Tuesday, 10 April 2018

Budaya Internet dan Globalisasi

Source pinterest

The world is flat! dunia semakin datar. Jarak bukanlah menjadi kendala untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Kelahiran internet telah membuka mata dunia, berbagai informasi mulai dari politik, ekonomi, sosial hingga fashion dari belahan benua lain sekalipun dapat diakses hanya dengan hitungan detik saja. Bayangkan saja, model fashion terbaru musim ini dari Domenico Dolce dan Stefano Gabbana, Marc jacob, ataupun Christian Dior dari pusat mode dunia di Paris, Italia, ataupun Milan, dapat kita ketahui hanya dengan hitungan detik saja melalui internet, tanpa kita harus bersusah payah pergi ke Paris, Italia ataupun Milan untuk melihatnya.

Model-model baju terbaru, model sepatu, trent rambut dunia yang sedang populer saat ini, makanan tradisional dari belahan dunia manapun, kendaraan terbaru, perangkat teknologi tercanggih, budaya-budaya populer seperti K-Pop, dalam hitungan hari semua itu dapat menjadi tren dunia, dapat diterima dan diadopsi secara global. Tren dunia tersebut akhirnya masuk dan diterima secara global menjadi tren karena peran media massa dan internet, film, ataupun buku yang menyebarkannya. Hal tersebut disebut sebagai globalisasi. Globalisasi yaitu perubahan budaya terkait dengan teknologi, informasi, komunikasi dan gaya hidup, yang memiliki sifat menyeluruh, diterima di seluruh belahan dunia manapun.
Dalam sejarahnya, globalisasi, pertama kali diungkapkan oleh Theodore Levitte pada tahun 1985, dalam hal ini globalisasi menunjuk pada sistem politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Sekitar tahun 1985 globalisasi mulai muncul dengan adanya revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik pada waktu itu dapat melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Sedangkan disintegrasi negara-negara komunis, menjadi motor globalisasi karena disintegrasi negara komunis memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global pada waktu itu.
Globalisasi semakin meluas hingga ke seluruh dunia ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Sehingga, globalisasi telah membawa perubahan perilaku terhadap kehidupan masyarakat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Salah satu contoh globalisasi adalah dalam bidang komunikasi. Friedman (2005) menyebutkan globalisasi komunikasi adalah kemampuan untuk menyediakan dan mengakses informasi dalam berbagai latar belakang budaya dengan cara berbicara, mendengarkan, atau membaca dan menulis. Di era globalisasi ini, kemampuan bahasa global (bahasa Inggris, Mandarin) sangat diperluakan untuk pergaulan Internasional, terutama untuk urusan bisnis, kerjasama kenegaraan, ataupun pendidikan dan penelitian.
Bentuk globalisasi selanjutnya adalah globalisasi media. Globalisasi media massa yaitu persebaran atau serbuan media massa baik surat kabar, majalah, televisi ataupun radio ke seluruh dunia. Apabila globalisasi media tidak diantisipasi dengan baik, akan terjadi benturan antar budaya lokal dari luar negeri yang tak dikenal oleh bangsa Indonesia. Contoh globalisasi media yang mulai masuk ke Indonesia yaitu munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia seperti : majalah Playboy, Cosmopolitan, Spice, FHM (For Him Magazine), Good Housekeeping, Trax dan sebagainya. Demikian halnya dengan acara televisi dan radio, di Indonesia telah banyak program-program acara produksi Amerika, Eropa dan beberapa negara Asia versi Indonesia, seperti tayangan Indonesian Idol, X-Factor, Mater Chef, drama korea, telenovela, dan lain sebagainya.
Selain globalisasi komunikasi dan globalisasi media, globalisasi teknologi juga memberikan efek besar terhadap perubahan budaya dan kemajuan bidang ekonomi suatu Negara. Globalisasi teknologi yaitu lahir dan berkembangnya berbagai macam teknologi yang memudahkan pekerjaan manusia, teknologi baik dalam bidang komunikasi, pertanian, ataupun industri. Masuk, berkembang dan diadopsinya berbagai macam perangkat teknologi ke Indonesia menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Negara. Sebut saja berbagai macam perangkat teknologi komunikasi buatan Amerika seperti iPhone, iPad, iPod, dan Negara Korea dengan produk Samsung android yang merajai pasar dunia. Adanya perkembangan teknologi komunikasi tersebut menjadikan jarak tak berarti. Setiap orang bisa berkomunikasi dan mengakses informasi dimanapun dan kapanpun juga secara cepat dan mudah.
Globalisasi lahir sebagai perwujudan upaya atau  respon manusia untuk dapat menaklukkan dan mengolah alam dan segala tantangan dunia (challenge) demi kelangsungan hidupnya. Globalisasi semakin berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga dapat mempermudah kerja manusia, secara efesien dan produktif
Sering kita mengidentikkan globalisasi dengan perkembangan dalam bidang ekonomi, Namun walaupun demikian, secara tidak langsung globalisasi juga mempengaruhi transformasi masyarakat menuju cybercultureGlobalisasi merupakan salah satu pendorong berkembangnya cyberculture (budaya cyber/internet). Cyberculture menurut Manovich dalam buku The New Media Reader adalah budaya yang muncul dari penggunaan jaringan komputer untuk komunikasi, hiburan dan bisnis. Cyberculture menyangkut hubungan antar manusia, komputer dan kepribadian yang dilakukan di dunia maya.
Beberapa ciri cyberculture yang berkembang di Indonesia dapat diketahui sebagai berikut: komunikasi global berkembang sangat cepat, meretas batasan jarak dan waktu, dapat dilihat dari perkembangn barang-barang seperti munculnya media digital, telpon selulertelevisi satelit,  dan internet; Perdagangan internasional, perusahaan multinasional dan dominasi organisasi semakin berkembang dan menjadikan pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung satu dengan yang lain; Media massa menjadi pendorong tumbuhnya interaksi cultural antar bangsa. Berbagai macam budaya asing mulai masuk dan berkembang di Indonesia, misalnya dalam bidang  fashionmakanan, lagu dan film.
Globalisasi  dan cyberculture mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Seperti yang disampaikan oleh Friedman di buku The World Is Flat bahwa globalisasi berkembang dalam tiga era, yaitu globalisasi 1.0, globalisasi 2.0 dan globalisasi 3.0.
Pertama kali muncul adalah globalisasi 1.0, yaitu merupakan globalisasi negara. Globalisasi web 1.0 dimanfaatkan untuk kepentingan Negara. Pemerintah dan lembaga terkait beperan penting sebagai pengguna dan pengembang teknologi komunikasi. Segala bentuk media teknologi komunikasi yang ketika itu masih web 1.0 yang masih bersifat satu arah, dimaksimalkan oleh Negara untuk mengirim informasi dalam bentuk elektronik mail antar negara ataupun antar pejabat kenegaraan.
Selanjutnya berkembang globalisasi 2.0, yang disebut sebagai era globalisasi perusahaan. Web 2.0 yang bersifat dua arah, telah menjadi bagian terpenting bagi perkembangan bisnis perusahaan. Aktivitas ekonomi komunikasi seperti perjanjian jual-beli, tawar menawar harga, promosi, pemasaran tidak hanya terjadi secara fisik, namun dapat dilakukan secara online dengan media internet. Sehingga kegiatan bisnis menjadi semakin luas tak terpancang jarak dan waktu. Sehingga mulai muncullah e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking, sebagai bagian dari globalisasi 2.0.
Globalisasi 2.0 belum merata dirasakan hingga ke daerah-daerah terpencil di Indonesia, namun kini sudah mulai muncul dan berkembang era globalisasi 3.0, Friedman menyebutnya sebagai globalisasi individu. Globalisasi 3.0 merupakan pemberdayaan individu, dimana individu sangat dimudahkan oleh kecanggihan web 3.0 (web semantik). Dalam hal ini web 3.0 dengan pintar dapat memprediksi, memberikan rekomendasi dan menyediakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan masing-masing individu, sehingga masing-masing individu tersebut dapat memiliki media untuk menyalurkan bakat minatnya dan semakin kreatif mengembangkan potensi pribadinya.
Globalisasi tidak hanya memberikan pengaruh kepada kehidupan masyarakat Indonesia, namun juga merata bagi masyarakat dunia. Tidak ada lagi batas-batas penghalang aktivitas komunikasi antarindividu ataupun kelompok. Globalisasi telah menjadi jendela dunia yang menyediakan berbagai informasi dari berbagai Negara di seluruh penjuru dunia. Berbagai macam informasi diproduksi dan dikonsumsi dari satu tempat ke tempat lain. Bagai pisau bermata dua, banyak hal positif dari pengaruh globalisasi, namun juga tidak sedikit hal negatif yang terkandung di dalamnya. Sehingga membutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan kita untuk dapat menyaring informasi yang pantas dan tidak pantas untuk kita konsumsi.

Buku Acuan
Dominick, J. R. (2008). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill, International Edition
Friedman, Thomas. (2005). The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century, Farrar Straus and Giroux (USA)
Littlejohn, S.W. (2010). Theories of Human Communication, Belmont, CA: Wadsworth
 Manovich, Lev. "New Media From Borges to HTML." The New Media Reader. Ed. Noah Wardrip-Fruin & Nick Montfort. Cambridge, Massachusetts, 2003. 13-25.
Toffler, Alvin. (1980). The Third Wave. Bantan Books (USA)





Thursday, 5 April 2018

As We May Think

Illustration by Rachel Levit

Like any people living in the age of information superhighway, sepertinya saya pun tak bisa lepas dari kebutuhan akan tautan informasi pada jaringan internet (world wide web). Keberadaan internet sudah menjadi bagian vital dalam hidup saya, kalau diibaratkan mungkin internet bagi saya sepertihalnya oksigen untuk bernafas dan air untuk saya minum, sevital itulah kira-kira (iya tahu, saya memang lebay :p). Karena merasa terbantu sekali dengan jaringan internet dan website, sayapun tertarik untuk mengulas salah satu artikel klasik karya Vannevar Bush tahun 1945, yang berhasil meramalkan kemunculan new media.
Adalah “As We May Think”, yaitu artikel klasik yang ditulis oleh Vannevar Bush tahun 1945 di majalah Atlantic Monthly. Bush menyebutkan bahwa manusia harus membangun peradabannya sendiri, manusia harus memesinkan segala catatannya, dimana manusia tak harus terkendala dengan ingatan pendeknya sendiri.
As We May Think telah menginspirasi terciptanya internet dan world wide web (website). Jauh sebelum internet ditemukan, Vannevar Bush dalam artikelnya tersebut telah memprediksi tingkah laku manusia ketika masuk era new media, baik itu dari sisi positif maupun negatifnya. Menurutnya, human mind bekerja berdasarkan asosiasi (assosiation). Dengan sebuah data (informasi) dipegang, maka ia akan meyambung dengan informasi berikutnya yang terasosiasi dengan data sebelumnya.
Siapa sih Vannevar Bush? Dia adalah seorang insinyur dan ilmuwan berkebangsaan Amerika yang dikenal karena pencapaiannya pada bidang komputasi analog. Ia menemukan 50 buah penemuan antara lain komputer analog yang ia beri nama Differential Analyzer (alat penganalisis aljabar tinggi), yang mampu menghitung persamaan aljabar tinggi. Tahun 1945 Bush menulis artikel berjudul As We May Think di majalah Atlantic Monthly, tulisannya tersebut sangat popular dan menjadi cikal bakal munculnya era new media.
As We May Think menjadi popular karena disebut-sebut sebagai artikel yang berhasil meramalkan beberapa jenis teknologi masa kini diantaranya : Hypertextpersonal computerinternetspeech recognition bahkan hingga ensiklopedia daring seperti Wikipedia. Dalam artikelnya, Bush mendeskripsikan sebuah mesin teoretis bernama Memex (Memory Extender), sebuah mesin mekanis yang berfungsi sebagai peranti penyimpanan dan pengambilan informasi.
Seperti ibarat otak manusia yang membentuk memori melalui asosiasi neuron, memex juga memanfaatkan teknologi microfilm sebagai media penyimpanan dimana pengguna dapat menghubungkan dokumen-dokumen yang tersimpan pada Memex.
Secara fisik memex dideskripsikan terdiri atas sebuah meja yang dilengkapi dengan layar, keyboard, tombol dan pengungkit (lever) serta tempat penyimpanan microfilm. Informasi yang tersimpan dalam microfilm dapat diakses dengan cepat dan ditampilkan melalui layar yang disediakan. Bush menyebut konsep ini sebagai “associative trails”, setiap trail nantinya dapat dilengkapi dengan komentar tambahan untuk memperjelas hubungan antar dokumen yang dihubungkan.
Ilustrasi bentuk Memex yang menggunakan meja, layar dan keyboard dapat dikatakan mirip dengan bentuk personal computer masa kini. Konsep Associative trail yang Bush usulkan mirip dengan teknologi hypertext yang muncul pada era 60-an, dan juga bentuk dari tautan informasi pada jaringan Internet (world wide web). Secara eksplisit Bush dalam artikel tersebut juga meramalkan dengan sangat dekat akan kemunculan ensiklopedia-ensiklopedia yang lengkap dengan “associative trail” dan dapat digabungkan satu sama lain, mirip dengan apa yang ditawarkan wikipedia saat ini.
Dalam artikelnya, Vannevar Bush juga mengungkapkan tentang keprihatinannya akan arah tujuan usaha penelitian di bidang sains lebih pada kehancuran, karena masa itu penelitian dipusatkan untuk pengembangan senjata dan strategi perang, dibandingkan untuk tujuan pemahaman dan mencari penjelasan rinci dengan mesin memori kolektif dengan konsep “memex”, yang akan membuat berbagai pengetahuan menjadi accessible, dan dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan manusia.
Setelah perang dunia ke dua berakir, penelitian di bidang sains semakin dikembangkan. Demikian halnya dengan penelitian pada jaringan internet dan website juga semakin berkembang pesat. Seperti apa perkembangan dan dampak internet bagi dunia? akan saya tulis di tulisan saya selanjutnya 😉
Itulah sedikit tulisan tentang ‘As We May Think, artikel klasik yang ditulis oleh Vannevar Bush tahun 1945 di majalah Atlantic Monthly, yang memprediksi tingkah laku manusia ketika masuk era new media, hingga akhirnya prediksi tersebut menjadi nyata sejak jaringan internet dan website ditemukan tahun 1990an, dan semakin berkembang hingga sekarang.

Tuesday, 6 March 2018

Kamu, Kapan Nikah?



We are pretty outstanding woman, don’t worry. The world is so big. There are so many different ways to live. A person don’t have to be married to be happy

Sebagai wanita yang hampir masuk usia kepala tiga (30 tahun +) dan belum menikah, saya bisa merasakan ‘penderitaan’ teman-teman seusia saya yang belum menikah atau bahkan belum memiliki pasangan, yang merasa tertekan ketika selalu ditanya ‘kapan nikah?’ baik oleh keluarga ataupun lingkungan sekitarnya. Awalnya kesal, sebel, risih karena ditanya-tanya terus, tapi lama-kelamaan saya cuek menanggapinya.
Beruntung, karena saya mempunyai ibu yang tidak pernah menuntut saya, dalam dalam hal apapun, termasuk urusan kapan saya akan menikah dan dengan siapa saya akan menikah nanti. Justru ibu pernah bilang kepada saya bahwa, menikah itu bukanlah satu-satunya tujuan hidup manusia. Masih banyak hal lain yang juga harus diperjuangkan. Ibu bukan bermaksud mengatakan kalau nikah itu bukan hal yang penting, tetapi maksudnya adalah, tidak usah terlalu dirisaukan dan dipikirkan kapan kamu akan menikah, menikahlah ketika kamu benar-benar siap untuk menikah. Dia yang menciptakan kamu dan membentuk hati kamu, lebih tahu isi hati kamu, dan akan mendekatkan jodoh yang tepat ketika kamu benar-benar siap untuk menikah.
Di suatu malam, ibu yang waktu itu mengetahui kegalauan hati saya, mengirimkan sebuah tulisan mengenai ‘alasan menikah’ melalui pesan WhatsApp, baiklah, saya akan membagikannya untuk teman-teman yang juga merasakan kerisauan mengenai ‘kapan akan menikah?,’ dan ‘dengan siapa akan menikah nanti’
Ketika kamu akan menikah, coba dicek lagi, apa alasan kamu akan menikah?
Jangan menikah hanya karena merasa ‘sudah umurnya menikah’ atau merasa sudah semakin tua,
Jangan menikah karena kamu merasa kesepian dan butuh seseorang untuk menemanimu setiap saat,
Jangan menikah karena kamu membutuhkan support keuangan dari pasangan kamu (masalah ekonomi),
Jangan menikah karena kamu ingin membalas dendam dengan mantan pasangan kamu yang telah menikah duluan,
Jangan menikah karena kamu takut kehilangan orang yang kamu sayangi,
Jangan menikah hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan seksual,
Jangan menikah hanya karena tekanan dari keluarga atau lingkungan sekitar kamu,
Jangan menikah karena semua teman-temanmu sudah menikah.
Menikahlah karena kamu memang telah benar-benar siap menikah. Menikahlah karena memang kamu benar-benar mencintai pasangan kamu, dan merasa mantab untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengannya, menjadi teman hidup hingga diusia senja.
Dia yang ingin kamu nikahi adalah dia yang semakin hari semakin membuatmu jatuh cinta, selalu membuatmu bahagia ketika didekatnya. Dia mungkin tidak sempurna, namun dia menyempurnakan hidupmu. Dia yang ingin kamu nikahi adalah dia yang menjadi partner terbaik dalam hidupmu, saling mendukung dan bertumbuh dalam iman bersama-sama. Kadang memang terjadi pertengkaran kecil, namun akan selalu ada jalan untuk bersama kembali, melangkahkan kaki seiring sejalan kembali. Begitulah seharusnya J
Jadi, untuk kamu yang sekarang belum menikah, atau sudah memiliki pasangan namun belum juga menikah, atau bahkan memilih untuk tidak menikah, janganlah risau dengan tekanan di lingkungan kamu, ingat satu hal bahwa kita adalah pilot dalam hidup kita sendiri, bukan orang lain yang mengatur hidup kita. Kita sendiri yang memilih kemana akan melangkah. Kita yang memilih bagaimana kita akan merancang bahagia kita masing-masing. Mengutip quotes favorit saya dari Banksy, Not everyone will understand your journey. That’s okay. You’re here to live your life, not to make everyone understand. J

Thursday, 5 October 2017

Turn Your Bad Day Into a Positive One

Keep calm when things don’t go according to your expectations

Beautiful things always meet friction


Noor Unnahar
Hidup tak melulu bercerita tentang tawa, kesuksesan ataupun kebahagiaan, ada kalanya apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya, ada kalanya kita mengalami kegagalan, kekecewaan ataupun konflik dengan seseorang. Ada kalanya ketika semua hal kecil nampaknya salah atau saat kita lebih mudah tersinggung tanpa penjelasan.
Ketika masih kecil dulu, saat saya sedang bersedih atau dalam suasana hati yang buruk, ibu saya akan mengantar saya ke tempat tidur, menarik selimut saya dan memberikan minuman hangat. Sebelum menutup pintu kamar, dia akan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja dan tidak perlu terlalu dicemaskan.
Cara ibu menenangkan saat saya sedang bersedih waktu kecil dulu, masih berlanjut sampai saya dewasa dan tinggal berbeda kota dengan ibu. Saya tidak pernah lupa betapa kuatnya pendekatan sederhana terhadap hari-hari sulit ini. Dari beberapa menit yang dihabiskan di balik selimut tempat tidur, sambil mendengarkan musik atau menulis buku, saya menemukan kekuatan untuk memberi izin pada diri saya untuk memulai hari saya dengan lebih bersemangat dan mood lebih baik lagi. Tentu itu bukan hal yang mudah, namun saya percaya bahwa saat menghadapi masa-masa sulit, kita cukup ingat tiga hal : rest, relax, enjoy, dan yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Tentu saja, masing-masing orang memiliki cara lain untuk mengembalikan semangat positif setelah mengalami hari beratnya. Misalnya dengan minum kopi atau cold beer, mendengarkan musik, nonton, jalan-jalan, shopping dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari kita memiliki pekerjaan dan keluarga yang membutuhkan kita, masih banyak hal-hal yang harus kita selesaikan juga oleh karena itu penting bagi kita untuk segera mengembalikan semangat baru setelah mengalami hari yang berat.
Setiap orang pernah mengalami hari-hari yang sulit, Leah Weiss seorang profesor Stanford University, mengatakan bahwa saat kita menghadapi hari yang sulit (bad day) langkah pertama adalah bersikap baik pada diri sendiri, sadari bahwa kita tidak sempurna dan kenali kekurangan kita. Bad day tidak selamanya buruk, namun kadang menjadi moment yang tepat untuk instrospeksi diri. Dengan mengenali kelemahan, kita dapat membangun kekuatan kita.
Ketika sedang menghadapi hari-hari yang sulit, ingatlah selalu bahwa hidup sangat berharga, diatas segala tantangan, prasangka dan keadaan paling kritis sekalipun. Akhirnya kita pun akan menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan air mata untuk memupuk kesabaran, kegagalan untuk mengukir kedamaian, kesedihan untuk mengalasi kebahagiaan, kesulitan untuk membuka jendela pengetahuan. So, Every single day is a good day, no matter how bright or dark it is, because it always brings an opportunity to start a positive beginning in your life.

Tuesday, 20 June 2017

How Positive Thoughts Boost Your Luck

Once you replace negative thoughts with positive ones, you'll start having positive results 
(Willie Nelson)


Tahun lalu, seorang teman memberikan sebuah kalung pada saya. Sewaktu memberikan kalung oleh-oleh dari Jepang itu, teman saya sempat bilang, kalau kalung tersebut membawa keberuntungan. Saya termasuk orang yang rasional dan tidak percaya dengan hal-hal semacam itu, namun karena penasaran sayapun kemudian membuktikannya.
Kapanpun dan dimanapun saya selalu membawa kalung itu dan menyimpannya di dalam tas. Anehnya, sejak membawa kalung tersebut kemanapun saya pergi, saya merasa selalu beruntung. Apapun itu, dalam hal apapun, kondisi apapun dan berada dimanapun, saya merasa menjadi orang yang selalu beruntung, hidup saya mudah, ringan dan tanpa beban.
Beberapa bulan kemudian tiba-tiba saya kehilangan kalung yang sangat berharga buat saya tersebut. Kalung dari perak dengan liontin bertuliskan “LUCK” tersebut hilang dari tas saya. Saya panik. Pikiran saya kacau. Bukan karena harga barang tersebut, tapi lebih karena ketakutan dan kecemasan saya tentang ‘keberuntungan’ saya selanjutnya. Karena saya selama ini meyakini bahwa kalung itulah pembawa keberuntungan saya.
Sekian hari saya cari, tapi kalung tersebut tidak ketemu juga. Akhirnya saya pun menyerah. Mungkin kalung itu hilang karena memang sudah waktunya hilang. Toh sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Selalu ada yang datang dan pergi. Termasuk kalung itu. Ada ataupun tidak ada kalung itu saya tetap terus bergerak, sibuk dengan rutinitas saya, kegiatan saya, dan lama kelamaan saya pun melupakan kalung itu.
Tanpa saya sadari, ternyata kekawatiran saya tentang ‘luck’ karena kehilangan kalung tersebut tidak terbukti. Hidup saya tetap ringan, enjoy, lancar, dan tetap...., saya merasa selalu beruntung!
Dari hal tersebut, saya mulai paham bahwa ‘keberuntungan’ saya selama ini bukan karena kalung tersebut, tetapi karena diri saya sendiri. Ada ataupun tidak ada kalung itu, hidup saya tetap baik-baik saja. Saya beruntung ya karena memang saya ingin beruntung. Saya bisa ya memang karena saya yakin saya bisa. Saya bahagia ya karena memang saya ingin selalu bahagia. Artinya, bahwa hal-hal baik akan datang ketika pikiran kita positif. Ketika kita yakin kita bisa, maka alam bawah sadar kita akan mengerahkan diri kita hingga akhirnya kita benar-benar bisa, tapi kalau dari awal kita sudah menyerah dan berfikiran negatif, maka hasilnya pun akan negatif juga.
Percayalah, bahwa semesta akan mendukung kita ketika pikiran kita selalu positif, hal-hal baik akan datang dan hal-hal negatif akan pergi dengan sendirinya. Dalam hal ini bukan berarti hidup kita lancar dan tanpa masalah, manusiawi kalau kita punya segudang masalah, namun hebat ketika kita bisa melihat segala masalah yang kita hadapi dengan pikiran positif dan terbuka, bukan justru berfikiran sempit dan mengeluh atau bahkan menyalahkan orang lain dari masalah kita.
Saya tahu, ini pasti tidak mudah, tapi sebenarnya ini semua hanya soal bagaimana sudut pandang kita terhadap masalah tersebut. Berat atau tidaknya masalah kita itu tergantung pikiran kita sendiri. Sepenuhnya diri kitalah yang bisa mengendalikan diri kita, apakah akan berlarut dalam masalah dan pikiran negatif kita atau justru dapat bangkit dari masalah tersebut dengan pikiran positif. Mengutip kata-kata dari Abraham Lincoln :
 “We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have  roses” , Kita bisa mengeluh karena mawar memiliki duri, atau bersukacita karena semak berduri memiliki mawar.
Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa segala sesutu tergantung sudut pandang kita. Sulit-mudahnya suatu masalah, susah-senangnya hati kita, lemah-kuatnya diri kita, itu menurut saya sepenuhnya kita yang mengendalikan dan mengatur, bukan orang lain, benda atau apapun juga.
Namanya juga manusia, ketika beban di pundak semakin banyak, dan hidup terasa lebih berat, kita pun kadang sering complain, mengapa hidupku seperti ini, atau mengapa hidupku tak seenak dia, tak sekaya, secantik, setampan, sesukses dia, tak bisa bersama si dia dan lain sebagainya, mulai sekarang, stop complain.
Yuk, kita berfikiran positif. Cintailah hidup kita, maka semesta akan berbalik mencintaimu. Love your own life, and it will love you right back! Untuk penutup, saya punya kutipan kata-kata menarik dari Harvey Fierstein, berikut ini :
I do believe we're all connected. I do believe in positive energy. I do believe in the power of prayer. I do believe in putting good out into the world. And I believe in taking care of each other. (Harvey Fierstein)

Be Happy Anyway,
With Love

Paulina

Tuesday, 7 February 2017

U-Report UNICEF : Dukungan Sosial Dari dan Untuk Anak-Anak Indonesia

(Paulina Damayanti)

Kecintaan saya dengan anak-anak mendorong saya untuk bergabung dengan U-report UNICEF via Twitter sejak bulan Februari 2015. Menurut saya, tidak cukup hanya memiliki gagasan saja namun perlu diikuti aksi nyata untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap isu-isu yang menyangkut perlindungan anak. Terlebih mengingat semakin banyaknya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak-anak, kekerasan dalam sekolah (bullying), pernikahan anak, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan anak, maka saya tergerak untuk semakin aktif menyuarakan perubahan untuk perlindungan anak melalui U-Report.

Pendidikan (Anak Putus Sekolah)
Sepanjang tahun 2015 ini, menurut saya isu yang menarik dan penting untuk disuarakan adalah menyangkut ‘Anak Putus Sekolah’ (Pedidikan), karena tak terelakkan lagi pendidikan adalah hak setiap anak. Seperti halnya makanan dan pakaian, pendidikan adalah hal krusial yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia, karena pendidikan adalah pondasi penting bagi masa depan anak-anak Indonesia. Namun faktanya, menurut data dari UNICEF sebanyak 2,5 juta anak Indonesia putus sekolah, dan itu adalah berita buruk.
            Penyebab anak-anak putus sekolah, selain karena kekurangan biaya juga karena kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan kurang. Bagi kebanyakan orang tua (terutama di pedesaan atau daerah terpencil), pendidikan cukup bisa menulis, membaca dan berhitung, sejauh anak-anak sudah bisa menulis, membaca dan berhitung itu cukup dan tidak perlu melanjutkan pendidikan lagi. Selain itu banyak orang tua (terutama dari keluarga kurang mampu) yang beranggapan jika pendidikan tidak penting, yang terpenting anak-anak pintar mencari uang dan perut kenyang, sehingga tak heran bila banyak anak-anak putus sekolah.
            Pendidikan merupakan tiang utama kemajuan bangsa, pendidikan wajib belajar 9 tahun memang wajib didukung semua pihak, tidak hanya pemerintah yang bekerja, namun juga kita harus turut menyuarakan dukungan positif untuk mendorong anak-anak Indonesia menyelesaikan pendidikan, minimal wajib belajar 9 tahun.

Pernikahan Anak
            Selain pendidikan, isu yang menarik dan penting untuk disuarakan adalah menyangkut pernikahan anak. Kasus pernikahan usia dini di Indonesia berbanding lurus terhadap lonjakan angka putus sekolah dan kemiskinan. Menurut UNICEF, sebanyak 50.000 anak perempuan Indonesia diperkirakan menikah sebelum usia 15 tahun, itu bukanlah angka yang sedikit, namun sudah cukup mengkawatirkan dan perlu segera diselesaikan.
            Tradisi atau budaya yang telah mengakar di masyarakat menjadi salah satu penyebab pernikahan anak. Perempuan masih dianggap dibawah lelaki, sehingga pendidikan dinilai tidak penting bagi perempuan, yang terpenting ada yang mau menikahi. Karena masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa perawan tua dianggap aib, jadi lebih baik cepat nikah di usia dini daripada tidak laku. Selain karena tradisi, pernikahan anak juga karena faktor ekonomi dan status sosial, untuk mengangkat drajad dan kemapanan ekonomi keluarga.
            Pernikahan anak jelas melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan meraih cita-cita mereka. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan edukasi, advokasi dan konseling secara berkesinambungan.

Why is U-Report UNICEF  a good innovation for Indonesia? 
            Di era WEB 2.0 media baru mulai berkembang, melalui berbagai akun sosial media seperti blog, facebook, twitter, youtube, semua orang bisa menjadi sumber informasi dan  informasi yang disampaikan dapat lebih cepat, efektif, dan efisien.
Seperti yang telah digalakkan oleh UNICEF Indonesia melalui akun U-Report Indonesia di twitter. Hadirnya U-Report di Indoensia tentu membawa semangat positif untuk membawa perubahan positif dan membawa anak-anak muda Indonesia menjadi agen perubahan. Di U-report anak-anak muda dapat berkontribusi meyumbangkan ide, dan menyuarakan isu-isu yang berhubungan dengan anak dan remaja di Indonesia. Hal tersebut tentu sangat efektif, karena akun tersebut ditujukan untuk dan dibuat oleh anak-anak muda sendiri. Isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam sekolah (bullying), HIV AIDS, dan pendidikan, dapat diinformasikan di U-Report secara up to date, dan dengan bahasa yang mudah dipahami, selain itu juga melatih kreatifitas kaum muda Indonesia untuk berekpresi menyuarakan pendapatnya melalui video, fotografi, ataupun essay mengenai isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda dan remaja, dan langsung dapat diupload di akun U-Report tersebut.

Why is it important for young people's voices be heard?
            Anak-anak muda adalah agen perubahan bangsa. Kelak anak-anak mudalah yang akan memimpin bangsa, akan membuat regulasi, akan memutuskan ke arah mana negara dan bangsa ini akan di bawa, sehingga suara anak muda sangat penting untuk didengar.
Anak muda kini bukan hanya sebagai penerima layanan yang pasif namun juga berperan aktif dalam perencanaan strategis dan rencana aksi nasional untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan regulasi yang menyangkut anak dan remaja Indonesia.
Harapannya U-Report semakin aktif untuk memberikan informasi dan edukasi terkait perlindungan anak, undang-undang dan regulasi yang berlaku dan juga kasus-kasus atau fakta berbagai permasalah anak dan remaja yang terjadi di Indonesia. Selain itu U-Report dapat menjadi wadah untuk menyuarakan curahan hati, mimpi, harapan dan aspirasi anak-anak dan remaja di seluruh Indonesia.



 

Thursday, 1 September 2016

The Adventures of Media

(Paulina Damayanti)

Bicara tentang media massa, media sosial, dan produk-produk media memang tidak ada habisnya. Produk-produk media massa ataupun new media (internet) termasuk sosial media di dalamnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, yang rasanya hidup tak lengkap kalau sehari saja tidak mengakses media.
 Kali ini bolehlah saya mengutip kata-kata dari Malcolm, The media’s the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty, and to make the guilty innocent, and that’s power. Because they control the mind of the masses. Hal itu menandakan bahwa pengaruh media sangat besar bagi kehidupan kita. Secara tidak sadar kita dikonstruksi oleh media yang kita konsumsi sehari-hari, you are what you watch or you are what you read.
Sebagai contoh, saya mencoba untuk melihat salah satu produk media, yaitu kartun satir berjudul The Adventures of Media Lapdog for Obama, yang diambil dari website People’s Cube. Tujuannya adalah memaknai pesan dibalik media tersebut. Kita harus sadar bahwa selalu ada ‘pesan’ dibalik media, bahwa kelompok dominan selalu berhasil menggiring opini karena mereka mayoritas, juga kelompok lainnya yang berjuang dengan ideologi mereka yang mencoba melawan kekuatan dominasi. Berikut ulasannya :

Autor
The Lapdog for Obama, diambil dari website People’s Cube. Website tersebut adalah komunitas humor politik di Amerika Serikat (AS), yang membuat cerita kartun satir untuk mengkritisi pemerintah dan para tokoh politik AS. Penulis dan pemilik website tersebut adalah Oleg Atbashian.
Sebelum pindah ke AS pada tahun 1994, Atbashian tinggal di Ukraina, ia bekerja sebagai seniman propaganda Uni Soviet, membuat poster propaganda politik dan agitprop visual untuk Komite Partai lokal di Siberia. Selama waktu itu, Oleg menyaksikan dan merasakan sendiri transisi republik Uni Soviet (Negara komunis) dari sosialisme, kleptokrasi dan korupsi.
Pada tahun 1994 ia pindah ke AS dengan harapan hidup di negara liberal, menghargai kebebasan dan kemakmuran. Namun Oleg kecewa karena liberalisasi di Amerika yang liberty & equal tidak seperti ekspektasi dia, sehingga ia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah. Terutama ia mengkritisi kandidat calon Presiden dari partai demokrat, yaitu Obama. Aktivisme Oleg ini berkembang, memanfaatkan new media, yaitu dengan website yang diberi nama website People’s Cube.
People’s Cube mengkonstruksi pesan dengan menggunakan kartun tokoh Obama dan seekor anjing. Anjing tersebut menggambarkan media Amerika yang memiliki karakter lapdog (anjing pangkuan), dan tidak menjalankan fungsinya sebagai watch dog (anjing pengawas). Media dianggap memihak Obama (waktu itu sebagai calon Presiden Amerika 2008, dari partai Demokrat).

Konten
Dari segi format, kartun The Lapdog for Obama di website People’s Cube memiliki warna dominan merah. Warna merah yang dominan dan seragam, sewarna, merupakan ciri komunis yaitu diseragamkan. Seperti diambil dari Story of the Red Flag (situs Partai Komunis Revolusioner Amerika Serikat) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, kata ‘merah’ memiliki kaitan erat dengan ideologi komunis. Setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, merah menjadi warna bendera nasional Uni Soviet, hingga akhir masa hidup negara tersebut pada 1991.
Dalam mitologi Soviet, merah dianggap sebagai warna darah yang ditumpahkan oleh kelas pekerja dalam perjuangannya melawan penindasan kapitalisme. Bendera merah dalam dunia politik adalah simbol politik sayap kiri, terutama sosialisme dan komunisme. Bendera ini telah dikaitkan dengan politik sayap kiri sejak meletusnya Revolusi Perancis (Story of the Red Flag, 2006).
Judul kartun tersebut adalah The Adventures of Media Lapdog for Obama, kata ‘media’ ditulis dengan warna merah, seperti yang dijabarkan diatas, bahwa warna merah adalah simbol komunis. Oleg menganggap bahwa media tak ada bedanya dengan kaum komunis dan sosialis, yang menjadi agen propaganda dan pembentuk citra positif Obama.
Obama dan media bekerjasama untuk meraih kekuasaan (power) dengan cara menarik simpati dari publik Amerika dan dunia. Hal tersebut dinilai Oleg sebagai konspirasi yang merugikan masyarakat yang seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan liberty & equal.
Judul artikel adalah Media the Lapdog for Obama, sangat lugas dan langsung dapat dipahami bahwa media di Amerika yang seharusnya memiliki peran sebagai pilar ke-4 negara (yudikatif, eskutif, legislatif, dan media sebagai watch dog), namun justru media menjadi lapgog (anjing pangkuan).
Desain gambar yang dipilih memperlihatkan anjing (merepresentasikan media), yang selalu menempel Obama. Kartun tersebut mengkonstruksi pesan bahwa media memiliki fungsi lap dog (anjing pangkuan). Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi saja.
Oleg mengkritisi media Amerika yang menjadi lapdog Obama, terutama sejak kampanye Presiden 2008, hingga akhirnya Obama terpilih menjadi Presiden Amerika. Keberhasilan Obama menjadi Presiden AS tak lepas dari peran media yang mengcover isi berita tentang Obama (tentu hanya konten-konten positif saja yang ditulis). Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media.
Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.

Kesimpulan
Kartun di website People’s Cube tersebut merupakan salah satu produk media, yang diproduksi untuk kepentingan tertentu. Kartun tersebut ditujukan untuk mengkritik media (pers) yang telah mengambil posisi sebagai lap dog. Pada era sekarang ini, pers lap dog tidak semata-mata menghamba kepada pemerintah, tetapi juga kepada korporasi besar.
Model fungsi lap dog (anjing pangkuan) yang digambarkan oleh kartun ‘The Adventures of Media Lapdog for Obamamerupakan gambaran nyata yang benar-benar terjadi di era kebabasan pers ini. Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi.
Mengapa media menjadi lapdog? persaingan media yang sangat ketat, mengakibatkan pertumbuhan media menjadi tidak sehat. Persaingan untuk mendapat kue iklan semakin ketat. Akibatnya, pers yang tidak kebagian jatah iklan mencari cara lain untuk merebut setetes rezeki. Ini dapat dilihat dalam kasus, pers yang menjual headline atau agenda setting untuk kepentingan korporasi atau elite tertentu. Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media. Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.
Semoga kita dapat lebih bijak dalam mengkonsumsi ataupun memproduksi media, dan memiliki literasi media yang baik (melek media). Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar kita tidak mudah terpengaruh ataupun terprovokasi oleh media baik itu cetak, elektronik ataupun new media (internet), karena tidak semua produk media itu terjamin akurasinya dan tidak semua produk media baik untuk kita konsumsi. 

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...