Friday, 10 April 2015

Menumbuhkan Cinta Literasi dengan Media Baca Digital


            Kejadian yang sering kita jumpai adalah, ketika seseorang membeli handphone atau gadget baru, maka orang tersebut akan langsung menyalakan alat tersebut, melihat-lihat aplikasinya, dan mencoba mengoprasikannya, namun ketika handphone tersebut tiba-tiba mati, maka kita akan bingung. Kita pun panik dan buru-buru bertanya dengan teman atau orang yang dianggap paham dengan teknologi. Kesalahan apa yang terjadi di sini? yaitu seharusnya kita membuka manualbook dari handphone atau gadget tersebut, membaca isinya, memahami cara mengoprasikan alat tersebut, kemudian baru menyalakan handphone atau gadget tersebut. Hal tersebut menunjukkan, bahwa betapa kurang budaya literasi kita. Kita lebih menyukai mencari informasi secara instan dengan bertanya dengan orang (lisan) daripada bersusah payah membaca manualbook terlebih dengan bahasa yang rumit.
Sebagian dari kita mungkin akan lebih paham ketika dijelaskan dengan kata-kata lisan daripada membaca sendiri. Hal tersebut merupakan salah satu dasar dari perjalanan budaya kita. Sebelum budaya literasi berkembang, telah terlebih dahulu mengakar dalam masyarakat yaitu kebudayaan lisan atau tutur. Dimana penyebaran informasi dan nilai-nilai moral disebarkan dengan cara lisan. Biasanya dengan media dongeng, wayang, atau tembang. Walaupun hanya dari mulut ke mulut, namun nilai-nilai moral tetap tetap terjaga teguh dalam kehidupan bermasyarakat.
Selanjutnya baru mulailah berkembang budaya literasi ketika masyarakat sudah mulai mengenal dunia tulis-menulis dan membaca. Sehingga, peraturan pemerintahan, adat-istiadat dan nilai-nilai kehidupan dan moral, tidak hanya disebarkan dengan cara lisan, namun juga tertuang dalam bentuk tulisan, dan terdokumentasi. Namun, ketika itu tulisan yang dituangkan dalam buku/kitab belum menjadi media massa, buku masih menjadi hal yang mahal, hanya kaum bangsawan yang memiliki tingkat pendidikan tinggi saja yang bisa memilikinya. Revolusi industri pada abad ke 18 menjadi tonggak perubahan, sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat industri, maka semakin banyak masyarakat yang bisa mengakses buku. Perkembangan mesin cetak juga turut menjadi faktor pendorong buku dan budaya literasi menjadi lebih populer dan semakin dapat diakses oleh masyarakat di segala lapisan.
Di Indonesia sendiri, budaya literasi mulai masuk ketika para pedagang dari India, Cina, dan Arab membawa budaya tulis, melalui kitab-kitab keagamaan (Yosal : 2010). Kemudian budaya literasi semakin berkembang ketika bangsa Eropa masuk ke Indonesia. Mereka mengenalkan mesin cetak dan buku menjadi media massa. Sehingga saat itu budaya literasi semakin berkembang ke segala lapisan masyarakat Indonesia, namun demikian budaya lisan juga belum ditinggalkan oleh masyarakat.
Menurut Yosal, Budaya literasi di sini berarti keberaksaan, yaitu kemampuan manusia untuk memahami tulisan dalam bentuk menulis dan membaca. Kemampuan literasi ini menjadi penting karena menuntut manusia untuk memiliki kebiasaan berpikir dengan proses membaca. Pentingnya budaya literasi adalah, dengan membaca manusia semakin kaya akan ilmu dan mimiki wawasan luas. Namun sayang, budaya membaca ini belum dimiki oleh seluruh masyarakat. Ketika seseorang belum memiliki kebiasaan membaca, maka membaca menjadi hal yang berat untuk dilakukan, sehingga membutuhkan waktu atau proses untuk menumbuhkan kecintaan membaca.
Dalam hal ini, menurut Straubhaar membaca berarti melihat, memperhatikan atau mengamati dan mempersepsi, suatu tulisan untuk mendapatkan informasi. Ketika kita membaca, kita membutuhkan suatu alat agar sesuatu yang tertulis tersebut dapat dibaca oleh orang lain, alat tersebut dinamakan teknologi media baca. Sedangkan teknologi media baca sendiri terdiri dari dua, yaitu teknologi media baca analog, dan teknologi media baca digital.
Teknologi media baca analog yaitu berwujud cetak, bisa dilihat, diraba, ataupun dipegang, seperti yang kita kenal dan biasa kita jumpai di rak-rak perpustakaan. Media baca analog terdiri dari buku baik itu fiksi maupun non fiksi, koran cetak yang berisi berita, dan majalah cetak yang bersifat informasi. Walaupun berwujud cetak dan datanya dalam bentuk analog, namun buku, koran ataupun majalah masa kini dicetak juga menggunakan mesin digital, yaitu menggunakan mesin cetak DocuTech yang menyerupai mesin fotocopy raksasa yang langsung terhubung dengan komputer sebagai pengontrol. Data kemudian dikirim, diolah dan diproses dan kemudian dicetak. Jadilah media baca analog, yang bisa dipegang, diraba dan dilihat.
Media baca analog yang berupa buku-buku, majalah ataupun koran tentu menyulitkan bagi masyarakat, selain harganya yang mahal, juga akses untuk mendapatkannya sulit karena harus mencari ke toko buku atau perpustakaan dahulu untuk mengakses informasinya. Sedangkan masyarakat dengan berbagai aktivitas dan pekerjaan, juga tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan semua itu. Hal tersebut menjadikan minat literasi masyarakat juga rendah. Masyarakat banyak yang tak tertarik untuk bersusah payah ke toko buku dan membaca buku tebal.
Menyikapi kebutuhan manusia di era informasi ini, lahirlah media baca digital yang bersifat lebih efisien dan efektif. Teknologi media baca digital ini bersifat elektronik yaitu membutuhkan aliran listrik, bersifat digital yaitu menggunakan konsep 0-1-0, dan online, yaitu terkoneksi terus menerus. Hal tersebut membawa harapan baru akan berkembangnya budaya literasi di Indonesia. Dengan lahirnya generasi e-book dan e-magazine, masyarakat dapat mengakses informasi dari buku ataupun majalan secara gratis, cukup hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, maka kita bisa mendapatkan informasi dari situs web dalam bentuk dokumen buku, kapan saja dan dimana saja hanya dengan menggunakan handphone, ipad ataupun tab berbasis android.
Untuk saat ini, banyak perusahaan media massa cetak yang menerbitkan dua versi, yaitu media baca analog berupa cetak, dan media baca digital berupa e-magazine, e-book, dan situs berita web. Hal tersebut bagi penerbit media massa, secara positif tentu mengurangi biaya produksi cetak media massa. Secara lingkungan juga mengurangi penggunaan kertas sehingga penebangan pohon juga berkurang.
Adanya media baca digital dan didukung infrastruktur media yang memadai, maka hal tersebut dapat mendukung upaya untuk mencerdaskan bangsa dan membuka wawasan bagi daerah yang terisolir sekalipun. Bagi masyarakat di pelosok daerah yang sulit mendapatkan akses buku-buku memadahi, dengan mudah dapat memperoleh akses buku dan informasi dari media digital. Dengan satu klik saja, maka mereka dapat mengetahui sejarah berdirinya PBB, tanpa harus mencari-cari buku di perpustakaan ataupun di toko buku. Media baca digital tersebut juga menyetarakan informasi yang didapat antara masyarakat perkotaan dengan masyarakat yang tinggal di pelosok Indonesia, sehingga tidak ada lagi kesenjangan informasi.
Generasi teknologi media baca digital ini, diharapkan dapat semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya literasi. Cara untuk menumbuhkan budaya membaca, salah satunya yaitu teknologi media baca digital memberikan kemudahan falitas dengan dapat memperoleh kemudahan akses, yaitu cukup dengan mencarinya di situs web dimanapun dan kapanpun juga; cepat dalam mendapatkan informasi dan tidak perlu tempat yang besar untuk penyimpanan dokumennya, cukup disimpan di USB ataupun di drop box; mendapatkan informasinya gratis tanpa biaya; sifatnya yang lebih visual dan kaya warna membuat lebih enak untuk dibaca dan mudah dimengerti.

BukuAcuan
Dominick, J. R. (2008). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill, International Edition
Iriantara, Yosal. (2010). Literasi Media : Apa, Mengapa, Bagaimana. Simbiosa Rekatama Media.
Mirabito, M.A.M & Morgenstern, B.L. (2004). The New Communications Technology: Applications, Policy, and Impact. Fifth Edition. Focal Press
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, 2011 Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth 

Infrastruktur Media dan Telekomunikasi Sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi


             Berbicara mengenai teknologi media dan telekomunikasi dari sisi ilmu elektro maupun mesin, maka kita bisa mendapatkan begitu banyak essay dan buku yang dapat memberikan kita informasi mengenai hal tersebut, baik dari segi infrastruktur, software dan hardwarenya hingga perkembangannya dari generasi ke generasi. Namun, lain hanyanya ketika kita berbicara mengenai teknologi media dan telekomunikasi dalam konteks ilmu komunikasi dan pengaruhnya terhadap masyarakat, maka sangat jarang kita bisa mendapatkan buku, essay ataupun penelitian yang menyoroti hal tersebut. Padahal jika ditelaah lebih jauh, dilihat dari perspektif teori komunikasi, kemajuan di bidang teknologi media dan telekomunikasi memiliki pengaruh besar terhadap budaya masyarakat, gaya hidup, bahkan berefek pada pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
Perkembangan teknologi media dan komunikasi yang kini telah, tengah dan akan kita nikmati, tak lepas dari peran infrastruktur yang menyusunnya. Infrastruktur media dan telekomunikasi menurut Grant & Meadows yaitu struktur fisik yang menjadi prasarana dalam jaringan komunikasi. Jika infrastruktur teknologi media dan telekomunikasi berkembang dengan baik, maka hal tersebut juga akan semakin meningkatkan efek kemajuan dibidang teknologi media dan telekomunikasi.
Infrastruktur media dan telekomunikasi telah ada sejak jaman Yunani kuno, dimana infrastruktur masih tradisional dan bersifat analog. Infrastruktur analog yaitu struktur fisik yang lebih banyak melibatkan panca indra untuk memproses informasi, misalnya manusia menggunakan api, asap atau lampu sebagai media penyampaian informasi, dalam hal ini asap, lampu, atau api merupakan contoh infrastruktur media analog. Kelemahan infrastruktur ini adalah rentan terhadap cuaca buruk ataupun noise; jaringan frekuensi penerima informasi relatif sempit; alat-alat masih sederhana dimana satu alat hanya bisa memberikan satu fungsi, yaitu untuk memproduksi, mendistribusikan atau menyimpan informasi; kurang efektif dan efisien dalam kecepatan penyampaian, memproses ataupun menangkap informasi.
Infrastruktur teknologi telekomunikasi tradisional seperti asap, api, ataupun lampu, mengalami perkembangan sejak pada tanggal 24 Mei 1844 Morse berhasil memecahkan kode Morse dan menandai dimulainya era telekomunikasi. Setelah kode morse terpecahkan, para ahli dibidang teknologi pun mulai mengembangkan berbagai penelitian dibidang infrastruktur telekomunikasi, menggunakan elektromagnet. Berkat infrastruktur yang semakin berkembang, teknologi telekomunikasipun semakin berkembang. Secara berturut-turut pada tahun 1876 Alexander Graham Bell berhasil menciptakan alat yang kini kita kenal dengan telepon, dan tahun 1896 Marconi menemukan telegraf. Inilah cikal bakal dari infrastruktur penyusun teknologi telepon, radio, televisi, dan internet.
Infrastruktur teknologi media analog yang masih banyak menggunakan tenaga manusia untuk penyampaian informasi, kini semakin berkembang dan maju dengan adanya infrastruktur teknologi media digital. Yaitu struktur fisik yang menggunakan konsep 0 dan 1, yang dapat memproses, mendistribusikan dan sekaligus mengkonsumsi informasi. Sehingga tidak lagi banyak menggunakan tenaga manusia. Di era ini, infrastruktur media mempunyai multi fungsi, yaitu input, process, output dan sekaligus strorage. Terdiri dari struktur hardware, software, procedure, brainware dan content dari informasi. Infrastruktur teknologi media digital ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan infrastruktur analog, yaitu lebih tahan menghadapi cuaca buruk ataupun noise; jaringan frekuensi penerima informasi relatif lebih luas; hasil informasi yang diterima lebih cepat, jelas dan akurat; lebih efektif dan efisien karena satu alat dapat berfungsi sebagai input, process, output dan sekaligus strorage; lebih sedikit menggunakan tenaga manusia, karena semua dilajankan dengan sistem digital.
Perkembangan infrastruktur media dan telokomunikasi membuka jalan bagi terciptanya berbagai teknologi media dan telekomunikasi yang makin canggih dan berdayaguna tinggi. Hal tersebut tentu akan memberikan pengaruh besar terhadap budaya masyarakat, gaya hidup, bahkan berefek pada pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Berkat infrastruktur yang semakin berkembang, teknologi telekomunikasipun semakin berkembang, hal tersebut yang mendorong Pemerintah untuk semakin meningkatkan infrastruktur media dan telekomunikasi di Indonesia secara merata, sehingga berbagai menfaat teknologi komunikasi bener-bener dapat dimaksimalkan sebagai sarana kemajuan dan pertumbuhan ekonomi.
Ketersediaan infrastruktur teknologi komunikasi di Indonesia yang memadai, dalam hal ini jumlah akses, kualitas jaringan, jangkauan frekuensi, menjadi hal vital yang harus dipenuhi agar teknologi media dan telekomunikasi tidak hanya memberi manfaat untuk alat komunikasi tetapi berperan pula dalam menghasilkan peluang ekonomi masyarakat untuk mengembangkan bisnis, pendidikan, traveling, pariwisata, hiburan, industri ekonomi kreatif dan lain sebagainya.
Infrastruktur teknologi telekomunikasi yang merata di setiap wilayah Indonesia, akan meningkatkan kualiatas informasi bagi masyarakat, arus informasi yang diciptakan menjadi lebih lancar dan cepat sampai pada sasaran, dan dapat menjadi motor penggerak untuk kegiatan yang lebih produktif, seperti membuka peluang usaha, kegiatan bisnis, pendidikan, transportasi, pariwisata, dan kemajuan dalam industri perfilman dan musik.
Hudson dari University of San Francisco, meneliti tentang vitalnya infrastruktur teknologi media dan komunikasi di suatu Negara, yaitu : memberikan pemahaman atau promosi tentang suatu produk, sehingga menjadi media antara produsen dan konsumen dalam melakukan transaksi ekonomi; menjadi motor penggerak untuk membangun daerah dan efisiensi di bidang transportasi; dapat membantu suatu daerah yang terisolir mendapatkan akses komunikasi dan informasi sehingga dalam keadaan darurat dapat segera mendapat bantuan dari luar; menjalin kerjasama Internasional dengan Negara-negara lain di bidang pemerintahan, pariwisata dan bisnis. Jika diringkas, maka manfaat infrastruktur teknologi media dan telekomunikasi yaitu : efisiensi (menghemat pengeluaran), efektivitas (meningkatkan kualitas) dan equity (memberi manfaat bagi masyarakat).
Coba kita tengok, kini kota-kota yang menjadi sentral industri pariwisata dan kuliner, seperti Bali, Yogyakarta, Surakarta, dan Lombok, sudah sangat familiar dengan adanya kampung cyber. Kampung cyber bisa diartikan sebagai ’desa dunia maya’, dimana kampung/desa tersebut dapat memaksimalkan setiap potensi wilayahnya, mulai dari tempat wisata, kuliner, kerajinan tangan, dan pertunjukan seni, melalui blog, facebook, ataupun twitter. Setiap warga di kampung cyber boleh menulis ulasan tentang potensi wilayahnya tersebut. Hal itu tentu sangat membantu dalam mempromosikan potensi tiap-tiap daerah hingga jangkauan nasional dan Internasional.
Kampung cyber terbentuk tentu membutuhkan infrastruktur teknologi yang menyusunnya, antara lain adanya laptop, komputer, dan konektivitas layanan berupa telepon ataupun WIFI yang diberikan oleh Pemerintah ataupun sponsor dari beberapa perusahaan telekomunikasi. Selain ketersediaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, juga diperlukan pelatihan/training bagi warga agar dapat memaksimalkan fungsi dari teknologi telekomunikasi di kampong cyber tersebut, sehingga warga tidak hanya kaya akan informasi dan pengetahuan, namun juga dapat menjaga nilai-nilai lokal budaya setempat agar tidak terpengaruh dari budaya luar, dalam artian walaupun berwawasan luas, namun tetap mempertahankan ciri khas budaya setempat dan tidak kehilangan jati diri.
Tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk melek teknologi dan lebih memaksimalkan manfaat teknologi komunikasi, namun kampung cyber juga bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan daerah dan negara, membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan, dan sarana untuk saling sharing informasi antar sesama produsen/pengelola tempat wisata, baik untuk menciptakan produk, mengelola, hingga mendistribusikan/memasarkannya.

BukuAcuan
Deloitte. (2008). Nusantara Terhubung, Peran Internet dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jakarta
Dominick, J. R. (2008). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill, International Edition
Grant, A. E. & Meadows, J. H. (2010). Communication Technology Update and Fundamentals. 12th Edition. Focal Press
Hudson E. Heather. (1995). Director Telecommunications Management and Policy Program McLaren School of Business University of San Francisco, Economic and Social benefits of Rural Telecommunications, World bank.
Mirabito, M.A.M & Morgenstern, B.L. (2004). The New Communications Technology: Applications, Policy, and Impact. Fifth Edition. Focal Press
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth 

Social Marketing di Era Web 2.0


         Perkembangan teknologi dan komunikasi kini menjadi semakin dekat dan erat hubungannya dengan adanya inovasi di berbagai sarana komunikasi. Menurut Rogers (2003) Komunikasi yaitu pertukaran pesan untuk mencapai pengertian bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan teknologi komunikasi merupakan sarana atau alat manusia dalam bertukar pesan tersebut.
Dari masa ke masa, teknologi komunikasi semakin berkembang. Selalu ada inovasi di bidang teknologi komunikasi untuk menjawab berbagai kebutuhan manusia, baik untuk meningkatkan taraf hidup, memudahkan pekerjaan, sebagai media sosialisasi antar manusia, hingga sebagai sarana hiburan/entertaiment. Sejak ditemukan bahasa lisan dan tulisan, sejak itu pulahlah teknologi mulai ditemukan, berkembang, dan terus disempurnakan mengikuti perkembangan jaman dan kebutuhan manusia.
Bukan hal asing lagi ketika kita memperoleh informasi dari majalah atau koran, memiliki telepon, televisi, radio, dan yang teranyar adalah komputer dengan jaringan internet di dalamnya, itulah hasil dari perkembangan teknologi komunikasi. Internet yaitu jaringan hardware yang bisa menghubungkan komputer di seluruh dunia, dengan menghantarkan informasi secara instan dan global. Internet sendiri berasal dari kata inter-network, dimana awal mula internet hanyalah untuk komunikasi nonkomersial, dan hanya digunakan untuk pertukaran data di suatu perusahaan atau institusi. Kini internet berkembang menjadi media massa yang lebih luas, yang dapat menghantarkan dan menerima informasi antar pribadi ataupun kelompok.
Ketika kita menggunakan internet, maka kita dapat memanfaatkan beberapa layanan di dalamnya, yaitu komunikasi langsung misalnya aplikasi e-mail dan chat, layanan (software) diskusi menggunakan aplikasi milis, blog, bulletin, sumber informasi menggunakan World Wide Web (www). Dari aplikasi-aplikasi tersebut tentu membawa banyak manfaat dan kemudahan bagi masyarakat luas, tidak hanya untuk kepentingan bisnis saja, namun juga bermanfaat untuk menyuarakan pendapat, eksistensi diri, sosialisasi, dan juga sarana hiburan. Sehingga tak heran apabila kini aktivitas-aktivitas di berbagai sektor masyarakat pun berbasis internet, misalnya e-Banking, e-Learning, e-Government, dan lain sebagainya.
 Internet inilah yang merupakan pelopor munculnya era media baru. Media baru sebenarnya bukanlah hal baru, namun perkembangan di Indonesia baru benar-benar dapat dimaksimalkan manfaatnya di era globalisasi pada saat ini. Media baru yang dibentuk oleh komputer ini, dalam pandangan luas berbeda dengan radio, televisi dan komputer, namun merupakan konvergensi antara audio/video dengan World Wide Web.
Melalui layanan World Wide Web atau web di jalur internet, media baru atau media online menjadi sarana komunikasi yang bersifat kolektif, dimana masing-masing individu didalamnya dapat saling bertukar pendapat, informasi, mendapatkan berita yang up to date secara cepat, dan efisien. Web mampu memberikan informasi bagi pengguna komputer yang terhubung denga  jaringan internet.
Adalah Barners-Lee dari Massachusetts Institute of Technology yang pertama kali mengelalkan dan mengembangkan situs web. Tentu untuk saat ini, web mengalami banyak perkembangan. Dari awal ditemukan, web berbentuk standart dan dikenal dengan WEB 1.0. Web tersebut masih bersifat statis dan informatif. Untuk berbagai layanan di internet berwujud static web dan dihubungkan oleh hyperlink. WEB 1.0 ini hanya bersifat satu arah dan hanya berbentuk profil, portal berita, ataupun email. Hingga pada tahun 2003, O’Reilly Media mencetuskan era WEB 2.0, yang merupakan pengembangan dari WEB 1.0. WEB 2.0 ini memiliki keunggulan, pengguna web dapat saling berinteraksi, tidak hanya pasif menerima informasi, namun bisa juga memberikan input berupa komentar, mengupload foto, video.
Di era WEB 2.0 inilah media baru mulai berkembang, melalui berbagai akun sosial seperti blog, facebook, twitter, youtube, semua orang bisa menjadi sumber informasi. Informasi yang disampaikan dapat lebih cepat, efektif, dan efisien. Bila dulu ketika menggunakan media konvensional seperti Koran atau majalah untuk mengemukakan pendapat, maka akan ada pihak editor majalah yang akan menyeleksi pesan kita, belum lagi tata letak majalah/Koran yang terbatas, sehingga kebebasan kita untuk berekspresi terbatas. Namun kini, berkat WEB 2.0, setiap orang bebas mengungkapkan ide, masukan, ataupun kritikan melalui berbagai macam akun yang terdapat dalam web tersebut.
Salah satu aktifitas sosial yang semakin berkembang dengan era web 2.0 yaitu social marketing atau pemasaran sosial. Social marketing adalah perancangan program yang bertujuan untuk merubah perilaku seseorang, demi meningkatkan kesehatan, mencegah kecelakaan atau menjaga lingkungan, dan biasanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga nirlaba. Perinsip sosil marketing yaitu menolak perilaku potensial yang negative, memodifikasi beberapa perilaku dan meninggalkan perilaku lama. Salah satu contoh kegiatan sosial marketing adalah ajakan untuk berhenti merokok, stop narkoba, penggunaan alat kontrasepsi untuk mengendalikan angka kelahiran, penghentian penebangan pohon secara liar, dan lain sebaginya.
Tujuan dari sosial marketing yaitu dapat merubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok, hal tersebut tentu bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Sehingga dalam hal ini diperlukan media yang tepat untuk menyampaikan pesan, agar informasi yang disampaikan dapat tepat sasaran. Media yang digunakan untuk social marketing dahulu hanya menggunakan karakter media below the line, yaitu menggunakan poster, booklet, leaflet, ataupun pameran. Hal tersebut tentu tidak efektif untuk penyampaian pesan, terutama pesan yang ditujukan untuk anak-anak muda. Kini di era WEB 2.0, aktifitas social marketing menjadi lebih mudah, efektif dan efisien. Setiap orang diajak pula untuk aktif, bersama-sama mengikuti kegiatan sosial marketing melalui opini, essay, fotografi, ataupun uploud video yang berisi kampanye sosial marketing.
Seperti yang telah digalakkan oleh UNICEF Indonesia yang mempunyai akun U-Report Media di twitter dan Facebook, yaitu akun untuk social marketing yang ditujukan sebagai tempat anak-anak muda untuk berkontribusi meyumbangkan ide, dan menyuarakan isu-isu yang berhubungan dengan anak muda dan remaja di Indonesia. Hal tersebut tentu sangat efektif, karena akun sosial marketing tersebut ditujukan untuk dan dibuat oleh anak-anak muda sendiri. Isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda seperti narkoba, sex bebas, dan HIV AIDS dapat diinformasikan di akun tersebut, selain itu juga melatih kreatifitas kaum muda Indonesia untuk berekpresi menyuarakan pendapatnya melalui video, fotografi, ataupun essay mengenai isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda dan remaja, dan langsung dapat diupload di akun U-REPORT tersebut. Berkat WEB 2.0 aktifitas sosial marketing menjadi lebih efektif, efisien dan tepat sasaran.

BukuAcuan
Dominick, J. R. (2008). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill, International Edition
Grant, A. E. & Meadows, J. H. (2010). Communication Technology Update and Fundamentals. 12th Edition. Focal Press
Joseph Dominick, Fritz Messere & Barry L. Sherman. 2004. Broadcasting, Cable, The Internet, and Beyond: An Introduction To Modern Electronic Media. New York: McGraw Hill
Philip Kotler, Ned Roberto, Nancy Lee, Social Marketing Improving the Quality of Life, Sage Publications, New Delhi, India.
Raddick, Randy; King, Elliot. Internet Untuk Wartawan-Internet Untuk Semua Orang. 1996. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Rogers, E.M. (2003). Diffusion of Innovations, 5th edition, NY: Free Press
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media,  Culture, and Technology, 2011 Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth 

Pemanfaatan Radio Komunitas di Lingkungan Pertambangan dalam Perspektif Uses and Gratifications Theory


            Dewasa ini, teknologi komunikasi di Indonesia semakin berkembang pesat. Sejalan dengan hal tersebut, media komunikasi massa yang menjadi bagian dari teknologi komunikasi, kini juga semakin canggih. Perkembangan teknologi tersebut dimulai dari media massa cetak, koran, majalah, kemudian muncul radio, televisi, dan disusul oleh internet dan segala macam akun (blog, YouTube, google, facebook, twitter, dan lain-lain) di dalamnya. Hal tersebut memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara instan, tanpa berbatas ruang dan waktu. Sehingga tak heran apabila komunikasi massa kini juga semakin memberikan pengaruh yang lebih besar bagi masyarakat.
Menurut Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication, yang disebut komunikasi massa yaitu proses organisasi media memproduksi pesan-pesan dan mengirimkan pesan tersebut kepada khalayak. Dalam proses tersebut pesan-pesan yang disampaikan media massa akan dikonsumsi oleh penerima pesan (khalayak). Sehingga menurut Littlejohn, aspek utama dalam komunikasi massa adalah media massa. Dalam hal ini, yang termasuk media massa adalah surat kabar/ koran, majalah, radio, televisi, dan internet.
Peran media massa yaitu dapat melipatgandakan pesan, sehingga dapat menyampaikan informasi secara cepat dan luas kepada khalayak. Menurut McQuail, media massa memiliki peranan diantaranya : menjadi jendela pengetahuan kita dan membuat wawasan lebih kaya akan informasi; sebagai interpretasi dan membuat pengalaman kita bermakna; dan menjadi platforms pembawa informasi.
Dilihat dari manfaat media massa dan berbagai macam jenis media massa, yaitu koran, majalah, radio, televisi dan internet, maka semakin memberikan banyak pilihan bagi khalayak untuk memilih masing-masing media massa tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut menarik untuk diteliti lebih jauh, karena semakin teknologi berkembang, media massa pun juga mengalami kemajuan, dan motif khalayak untuk menggunakan media massa juga semakin beragam, baik memilih untuk tetap menggunakan media lama, ataupun memanfaatkan media baru seperti internet.
 Salah satu teori yang mengkaji komunikasi massa adalah teori Uses and Gratifications. Menurut McQuail, uses and gratifications theory merupakan teori komunikasi massa yang menitik beratkan pada khalayak yang menentukan pesan dan media yang dia pilih.
Dilihat dari perspektif teori uses and gratifications, maka khalayak memiliki kebebasan untuk memutuskan media mana yang akan dipilih untuk memuaskan kebutuhannya. Setiap individu memiliki tanggungjawab penuh dalam memilih media dan program acara yang dapat memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya, dan bukan hanya bersifat pasif hanya terpengaruh terhadap efek media.
Salah satu media massa yang hingga sekarang masih menjadi pilihan bagi khalayak ditengah berkembangnya media baru adalah radio. Perkembangan jaman tidak membuat khalayak meninggalkan radio sebagai pemenuhan informasi mereka. Masing-masing khalayak memiliki alasan atau motif tertentu sehingga tetap memilih radio sebagai sumber informasi mereka daripada menggunakan media massa yang lainnya seperti televisi dan internet.
Radio merupakan salah satu teknologi komunikasi massa yang mengirimkan siaran/bunyi yang berisi informasi melalui udara kemudian memproduksi pesan tersebut kepada khalayak. Media massa ini juga memiliki peran dalam pembangunan negara, karena mendorong demokrasi dan dialog terbuka, melalui partisipasi interaktif khalayak dalam siaran radio.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Penyiaran nomor 32 tahun 2002 pasal 21 ayat 2, tujuan radio yaitu mendidik dan memajukan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, dengan melaksanakan program acara yang meliputi budaya, pendidikan, dan informasi yang menggambarkan identitas Bangsa.
Khalayak yang mendengarkan radio sangat luas, dengan berbagai latar belakang pendidikan, budaya, dan usia, selain itu juga tujuan dalam mendengarkan radio berbeda-beda. Sehingga untuk menjawab kebutuhan khalayak untuk mendapatkan berbagai informasi yang memadai sesuai kebutuhan masing-masing khalayak, kini munculah radio komunitas.
Radio komunitas adalah, media massa yang bersifat lokal, dan berbasis “dari-oleh-untuk” warga, dengan jangkauan frekuensi terbatas. Radio komunitas bersifat non profit, dan menjadi alternatif baru radio pemerintah dan radio swasta. Di Indonesia sendiri, radio komunitas sudah berkembang sejak jaman orde baru, yang ketika itu masih merupakan radio gelap dan ilegal. Radio digunakan sebagai media propaganda dan dikendalikan oleh penguasa dan konglomerat negara, yang menjadikan pendengar hanya sebagai objek.
Sejak berakhirnya pemerintahan orde baru hingga sekarang, radio komunitas semakin berkembang dan menjadi lebih independen dan terbuka. Menurut Romli dalam bukunya Dasar-Dasar Siaran Radio, radio komunitas terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu : radio berbasis komunitas, yaitu radio yang didirikan oleh suatu komunitas yang menempati wilayah tertentu; radio berbasis sektor tertentu, yaitu didirikan oleh komunitas dengan kepentingan yang sama dan terorganisir, misalnya radio komunitas pekerja tambang, komunitas petani; radio berbasis inisiatif pribadi, yaitu radio yang didirikan oleh perorangan karena hobi tertentu dengan tujuan memberikan siaran yang informatif; radio berbasis kampus, yaitu radio yang didirikan oleh sebuah Universitas dengan tujuan untuk sarana belajar mahasiswanya.
Salah satu radio komunitas yang berbasis sektor tertentu adalah, radio tambang. Radio tambang adalah media komunikasi komunitas yang didirikan oleh perusahaan tambang atau komunitas pekarja tambang di lingkup lokasi pertambangan (baik itu lokasi pertambangan batu bara, emas, nikel, minyak bumi dan sebagainya). Sejarah radio komunitas tambang ini bermula dari Bolivia dan Colombia (1940), yaitu kaum buruh yang bekerja di tambang menggunakan radio komunitas untuk bersatu dan menyuarakan hak-haknya. Hingga kini, radio komunitas tambang diadopsi di Indonesia, yang sebagaian besar wilayahnya merupakan surga hasil alam, baik itu minyak bumi, batu bara, emas, ataupun tembaga.
Radio komunitas tambang memiliki frekuensi terbatas, dengan power maksimal 50 watt dan jangkauan 2.5 km, namun bisa juga ditangkap oleh masyarakat yang tinggal di daerah pertambangan tersebut. Sehingga, tidak hanya para pekerja tambang yang merasakan manfaatnya, namun juga masyarakat di sekitar lokasi pertambangan dapat memperoleh informasi dari radio komunitas tersebut. Mengingat banyaknya departemen di perusahaan tambang, misalnya departemen geologi, departemen safety, health and environment, departemen mining dan sebagainya, maka setiap perusahaan tambang biasanya memiliki beberapa frekuensi radio komunitas. Masing-masing frekuensi atau saluran memiliki program acara dengan kekhususan fungsi yang berbeda, misalnya untuk informasi lalu lintas kendaraan tambang, untuk informasi keamanan dan keselamatan kerja (informasi longsor, kebakaran, retakan tanah, dan lain sebagainya), dan untuk entertain, berisi lagu-lagu dan diskusi mengenai update info tambang, CSR perusahaan, informasi kesehatan dan lingkungan.
Tidak hanya berfungsi untuk mempersatukan para pekerja tambang yang harus tinggal di hutan belantara dan jauh dari keluarga, namun radio komunitas tambang juga berfungsi untuk memberikan informasi, edukasi dan hiburan bagi komunitas sesuai dengan chanel yang dipilih oleh masing-masing individu dari komunitas tersebut. Program khusus yang memberikan informasi mengenai kondisi lokasi tambang terbaru, lalu lintas alat berat, dan kendaraan tambang, sehingga tidak terjadi tabrakan antar kendaraan tambang. Selain itu juga informasi kejadian darurat seperti bencana longsor, kemungkinan terjadi retakan tanah, kebakaran, dan kecelakaan kerja lainnya. Untuk manfaat edukasi yaitu adanya acara dialog interaktif mengenai tema pertambangan, lingkungan dan kesehatan, sehingga menciptakan berbagai pendapat atau opini dan mendorong proses demokratis. Tidak hanya itu, radio tambang juga memberikan hiburan berupa lagu-lagu terbaru yang bisa di request oleh para pekerja tambang sehingga dapat mengusir kepenatan dan memberikan semangat dalam bekerja.
Beberapa manfaat radio komunitas tambang, yaitu : mendukung karakter dan identitas komunitas tambang, melalui muatan acara yang berbobot; menciptkan opini, sehingga membuka aspirasi dan partisipasi bagi komunitas yang bertujuan untuk semakin meningkatkan kesejahteraan komunitas; mendorong dialog terbuka melalui diskusi interaktif via telepon ataupun sms mengenai keputusan-keputusan/ regulasi pemerintah ataupun perusahaan; mendukung pembangunan dan perubahan sosial; melalui radio komunitas yang bersifat komunikasi massa, diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi komunitas melalui berbagai program acara yang sesuai dengan kebutuhan komunitasnya.
Dalam hal ini, komunitas para pekerja tambang memiliki kebebasan untuk memutuskan frekuensi/chanel mana yang akan dipilih untuk memuaskan kebutuhannya. Anggota komunitas memiliki tanggungjawab penuh dalam memilih frekuensi/chanel yang dapat memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya, dan bukan hanya bersifat pasif terhadap efek media.
Dilihat dari perspektif teori uses and gratifications, maka motif kebutuhanlah yang membuat komunitas tambang memanfaatkan radio komunitas tambang, diantaranya yaitu untuk mencari informasi baik itu informasi mengenai lalu lintas alat-alat berat dan kendaraan proyek, juga informasi mengenai longsor, kebakaran dan bencana alam, dan informasi mengenai update terbaru mengenai pertambangan, lingkungan dan kesehatan. Kemudian motif personal identity, yaitu perasaan kebersamaan-senasib-sepenanggungan melalui radio komunitas antar komunitas pekerja tambang yang notabene harus tinggal berbulan-bulan di hutan belantara dan jauh dari keluarga mereka. Dan motif entertainment dan pengalihan dari rutinitas pekerjaan mereka, yaitu program acara radio yang menemani waktu luang mereka untuk bersantai sambil mendengarkan lagu-lagu.

BukuAcuan
Dennis McQuail. (1991) .  Mass Communication Theory, 2nd edition.
Littlejohn, Stephen W. &Foss, Karen A. . (2008) . Teori Komunikasi :Theories of Human Communication. Ed 9. Terj. Mohammad Yusuf Hamdan. Jakarta : Salemba Humanika
Romli ASM. (2009). Dasar-Dasar Siaran Radio “Basic Announcing”. Bandung [ID]. Nuansa Bandung
Rousydiy TAL. (1985). Dasar-Dasar Rhetorica Komunikasi dan Informasi. Medan: Firma Rainbow Medan
R. West & L. H. Turner . (2004) .Introducing Communication Theory: Analysis and  Application, 2nd. ed. NY: McGraw-Hill, NY
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, 2011 Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth
http://www.perhapi.or.id/

Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Digital Dalam Pertambangan


            Teknologi komunikasi telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia, mulai dari level komunikasi interpersonal hingga ke sistem komunikasi organisasi yang lebih luas. Teknologi komunikasi tersebut mentransmisikan dan mendistribusikan pesan, kemudian mengontrolnya dan menggabungkan antar unit-unit yang saling berkaitan. Dalam hal ini, unit-unit tersebut saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan, yaitu baik di sistem ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sehingga dapat dikatakan, teknologi komunikasi menjadi hal vital bagi kehidupan manusia.
Teknologi komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang dulu bersifat analog, kini telah berkembang menjadi teknologi komunikasi digital. Teknologi komunikasi analog yaitu penyampaian informasi menggunakan sistem manual, dimana gambar dan suara dirubah menjadi gelombang radio, dan masih sensitif terhadap noise, crosstalk, dan interferensi. Sedangkan teknologi komunikasi digital, yaitu sistem komputerisasi yang mengkonversi gambar dan suara menjadi data digital, berupa angka-angka atau sistem bilangan biner yang menandakan suatu informasi tertentu. Pada sistem ini suara dan gambar yang dikonversi menjadi data digital terdiri dari angka 1 dan 0.
Teknologi komunikasi digital ini, memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan teknologi analog, yaitu resolusi gambar lebih baik, data atau informasi yang dihasilkan lebih akurat, pengoperasian alat juga lebih mudah, sistem komunikasi lebih fleksibel, dan lebih efektif dan efisian dalam penyampaian informasi.
Keunggulan teknologi komunikasi digital memudahkan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga teknologi komunikasi digital kini menjadi bagian dari hidup manusia yang krusial dalam berbagai bidang di masyarakat, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, pangan, keamanan, transportasi, hiburan/entertainment, olah raga, industri dan bisnis, hingga pertambangan.
Salah satu bidang yang memanfaatkan keunggulan teknologi komunikasi digital dalam operasi bisnisnya adalah bidang pertambangan. Dalam dunia pertambangan, teknologi komunikasi digital kini banyak dipergunakan, yaitu untuk mendapatkan hasil data yang lebih akurat, waktu yang lebih efektif, dengan pengeluaran sedikit namun bisa menghasilkan keuntungan/ profit yang sebanyak-banyaknya. Disamping itu, teknologi komunikasi digital juga bermanfaat untuk menganalisis dan mengantisipasi dampak kerusakan lingkungan ataupun kecelakaan kerja karena aktifitas tambang.
Aktifitas pertambangan dengan teknologi komunikasi digital antara lain adalah menggunakan sistem monitoring untuk pergerakan alat-alat berat berbasis networking,  sistem geoteknik monitoring tambang yang menggunakan jaringan telekomunikasi tanpa kabel (wireless), sistem pengelolaan database intra-perusahaan berbasis server (hanya karyawan di perusahaan tersebut yang bisa mengakses data karena bersifat rahasia), sistem komunikasi melalui surat elektronik (email).
Dalam dunia pertambangan dikenal adanya suatu alat monitor pergerakan alat berat yang disebut dispatch. Alat ini bekerja dengan mengirimkan sinyal dari masing-masing alat berat di area kerja pit melalui repeater yang disebar di seluruh area kerja pit yang kemudian sinyal dari alat-alat berat tersebut diteruskan menuju ke control room yang berada di kantor, sehingga dapat diketahui posisi, hingga jumlah fuel yang masih tersedia dalam alat berat tersebut.
Sistem monitoring geoteknik untuk tambang juga saat ini telah menggunakan jaringan telekomunikasi wireless. Seperti yang terdapat pada alat monitoring bernama SSR (Slope Stability Radar) yang berfungsi memantau pergerakan suatu lereng tambang, apakah stabil atau tidak stabil. Data hasil pemantauan tersebut kemudian dikirimkan melalui jaringan wireless repeater yang tersebar di area tambang yang kemudian sinyal tersebut di terima di kantor pemantauan geoteknik. Data hasil pemantauan tersebut berupa angka-angka pergerakan dari masing-masing lereng yang terpantau dengan alat SSR tersebut. Sistem teknologi komunikasi digital tersebut berfungsi memaksimalkan produksi tambang dan memonitor adanya retakan-retakan tanah yang dapat menimbulkan patahan tanah ataupun longsor karena katifitas tambang. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan tambang, kerusakan lingkungan, dan korban jiwa akibat aktifitas tambang.
Hampir semua perusahaan tambang memiliki suatu sistem pengelolaan database yang terintegrasi dan bersifat eksklusif. Data-data tersebut disimpan dalam suatu server yang kemudian dipartisi sesuai kebutuhan masing-masing departemen dalam suatu perusahaan tambang. Hampir semua aktivitas pertambangan disimpan dalam server-server tersebut dan hanya bisa di akses sesuai departemen masing-masing dan memiliki akses khusus yang telah diatur dalam peraturan internal perusahaan.
Manfaat teknologi komunikasi dalam bidang pertambangan tersebut sesuai konsep yang dikemukakan oleh August E. Grant dalam buku Communication Technology Update and Fundamentals, yang melihat persfektif teknologi komunikasi digital di tengah masyarakat saat ini. Grant menyebutkan bahwa aspek yang menonjol dalam teknologi komunikasi bukan hanya dilihat dari hardware (perangkat/perelatan komunikasi) dan software (messages komunikasi). Namun lebih luas dari itu, yaitu dipengaruhi juga oleh keterbukaan sistem sosial-politik-dan media, pihak-pihak yang menyediakan perangkat dan infrastruktur, dan juga kesediaan individu/perusahaan/organisasi tersebut untuk mau atau tidaknya menggunakan teknologi komunikasi tersebut.
Dalam memahami teknologi komunikasi dalam masyarakat, Grant menganalogikan dengan perspektif payung, yaitu Umbrella perspective on communication technology. Seperti penampang pada payung, Grant menyebutkan bahwa level yang paling bawah adalah hardware dan software teknologi, level selanjutnya adalah infrastruktur organisasi, level teratas adalah sistem (politik, ekonomi dan media), dan yang terakhir, gagang payung dianalogikan sebagai individu pengguna teknologi, dimana individu tersebut dapat meng-handle teknologi (mau menggunakan teknologi tersebut atau tidak).
Seperti halnya perspektif Grant dalam Umbrella perspective on communication technology, aktifitas pertambangan yang telah memanfaatkan teknologi komunikasi digital, terjadi karena beberapa faktor, yaitu keterbukaan sistem politik-sosial dan regulasi pemerintah (level teratas/ke-3)  yang memperbolehkan perusahaan tambang menggunakan alat-alat berat dan sistem komunikasi yang berbasis teknologi digital, hal tersebut memang sudah diatur salah satunya oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral selaku regulator aktifitas pertambangan di Indonesia.
Selain itu juga ditunjang oleh pihak-pihak penyedia alat-alat teknologi digital (level ke-2) yang selalu update menjawab kebutuhan perusahaan tambang untuk meproduksi alat berat dan juga SSR yang berbasis teknologi komunikasi digital. Ketersediaan alat-alat teknologi juga ditunjang oleh sistem infrastruktur kabel dan nirkabel teknologi yang memadai.
Ketersediaannya pihak-pihak yang memproduksi alat-alat teknologi tersebut tentu akan menghasilkan hardware (perangkat/peralatan komunikasi) dan software (messages komunikasi) yang merupakan level pertama atau yang paling bawah dari Umbrella perspective on communication technology. Sehingga perangkat teknologi komunikasi tersebut dapat digunakan oleh perusahaan/individu pengguna teknologi, dalam hal ini adalah perusahaan tambang.
Selanjutnya yang terakhir adalah organisasi dan individu di perusahaan tambang tersebut sebagai “gagang payung”  yang mau belajar untuk menggunakan perangkat teknologi komunikasi digital, sehingga teknologi komunikasi digital tersebut benar-benar dapat memberikan dampak positif bagi profit perusahaan dan pencegahan bencana karena aktifitas tambang.

BukuAcuan
Grant, A. E. & Meadows, J. H. (2010). Communication Technology Update and Fundamentals. 12thEdition. Focal Press.
Lin, C.A.  & Atkin, D.J. (2002) Communication Technology and Society, Cresskill, NJ: Hampton Press, Inc.
Negroponte, N. (1995). Being Digital, NY: Vintage Books.
http://www.perhapi.or.id/

Monday, 6 April 2015

Keep Shining Girls!

If you have a good thoughts, they will shine out of your face like sunbeams and you will always look lovely (Roald Dahl)

Cantik itu apa? cantik adalah kurus? Big no! Yang benar adalah, wanita cantik itu sehat, cantik itu pintar, cantik itu mandiri, cantik itu memiliki kharisma, dan cantik itu memiliki attitude bagus. Ketika jiwa kita ‘cantik’, maka kecantikan fisik pun akan terpancar dengan sendirinya.
Bagi saya seorang wanita bisa disebut cantik, bukan karena fisiknya kurus-putih-langsing, namun wanita cantik adalah wanita yang tau makanan dan minuman apa yang baik dan tidak baik untuk tubuhnya, baju apa yang pantas dan tidak pantas dikenakan ketika datang di acara tertentu, kata-kata apa yang baik dan tidak baik untuk diucapkan, tindakan apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Wanita cantik adalah wanita cerdas, memiliki kharisma, pandai bergaul tapi tidak ikut arus, dan bisa menjaga diri. Terlihat sangat ideal, tapi sebenarnya kita para wanita bisa melakukan hal-hal itu semua, dimulai dari hal-hal kecil.
Apa yang bisa dilakukan untuk bisa cantik? dimulai dari makanan dan minuman. Masing-masing dari kita yang lebih paham dengan diri kita sendiri, makanan atau minuman yang apa yang baik untuk tubuh kita, yang membuat kita lebih sehat, yang membuat kita lebih produktif, dan makanan apa yang menjadi pantangan bagi tubuh kita masing-masing sehingga seharusnya tidak kita makan, misalnya menjaga makanan yang mengandung kolesterol tinggi, gula berlebih, alkohol berlebih dan lain sebagainya.
Membaca buku-buku yang bagus, mendengar lagu-lagu yang membawa kebahagiaan, dan melihat film atau acara televisi yang membangun. Secara tidak langsung ternyata buku yang kita baca, lagu-lagu yang sering kita dengar, dan acara-acara televisi yang kita tonton mempengaruhi karakter kita. Buku-buku bagus yang memberikan motivasi dan wawasan luas pasti akan menjadikan kita semakin bijak; lagu-lagu sedih akan menjadikan kita lebih melow dan galau, sedangkan lagu-lagu yang ceria dan penuh semangat akan menjadikan kita lebih positif dan produktif. Acara-acara televisi yang penuh dengan kekerasan, pembunuhan, kejahatan, akan membuat kita lebih tegang, tetapi acara-acara hiburan dan membuat kita banyak tertawa akan membuat kita rilex, dan awet muda.
Menggunakan panca indera kita untuk hal-hal yang baik. Seringlah memanjakan mata, telinga, hidung, mulut, kaki, dan tangan kita, untuk melihat, mendengar, merasa, dan melakukan hal-hal yang membuat kita happy, membuat kita banyak tersenyum, dan lebih produktif dalam bekerja
Sebagai wanita, saya pun pernah mengalami rambut rontok, jerawat, kulit wajah pucat, badan lemas, ternyata obat yang paling ampuh untuk menjaga kesehatan dan kecantikan adalah hati yang bahagia dan hidup yang positif. Semua yang sudah disebutkan diatas mulai dari makanan yang saya makan, buku-buku yang saya baca, lagu-lagu yang saya dengar, dan orang-orang yang ada di sekitar saya ternyata sangat berpengaruh membawa energi positif bagi hidup saya.

So, keep shining girls! yuk bersama-sama menjaga kesehatan dan kecantikan diri kita, mulai dari hal-hal sederhana setiap hari. Nikmati hidup sebahagia dan sepositif mungkin. Terus berkarya dan menjadi terang dimanapun kamu berada.

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...