat bersama kita dari awal hingga akhir
Beberapa mungkin akan meninggalkan kita, atau kita meninggalkan mereka
beberapa dapat menangkap pelajaran dari itu,
beberapa hanya bisa meratap dan mengeluh
Kamu akan menemukan hati kamu tersakiti, dan mungkin kamu juga akan menyakiti
Ada kalanya kamu akan berjuang bersama, tertawa dan berbagi
Hingga akhirnya kamu menangis karena waktu berlalu begitu cepat
dan tak ada mereka lagi di samping kita

Hidup tidak ada jaminan,
Tidak ada perpanjangan waktu, tidak ada kesempatan ke dua.
Nikmatilah hidup kamu SAAT INI
Katakan apa yang ingin kamu katakan
Syukuri apa yang telah kamu dapatkan
Cintai orang-orang di sekitarmu,
Peluklah mereka, tertawa bersama, saling memaafkan, saling berbagi, saling mendukung
jangan pernah takut mengambil kesempatan
jangan pernah takut jatuh cinta
dan yang terpenting dari ini semua adalah LIVE IN THE MOMENT
Karena ketika sedetik kamu bersedih atau marah,
maka kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan tak kan bisa kembali lagi.
Kamu akan mengerti bahwa, apapun yang terjadi, seberapa buruk kisah hidup kamu, hidup tetap berjalan, dan percayalah bahwa esok pasti akan lebih baik lagi

CARPE DIEM, SEIZE THE DAY

Monday, 20 October 2014

Your Masterpices Script

Ada kalanya saat kita tidak melakukan kegiatan apa-apa, kita melakukan satu hal yang amat penting bagi diri kita : mendengarkan apa yang kita dengar dari diri sendiri (Paulo Coelho). Hari Minggu ini, saya mencoba untuk menuruti saran dari Paulo tersebut. Ditemani lagu-lagu dari my dear Michael Buble dan green tea latte, saya –yang biasanya sulit untuk diam- 30 menit mencoba berdiam diri, satu-satunya percakapan di sini adalah, hanya saya dengan diri saya sendiri. Me against myself.
Banyak hal bisa saya ambil dari diskusi saya dengan diri saya sendiri tersebut, tentang karier, cinta, masa depan, tentang passion, tentang apapun keputusan yang akhirnya saya ambil, tentang prioritas yang masih saya perjuangkan, tentang benar atau tidaknya apa yang sedang saya perjuangkan saat ini. Tentang tidak mulusnya hidup yang saya jalani, selalu penuh perjuangan, kadang salah langkah, salah ambil keputusan, dan yang terjadi tidak sesuai harapan. Well...pada akhirnya pertanyaan yang muncul adalah what am I doing to my life? and.. What are You doing to me, God?
Jika diibaratkan sedang membuat film, Tuhan adalah sutradara dan penulis script cerita, dan saya adalah pemerannya. Hanya Tuhan yang tahu jalan cerita dan ending terbaiknya. Saya mempunyai keyakinan bahwa segala sesuatu ada episodenya, ada dimana masa-masa sulit, dan ada dimana masa-masa bahagia. Ada episode bertemu dan ada episode berpisah. Ada episode menanam dan ada episode memanen. Segala sesuatu ada masanya.
Pertanyaan diatas kemudian muncul lagi, what are You doing to me, God? Kadang saya merasa Tuhan sedang bercanda, ketika banyak hal-hal tak terduga terjadi dalam hidup saya. Tak dapat diprediksi. Illogical. Unreasonable.
Pikiran konyol pun muncul, dengan iseng siang itu saya pun mulai berandai-andai jika saya bisa menuliskan script untuk takdir hidup saya sendiri, saya kemudian menuliskan script takdir hidup saya (versi saya) dalam selembar kertas. Bisa ditebak, isinya semua yang bagus-bagus, penuh kebahagiaan, yang indah-indah, yang enak-enak, tidak ada kesedihan, perjuangan, air mata, dan tidak ada space untuk orang-orang yang berniat jahat. Always be with right man, in the right place at the right time. To much Heaven.
Awalnya saya puas dengan script takdir hidup yang saya buat sendiri itu, sangat sempurna dan semacam It’s to good to be true. Kemudian setelah saya baca kembali beberapa kali, saya mulai sadar ada sesuatu yang kurang disitu. Semua yang saya tulis di kertas itu adalah kebahagiaan duniawi yang semu. Kebahagiaan versi saya, bukan versi-Nya. Saya hanya akan menjadi manusia yang tidak dapat bertumbuh, karena tidak mendapatkan pembelajaran dalam hidup saya.
Selama ini saya tidak dapat mengingkari bahwa, Saya dapat belajar bersyukur, karena tidak semua hal yang saya inginkan dapat saya miliki. Saya bisa belajar tentang bagaimana cara berjuang, karena apa yang saya inginkan tidak selalu saya dapatkan. Saya bisa belajar tentang memafkan, karena seseorang berbuat salah atau menyakiti hati saya sangat dalam. Saya bisa belajar tentang ketangguhan, karena tidak semua usaha saya berhasil sesuai harapan saya. Dari segala kesakitan, perjuangan, ketangguhan dan air matalah saya bisa bertumbuh dan menjadi lebih kuat, berproses menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya.

Walaupun kadang butuh perjuangan, melibatkan air mata dan membingungkan, tapi dalam hal ini, saya percaya bahwa script kehidupan yang telah ditulis oleh-Nya, jauh lebih sempurna dan lebih indah dari script kehidupan yang saya tulis sendiri itu. Segala sesutu yang terjadi, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, saya percaya pasti ada hikmah dibalik itu. Dia yang menciptakan saya, pasti lebih tahu apa yang terbaik bagi mahkluk ciptaanNya. This is my Life, Your masterpieces script, God!

Wednesday, 17 September 2014

MASTER OF LOVE

We Become What We Repeatedly Do

Waktu kecil dulu, ketika sedang menghadapi masalah, mungkin kita sering marah-marah karena jengkel. Marah menjadi pelampiasan emosi. Setelah marah, hati menjadi lebih lega. Lama-kelamaan, seperti candu, kitapun seakan terbiasa untuk menyelesaikan masalah dengan marah.
Ketika sesuatu tidak sesuai dengan kehendak hati, kita marah, ketika orang lain berbuat salah kepada kita, kita marah, ketika kita mendapati seseorang tidak menepati janji, kita marah. Bahkan kadang kita marah tanpa sebab yang jelas. Marah seakan-seakan sudah menjadi hal yang biasa dan wajar karena sudah terlalu sering dipraktekkan dan menjadi kebiasan, kebiasaan kemudian membentuk karakter kita, yaitu karakter pemarah.  Sampai akhirnya kita menjadi  master of anger.
Seperti halnya drama dalam kehidupan, tidak hanya master of anger, bisa saja kita menjadi ‘master-master’ yang lainnya. Misalnya, master of sadness, karena kita terlalu terbiasa menjadi seorang penyedih, terlalu sensitif. Segala sesuatu didramatisir, seakan-akan menjadi makhluk yang paling sedih di muka bumi ini. Master of jealous, karena terlalu pencemburu. Bahkan bisa cemburu dan curiga tanpa sebab. Master of  lying, karena terlalu terbiasa dan ahli dalam berbohong. Dia akan menutupi kebohongan yang dia buat dengan kebohongan-kebohongan yang lainnya, dan itu tak akan ada habisnya. Semakin sering kita mempraktekkannya, kita menjadi semakin ahli melakukannya, hingga akhirnya kita bisa disebut ‘master.’
Demikian halnya dengan cinta (love), kita bisa disebut sebagai Master of Love apabila kita ahli mempraktekkan ‘cinta’ dalam hidup sehari-hari. Kuncinya agar kita semakin ahli adalah, kita harus semakin sering mempraktekkannya dan semakin rutin. Apa saja yang perlu dipraktekkan? Yang perlu dipraktekkan adalah komponen-komponen dari cinta itu sendiri, yaitu : Kesetiaan, kejujuran, kepercayaan, intimasi, dan komunikasi. Jika kita bisa melakukannya dengan berkesinambungan, tetap, dan bukan merupakan akting semata, maka kita bisa disebut sebagai ‘master of love’.
Gampang untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktekkan : Kesetiaan, kejujuran, kepercayaan, intimasi, dan komunikasi. Mungkin sekilas terlihat klise, tapi memang ke-5 hal tersebut menjadi dasar untuk harmonisnya sebuah hubungan, hingga kita bisa disebut sebagai ‘master of love’. Tentu saja dalam hal ini, dibutuhkan dua belah pihak untuk berkomitmen menepati ke-5 hal tersebut. Kalau hanya satu pihak saja yang mempraktekkannya, sedangkan pasangannya tidak, maka pasti ada pihak yang merasa tersakiti. Misalnya saja, betapa mudahnya sebuah janji tak ditepati, betapa mudahnya sebuah kepercayaan disalahgunakan, betapa kebohongan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan untuk menutupi kebohongan yang lain. Itulah awal dari kehancuran hubungan.
Siapapun pasti bisa menjadi master of love, siapapun, tanpa kecuali, tidak harus seorang yang jago bikin puisi, atau pintar merancang makan malam yang romantis, namun cukup berkomitmen mempraktekkan komponen-komponen cinta yang telah disebutkan diatas tadi, secara rutin, setiap hari, secara berkesinambungan. Hingga akhirnya kita pun semakin ahli, dan dapat disebut sebagai ‘master of love.’

Mengutip kata-kata Sean Covey, we become what we repeatedly do. Jadi, lebih baik kita rutin melakukan hal-hal positif daripada melakukan hal-hal negatif. Hal-hal positif akan menjadikan kebiasaan positif, kebiasaan positif akan membentuk karakter positif. Karakter positif akhirnya akan menjadikan jalan hidup kita pun positif. We become what we repeatedly do.

Monday, 4 August 2014

GAMBAR HATI

Sejak kecil saya termasuk anak yang tidak jago menggambar dan sering mendapat nilai 60 dipelajaran menggambar. Saya masih ingat, waktu TK, di pelajaran menggambar, ketika kebanyakan teman saya menggambar pemandangan, gunung dengan jalan di tengahnya serta sawah yang membentang di kedua sisinya, justru saya selalu menggambar hati, kemudian saya beri warna merah jambu. Entah kenapa setiap kali disuruh menggambar, saya selalu menggambar hati.
Sampai suatu ketika, guru saya menanyakan, mengapa saya selalu menggambar hati, saya jawab karena saya suka ‘cinta’ dan hati adalah simbol cinta. Guru saya bertanya lagi, dari mana saya tahu tentang hal itu, saya jawab dari majalah Bobo. Besuk paginya, orang tua saya dipanggil ke sekolah karena jawaban saya itu.
Waktu kecil saya memang selalu suka menggambar hati, dengan pikiran polos bahwa hati adalah simbol cinta, saya suka cinta, karena cinta itu kedamaian, cinta itu kebahagiaan, cinta itu pembawa semangat. Saya merasakan cinta itu di dalam keluarga saya. Betapa seringnya orang tua saya, kakek nenek saya mengatakan bahwa mereka mencintai saya, dan saya merasakan kedamaian dan kebahagiaan di dalam lingkaran ‘cinta’ itu.
Seiring saya bertambah dewasa, mulailah saya tahu, bahwa ‘cinta’ itu kompleks, cinta memiliki makna yang luas dan universal. Cinta orang dewasa tidak sepolos dan sesimple ‘cinta’ yang saya kenal waktu saya kecil dulu. Saya juga mulai tahu, bahwa selain gambar hati yang utuh, juga ada gambar hati yang retak. Saya mulai tahu bahwa cinta tidak selamanya membawa kedamaian dan kebahagiaan, bahwa cinta juga kadang posesif dan ingin memiliki, bahwa cinta tidak selamanya berbalas, dan bahwa cinta tidak selamanya bersifat abadi.
Seperti yang saya pernah tulis di tulisan-tulisan saya sebelumnya, hidup adalah sebuah proses, selalu berproses menjadi dan tak pernah berhenti. Memang idealnya, dalam proses itu kita dapat selalu bertumbuh jadi pribadi baru yang lebih baik dari hari ke hari. Demikian halnya dengan cinta, cinta pun juga berproses, idealnya cinta dapat bertumbuh menjadi cinta yang lebih sempurna, namun terkadang justru sebaliknya karena konflik dan kesalahpahaman, ambisi dan ego pribadi, dalam proses itu, cinta justru berubah menjadi benci atau bahkan justru saling menyakiti dan menjatuhkan satu sama lain.
Contohnya adalah sebuah keluarga yang hancur karena perselingkuhan, berakhir di perceraian, kemudian rebutan harta, dan salah satu pasangan meninggal karena bunuh diri. Atau diberita juga sering kita dengar seorang remaja dibunuh pacarnya karena berselingkuh. Cinta sedemikian cepatnya berubah menjadi kebencian. Seakan-akan benci dan cinta itu satu paket. Mungkin benci adalah hadiah dari cinta. Mungkin.
Seperti biasa, seburuk apapun itu, saya lebih suka memandang sesuatu dari sisi positifnya. Saya pun sampai sekarang lebih suka melihat ‘cinta’ seperti pikiran polos saya waktu kecil, cinta itu kedamaian, cinta itu kebahagiaan, cinta itu pembawa semangat, dan bukan sebaliknya. Bukan berarti selama proses kehidupan, saya tidak pernah merasakan sakit ketika mencintai sesuatu atau seseorang, namun dengan memberikan ‘cinta’ saya belajar banyak hal, dan justru itu semakin menguatkan saya. Ketika cinta kita tak berbalas, maka saat itu kita belajar tentang ketulusan, Ketika seseorang yang kita cintai meninggalkan kita, maka kita sedang belajar keikhlasan, ketika orang yang kita cintai berada jauh dari kita, maka kita belajar tentang kesetiaan, ketika hati terluka sangat dalam, maka saat itu kita belajar tentang memaafkan. Itulah yang dinamakan mencintai dengan dewasa.

Yuk! mari kita belajar mencintai dengan dewasa, dan akhirnya kita pun dapat merasakan lingkaran cinta yang penuh kedamaian dan kebahagiaan dari orang-orang di sekitar kita.

Thursday, 19 June 2014

SURAT SEORANG GADIS KEPADA AYAHNYA

Minggu lagu saya mendapat kiriman cerita ini via email dari seorang teman. Ceritanya sangat inspiratif dan mengajarkan kita tentang seni bersyukur. Berikut ceritanya :

Di suatu pagi yang cerah, tapi tidak seperti hati seorang ayah yang memeriksa kamar puterinya yang terlihat sangat rapi... (tumben, batin ayahnya) dan menemukan sepucuk surat di atas meja dengan amplop bertuliskan “Untuk Ayahanda tercinta” ..dengan penuh was-was dan tangan gemetar, sang ayah membuka amplop dan membaca isi suratnya.
Dengan perlahan dan penuh seksama sang ayah mulai membaca…

Ayah tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik. Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju meski dengan tattoo tatto dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh. Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.
Ayah…jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Sang Ayah wajahnya merah padam,dengan perasaan campur aduk..ada marah..emosi..tapi kekawatiran dan penyesalan juga
terlihat dari sorot matanya.

Ternyata masih ada lembar kedua yg belum terbaca.
Nb :
Ayah, tidak ada satupun dari yang aku tulis diatas itu benar, aku hanya ingin menunjukkan bahwa masih ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai rapotku yg banyak angka merahnya itu. Kalau ayah sudah menandatangani rapotku diatas meja, panggil aku ya. Aku ada di tetangga sebelah.
Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati ayah justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya. Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!
Sahabat, Cerita ini sebenarnya adalah mengajarkan kita tentang seni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri. Kalau Anda ingin bersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkan kesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. dengan demikian kita bisa menghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.
Masalah kekecewaan hati atau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebih karena penerimaan hati. Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkan ORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.
Kita bisa melihat anak kampung bahagia main layang layang yang 1 set berharga tidak lebih dari Rp 5000. Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawat remore control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yang model baru seharga 15 juta.
Ada anak kaya yang ngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupa bayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29 hari sebelumnya.
Memang apa yang dilakukan si gadis pada Ayahnya agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.
Sudahkan Anda bersyukur hari ini?

Tuesday, 17 June 2014

Untold Story

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ia membuat sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:1, 3:11)

Seperti hanya bermain pazzel, hidup pun bagi saya seperti menyusun pola-pola pazzel kehidupan. Antara kejadian satu dengan yang lain saling berhubungan satu sama lain, namun kadang sulit kita mengerti dan kita pahami. Kadang kita bertanya, mengapa kejadian itu terjadi? Apa sebenarnya yang Tuhan kehendaki? lebih-lebih apabila kejadian tersebut sangat berat bagi kita. Sampai di suatu titik, kelak kita akan sadar bahwa rencana Tuhan tak akan pernah salah.
Saya sempat mengalami, dimana saya berada dititik terlemah dalam hidup saya, yaitu saya kehilangan orang yang sangat saya sayangi. Dia cinta pertama saya, bahkan ketika saya belum mengenal arti cinta sesungguhnya. Dia penopang hidup saya, penolong saya ketika saya jatuh, penghibur saya ketika saya menangis, guru, pembimbing dan teladan hidup saya. Ya! dia adalah Ayah saya. Saya telah kehilangan dia selama-lamanya. Tuhan memanggil ayah saya satu tahun yang lalu (2013).
Dunia saya yang semula lengkap dan penuh warna, mendadak menjadi kelabu. Semua terjadi begitu cepat. Waktu itu tanpa firasat apapun, tepat tanggal 4 Juni 2013 pagi hari, saya yang waktu itu sedang berada di kantor, diberi kabar oleh ibu saya bahwa Ayah saya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Sayapun segera meninggalkan kantor saya yang berada di Jogja dan berangkat ke Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo bersama adik dan saudara-saudara saya.
Sementara itu, kondisi Ayah saya semakin memburuk, kondisinya kritis, sekujur tubuh Ayah sudah lemas dan dingin, tekanan darah drop, detak jantung turun. Ibu saya seorang diri menemani Ayah saya diruang ICU. Saya tahu bagaimana perasaannya saat itu, melihat orang yang sangat dicintainya sedang berjuang melawan maut.
Saat itu, saya merasakan perjalanan dari Jogja ke Solo menjadi perjalanan terlama yang pernah saya lalui. Semakin lama perasaan saya semakin tak tenang. Setiap kali ada telpon masuk, saya semakin lemas. Saya ketakutan. Pikiran saya tak menentu. Saya takut, hal yang paling saya takutkan di dunia ini terjadi, yaitu kehilangan orang tua saya. Saya belum siap untuk kehilangan dia.
Saya mulai sibuk dengan pikiran saya, sampai tak sadar bahwa mobil berputar arah, yang semula menuju Rumah Sakit, ternyata menuju rumah saya. Sesampainya di depan rumah, saya sangat kaget karena sudah banyak karangan bunga duka cita di depan rumah saya, banyak sekali orang mengenakan pakaian hitam. Suara tangis bersahutan terdengar. Dan detik itu saya sadar, bahwa saya telah kehilangan Ayah saya untuk selama-lamanya.
Ayah meninggal tanpa meninggalkan pesan apapun bagi saya, adik saya ataupun Ibu saya. Sedih ketika saat-saat terakhir, saya tidak berada di samping Ayah saya.  Saya belum sempat memberikan pelukan terakhir saya, dan mengatakan betapa saya sangat mencintai Ayah saya. Saya belum sempat minta maaf atas segala kesalahan saya. Saya belum sempat berterima kasih atas cinta, kasih sayang, perhatian, bimbingan, ataupun materi dan segala hal yang telah Ayah berikan untuk saya dan adik saya.
Memang terasa sangat berat, kehilangan Ayah. Saya sempat berada di masa-masa sulit, dimana saya kehilangan arah, tidak ada lagi penopang dalam hidup saya. Tidak ada lagi tempat berbagi suka dan duka. Impian saya untuk diantarkan Ayah saya ke depan altar perkawinan pun juga harus berakhir. Dunia saya terasa sepi dan tidak lengkap lagi. Ayah sudah berada di ruang dan waktu yang berbeda. Sulit menerima kenyataan ini.
Seperti halnya menyusun pazzel, saya pun mulai menemukan kepingan-kepingan pazzel yang lainnya. Saya memutuskan untuk pindah kantor ke Jakarta. Dulu, mungkin saya bertanya-tanya apa sebenarnya kehendak Tuhan? apa tujuan Tuhan menuntun saya meninggalkan tempat yang satu dan menaruh saya ke tempat yang lain? apa tujuan Tuhan untuk mempertemukan saya dengan orang yang satu dan memisahkan saya dengan orang yang lain? Namun kini saya mengerti, bahwa rencana Tuhan tak pernah salah. Dari kesedihan dan kehilangan, saya belajar untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan sabar. Bahkan, tak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya sanggup melewati ini semua dengan baik. Kuncinya adalah jangan meneyerah. Jangan sekali-kali menyerah. Untuk perkara besar ataupun kecil. Jangan menyerah. Percayalah pasti akan selalu ada pelangi setelah badai hebat.
Saya yakin, orang sebaik Ayah pasti di terima di sisi Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, siapapun yang sempat mengenal ayah, pasti tak menyangsikan kebaikan dan kemurahan hatinya. Semoga saya dapat meneladan sikap baik Ayah, dan dapat menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar dan ikhlas dari hari ke hari.
Satu hal lagi, saya percaya apapun itu sebutanNya, diatas sana ada yang mengatur hidup kita, dan dia amat baik. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, pandanglah bahwa itu semata-mata karena cintaNya kepada kita, untuk menjadi kan kita pribadi yang lebih baik dan hebat dimataNya.
My Father Vitus Soejito



FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...