Thursday, 5 October 2017

Turn Your Bad Day Into a Positive One

Keep calm when things don’t go according to your expectations

Beautiful things always meet friction


Noor Unnahar
Hidup tak melulu bercerita tentang tawa, kesuksesan ataupun kebahagiaan, ada kalanya apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya, ada kalanya kita mengalami kegagalan, kekecewaan ataupun konflik dengan seseorang. Ada kalanya ketika semua hal kecil nampaknya salah atau saat kita lebih mudah tersinggung tanpa penjelasan.
Ketika masih kecil dulu, saat saya sedang bersedih atau dalam suasana hati yang buruk, ibu saya akan mengantar saya ke tempat tidur, menarik selimut saya dan memberikan minuman hangat. Sebelum menutup pintu kamar, dia akan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja dan tidak perlu terlalu dicemaskan.
Cara ibu menenangkan saat saya sedang bersedih waktu kecil dulu, masih berlanjut sampai saya dewasa dan tinggal berbeda kota dengan ibu. Saya tidak pernah lupa betapa kuatnya pendekatan sederhana terhadap hari-hari sulit ini. Dari beberapa menit yang dihabiskan di balik selimut tempat tidur, sambil mendengarkan musik atau menulis buku, saya menemukan kekuatan untuk memberi izin pada diri saya untuk memulai hari saya dengan lebih bersemangat dan mood lebih baik lagi. Tentu itu bukan hal yang mudah, namun saya percaya bahwa saat menghadapi masa-masa sulit, kita cukup ingat tiga hal : rest, relax, enjoy, dan yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Tentu saja, masing-masing orang memiliki cara lain untuk mengembalikan semangat positif setelah mengalami hari beratnya. Misalnya dengan minum kopi atau cold beer, mendengarkan musik, nonton, jalan-jalan, shopping dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari kita memiliki pekerjaan dan keluarga yang membutuhkan kita, masih banyak hal-hal yang harus kita selesaikan juga oleh karena itu penting bagi kita untuk segera mengembalikan semangat baru setelah mengalami hari yang berat.
Setiap orang pernah mengalami hari-hari yang sulit, Leah Weiss seorang profesor Stanford University, mengatakan bahwa saat kita menghadapi hari yang sulit (bad day) langkah pertama adalah bersikap baik pada diri sendiri, sadari bahwa kita tidak sempurna dan kenali kekurangan kita. Bad day tidak selamanya buruk, namun kadang menjadi moment yang tepat untuk instrospeksi diri. Dengan mengenali kelemahan, kita dapat membangun kekuatan kita.
Ketika sedang menghadapi hari-hari yang sulit, ingatlah selalu bahwa hidup sangat berharga, diatas segala tantangan, prasangka dan keadaan paling kritis sekalipun. Akhirnya kita pun akan menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan air mata untuk memupuk kesabaran, kegagalan untuk mengukir kedamaian, kesedihan untuk mengalasi kebahagiaan, kesulitan untuk membuka jendela pengetahuan. So, Every single day is a good day, no matter how bright or dark it is, because it always brings an opportunity to start a positive beginning in your life.

Tuesday, 20 June 2017

How Positive Thoughts Boost Your Luck

Once you replace negative thoughts with positive ones, you'll start having positive results 
(Willie Nelson)


Tahun lalu, seorang teman memberikan sebuah kalung pada saya. Sewaktu memberikan kalung oleh-oleh dari Jepang itu, teman saya sempat bilang, kalau kalung tersebut membawa keberuntungan. Saya termasuk orang yang rasional dan tidak percaya dengan hal-hal semacam itu, namun karena penasaran sayapun kemudian membuktikannya.
Kapanpun dan dimanapun saya selalu membawa kalung itu dan menyimpannya di dalam tas. Anehnya, sejak membawa kalung tersebut kemanapun saya pergi, saya merasa selalu beruntung. Apapun itu, dalam hal apapun, kondisi apapun dan berada dimanapun, saya merasa menjadi orang yang selalu beruntung, hidup saya mudah, ringan dan tanpa beban.
Beberapa bulan kemudian tiba-tiba saya kehilangan kalung yang sangat berharga buat saya tersebut. Kalung dari perak dengan liontin bertuliskan “LUCK” tersebut hilang dari tas saya. Saya panik. Pikiran saya kacau. Bukan karena harga barang tersebut, tapi lebih karena ketakutan dan kecemasan saya tentang ‘keberuntungan’ saya selanjutnya. Karena saya selama ini meyakini bahwa kalung itulah pembawa keberuntungan saya.
Sekian hari saya cari, tapi kalung tersebut tidak ketemu juga. Akhirnya saya pun menyerah. Mungkin kalung itu hilang karena memang sudah waktunya hilang. Toh sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Selalu ada yang datang dan pergi. Termasuk kalung itu. Ada ataupun tidak ada kalung itu saya tetap terus bergerak, sibuk dengan rutinitas saya, kegiatan saya, dan lama kelamaan saya pun melupakan kalung itu.
Tanpa saya sadari, ternyata kekawatiran saya tentang ‘luck’ karena kehilangan kalung tersebut tidak terbukti. Hidup saya tetap ringan, enjoy, lancar, dan tetap...., saya merasa selalu beruntung!
Dari hal tersebut, saya mulai paham bahwa ‘keberuntungan’ saya selama ini bukan karena kalung tersebut, tetapi karena diri saya sendiri. Ada ataupun tidak ada kalung itu, hidup saya tetap baik-baik saja. Saya beruntung ya karena memang saya ingin beruntung. Saya bisa ya memang karena saya yakin saya bisa. Saya bahagia ya karena memang saya ingin selalu bahagia. Artinya, bahwa hal-hal baik akan datang ketika pikiran kita positif. Ketika kita yakin kita bisa, maka alam bawah sadar kita akan mengerahkan diri kita hingga akhirnya kita benar-benar bisa, tapi kalau dari awal kita sudah menyerah dan berfikiran negatif, maka hasilnya pun akan negatif juga.
Percayalah, bahwa semesta akan mendukung kita ketika pikiran kita selalu positif, hal-hal baik akan datang dan hal-hal negatif akan pergi dengan sendirinya. Dalam hal ini bukan berarti hidup kita lancar dan tanpa masalah, manusiawi kalau kita punya segudang masalah, namun hebat ketika kita bisa melihat segala masalah yang kita hadapi dengan pikiran positif dan terbuka, bukan justru berfikiran sempit dan mengeluh atau bahkan menyalahkan orang lain dari masalah kita.
Saya tahu, ini pasti tidak mudah, tapi sebenarnya ini semua hanya soal bagaimana sudut pandang kita terhadap masalah tersebut. Berat atau tidaknya masalah kita itu tergantung pikiran kita sendiri. Sepenuhnya diri kitalah yang bisa mengendalikan diri kita, apakah akan berlarut dalam masalah dan pikiran negatif kita atau justru dapat bangkit dari masalah tersebut dengan pikiran positif. Mengutip kata-kata dari Abraham Lincoln :
 “We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have  roses” , Kita bisa mengeluh karena mawar memiliki duri, atau bersukacita karena semak berduri memiliki mawar.
Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa segala sesutu tergantung sudut pandang kita. Sulit-mudahnya suatu masalah, susah-senangnya hati kita, lemah-kuatnya diri kita, itu menurut saya sepenuhnya kita yang mengendalikan dan mengatur, bukan orang lain, benda atau apapun juga.
Namanya juga manusia, ketika beban di pundak semakin banyak, dan hidup terasa lebih berat, kita pun kadang sering complain, mengapa hidupku seperti ini, atau mengapa hidupku tak seenak dia, tak sekaya, secantik, setampan, sesukses dia, tak bisa bersama si dia dan lain sebagainya, mulai sekarang, stop complain.
Yuk, kita berfikiran positif. Cintailah hidup kita, maka semesta akan berbalik mencintaimu. Love your own life, and it will love you right back! Untuk penutup, saya punya kutipan kata-kata menarik dari Harvey Fierstein, berikut ini :
I do believe we're all connected. I do believe in positive energy. I do believe in the power of prayer. I do believe in putting good out into the world. And I believe in taking care of each other. (Harvey Fierstein)

Be Happy Anyway,
With Love

Paulina

Tuesday, 7 February 2017

U-Report UNICEF : Dukungan Sosial Dari dan Untuk Anak-Anak Indonesia

(Paulina Damayanti)

Kecintaan saya dengan anak-anak mendorong saya untuk bergabung dengan U-report UNICEF via Twitter sejak bulan Februari 2015. Menurut saya, tidak cukup hanya memiliki gagasan saja namun perlu diikuti aksi nyata untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap isu-isu yang menyangkut perlindungan anak. Terlebih mengingat semakin banyaknya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak-anak, kekerasan dalam sekolah (bullying), pernikahan anak, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan anak, maka saya tergerak untuk semakin aktif menyuarakan perubahan untuk perlindungan anak melalui U-Report.

Pendidikan (Anak Putus Sekolah)
Sepanjang tahun 2015 ini, menurut saya isu yang menarik dan penting untuk disuarakan adalah menyangkut ‘Anak Putus Sekolah’ (Pedidikan), karena tak terelakkan lagi pendidikan adalah hak setiap anak. Seperti halnya makanan dan pakaian, pendidikan adalah hal krusial yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia, karena pendidikan adalah pondasi penting bagi masa depan anak-anak Indonesia. Namun faktanya, menurut data dari UNICEF sebanyak 2,5 juta anak Indonesia putus sekolah, dan itu adalah berita buruk.
            Penyebab anak-anak putus sekolah, selain karena kekurangan biaya juga karena kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan kurang. Bagi kebanyakan orang tua (terutama di pedesaan atau daerah terpencil), pendidikan cukup bisa menulis, membaca dan berhitung, sejauh anak-anak sudah bisa menulis, membaca dan berhitung itu cukup dan tidak perlu melanjutkan pendidikan lagi. Selain itu banyak orang tua (terutama dari keluarga kurang mampu) yang beranggapan jika pendidikan tidak penting, yang terpenting anak-anak pintar mencari uang dan perut kenyang, sehingga tak heran bila banyak anak-anak putus sekolah.
            Pendidikan merupakan tiang utama kemajuan bangsa, pendidikan wajib belajar 9 tahun memang wajib didukung semua pihak, tidak hanya pemerintah yang bekerja, namun juga kita harus turut menyuarakan dukungan positif untuk mendorong anak-anak Indonesia menyelesaikan pendidikan, minimal wajib belajar 9 tahun.

Pernikahan Anak
            Selain pendidikan, isu yang menarik dan penting untuk disuarakan adalah menyangkut pernikahan anak. Kasus pernikahan usia dini di Indonesia berbanding lurus terhadap lonjakan angka putus sekolah dan kemiskinan. Menurut UNICEF, sebanyak 50.000 anak perempuan Indonesia diperkirakan menikah sebelum usia 15 tahun, itu bukanlah angka yang sedikit, namun sudah cukup mengkawatirkan dan perlu segera diselesaikan.
            Tradisi atau budaya yang telah mengakar di masyarakat menjadi salah satu penyebab pernikahan anak. Perempuan masih dianggap dibawah lelaki, sehingga pendidikan dinilai tidak penting bagi perempuan, yang terpenting ada yang mau menikahi. Karena masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa perawan tua dianggap aib, jadi lebih baik cepat nikah di usia dini daripada tidak laku. Selain karena tradisi, pernikahan anak juga karena faktor ekonomi dan status sosial, untuk mengangkat drajad dan kemapanan ekonomi keluarga.
            Pernikahan anak jelas melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan meraih cita-cita mereka. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan edukasi, advokasi dan konseling secara berkesinambungan.

Why is U-Report UNICEF  a good innovation for Indonesia? 
            Di era WEB 2.0 media baru mulai berkembang, melalui berbagai akun sosial media seperti blog, facebook, twitter, youtube, semua orang bisa menjadi sumber informasi dan  informasi yang disampaikan dapat lebih cepat, efektif, dan efisien.
Seperti yang telah digalakkan oleh UNICEF Indonesia melalui akun U-Report Indonesia di twitter. Hadirnya U-Report di Indoensia tentu membawa semangat positif untuk membawa perubahan positif dan membawa anak-anak muda Indonesia menjadi agen perubahan. Di U-report anak-anak muda dapat berkontribusi meyumbangkan ide, dan menyuarakan isu-isu yang berhubungan dengan anak dan remaja di Indonesia. Hal tersebut tentu sangat efektif, karena akun tersebut ditujukan untuk dan dibuat oleh anak-anak muda sendiri. Isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam sekolah (bullying), HIV AIDS, dan pendidikan, dapat diinformasikan di U-Report secara up to date, dan dengan bahasa yang mudah dipahami, selain itu juga melatih kreatifitas kaum muda Indonesia untuk berekpresi menyuarakan pendapatnya melalui video, fotografi, ataupun essay mengenai isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak muda dan remaja, dan langsung dapat diupload di akun U-Report tersebut.

Why is it important for young people's voices be heard?
            Anak-anak muda adalah agen perubahan bangsa. Kelak anak-anak mudalah yang akan memimpin bangsa, akan membuat regulasi, akan memutuskan ke arah mana negara dan bangsa ini akan di bawa, sehingga suara anak muda sangat penting untuk didengar.
Anak muda kini bukan hanya sebagai penerima layanan yang pasif namun juga berperan aktif dalam perencanaan strategis dan rencana aksi nasional untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan regulasi yang menyangkut anak dan remaja Indonesia.
Harapannya U-Report semakin aktif untuk memberikan informasi dan edukasi terkait perlindungan anak, undang-undang dan regulasi yang berlaku dan juga kasus-kasus atau fakta berbagai permasalah anak dan remaja yang terjadi di Indonesia. Selain itu U-Report dapat menjadi wadah untuk menyuarakan curahan hati, mimpi, harapan dan aspirasi anak-anak dan remaja di seluruh Indonesia.



 

Thursday, 1 September 2016

The Adventures of Media

(Paulina Damayanti)

Bicara tentang media massa, media sosial, dan produk-produk media memang tidak ada habisnya. Produk-produk media massa ataupun new media (internet) termasuk sosial media di dalamnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, yang rasanya hidup tak lengkap kalau sehari saja tidak mengakses media.
 Kali ini bolehlah saya mengutip kata-kata dari Malcolm, The media’s the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty, and to make the guilty innocent, and that’s power. Because they control the mind of the masses. Hal itu menandakan bahwa pengaruh media sangat besar bagi kehidupan kita. Secara tidak sadar kita dikonstruksi oleh media yang kita konsumsi sehari-hari, you are what you watch or you are what you read.
Sebagai contoh, saya mencoba untuk melihat salah satu produk media, yaitu kartun satir berjudul The Adventures of Media Lapdog for Obama, yang diambil dari website People’s Cube. Tujuannya adalah memaknai pesan dibalik media tersebut. Kita harus sadar bahwa selalu ada ‘pesan’ dibalik media, bahwa kelompok dominan selalu berhasil menggiring opini karena mereka mayoritas, juga kelompok lainnya yang berjuang dengan ideologi mereka yang mencoba melawan kekuatan dominasi. Berikut ulasannya :

Autor
The Lapdog for Obama, diambil dari website People’s Cube. Website tersebut adalah komunitas humor politik di Amerika Serikat (AS), yang membuat cerita kartun satir untuk mengkritisi pemerintah dan para tokoh politik AS. Penulis dan pemilik website tersebut adalah Oleg Atbashian.
Sebelum pindah ke AS pada tahun 1994, Atbashian tinggal di Ukraina, ia bekerja sebagai seniman propaganda Uni Soviet, membuat poster propaganda politik dan agitprop visual untuk Komite Partai lokal di Siberia. Selama waktu itu, Oleg menyaksikan dan merasakan sendiri transisi republik Uni Soviet (Negara komunis) dari sosialisme, kleptokrasi dan korupsi.
Pada tahun 1994 ia pindah ke AS dengan harapan hidup di negara liberal, menghargai kebebasan dan kemakmuran. Namun Oleg kecewa karena liberalisasi di Amerika yang liberty & equal tidak seperti ekspektasi dia, sehingga ia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah. Terutama ia mengkritisi kandidat calon Presiden dari partai demokrat, yaitu Obama. Aktivisme Oleg ini berkembang, memanfaatkan new media, yaitu dengan website yang diberi nama website People’s Cube.
People’s Cube mengkonstruksi pesan dengan menggunakan kartun tokoh Obama dan seekor anjing. Anjing tersebut menggambarkan media Amerika yang memiliki karakter lapdog (anjing pangkuan), dan tidak menjalankan fungsinya sebagai watch dog (anjing pengawas). Media dianggap memihak Obama (waktu itu sebagai calon Presiden Amerika 2008, dari partai Demokrat).

Konten
Dari segi format, kartun The Lapdog for Obama di website People’s Cube memiliki warna dominan merah. Warna merah yang dominan dan seragam, sewarna, merupakan ciri komunis yaitu diseragamkan. Seperti diambil dari Story of the Red Flag (situs Partai Komunis Revolusioner Amerika Serikat) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, kata ‘merah’ memiliki kaitan erat dengan ideologi komunis. Setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, merah menjadi warna bendera nasional Uni Soviet, hingga akhir masa hidup negara tersebut pada 1991.
Dalam mitologi Soviet, merah dianggap sebagai warna darah yang ditumpahkan oleh kelas pekerja dalam perjuangannya melawan penindasan kapitalisme. Bendera merah dalam dunia politik adalah simbol politik sayap kiri, terutama sosialisme dan komunisme. Bendera ini telah dikaitkan dengan politik sayap kiri sejak meletusnya Revolusi Perancis (Story of the Red Flag, 2006).
Judul kartun tersebut adalah The Adventures of Media Lapdog for Obama, kata ‘media’ ditulis dengan warna merah, seperti yang dijabarkan diatas, bahwa warna merah adalah simbol komunis. Oleg menganggap bahwa media tak ada bedanya dengan kaum komunis dan sosialis, yang menjadi agen propaganda dan pembentuk citra positif Obama.
Obama dan media bekerjasama untuk meraih kekuasaan (power) dengan cara menarik simpati dari publik Amerika dan dunia. Hal tersebut dinilai Oleg sebagai konspirasi yang merugikan masyarakat yang seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan liberty & equal.
Judul artikel adalah Media the Lapdog for Obama, sangat lugas dan langsung dapat dipahami bahwa media di Amerika yang seharusnya memiliki peran sebagai pilar ke-4 negara (yudikatif, eskutif, legislatif, dan media sebagai watch dog), namun justru media menjadi lapgog (anjing pangkuan).
Desain gambar yang dipilih memperlihatkan anjing (merepresentasikan media), yang selalu menempel Obama. Kartun tersebut mengkonstruksi pesan bahwa media memiliki fungsi lap dog (anjing pangkuan). Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi saja.
Oleg mengkritisi media Amerika yang menjadi lapdog Obama, terutama sejak kampanye Presiden 2008, hingga akhirnya Obama terpilih menjadi Presiden Amerika. Keberhasilan Obama menjadi Presiden AS tak lepas dari peran media yang mengcover isi berita tentang Obama (tentu hanya konten-konten positif saja yang ditulis). Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media.
Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.

Kesimpulan
Kartun di website People’s Cube tersebut merupakan salah satu produk media, yang diproduksi untuk kepentingan tertentu. Kartun tersebut ditujukan untuk mengkritik media (pers) yang telah mengambil posisi sebagai lap dog. Pada era sekarang ini, pers lap dog tidak semata-mata menghamba kepada pemerintah, tetapi juga kepada korporasi besar.
Model fungsi lap dog (anjing pangkuan) yang digambarkan oleh kartun ‘The Adventures of Media Lapdog for Obamamerupakan gambaran nyata yang benar-benar terjadi di era kebabasan pers ini. Dalam model ini, pers memproduksi berita untuk melayani kepentingan elite politik dan elite ekonomi.
Mengapa media menjadi lapdog? persaingan media yang sangat ketat, mengakibatkan pertumbuhan media menjadi tidak sehat. Persaingan untuk mendapat kue iklan semakin ketat. Akibatnya, pers yang tidak kebagian jatah iklan mencari cara lain untuk merebut setetes rezeki. Ini dapat dilihat dalam kasus, pers yang menjual headline atau agenda setting untuk kepentingan korporasi atau elite tertentu. Sehingga timbal baliknya, media memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menyetir pemerintah, terutama adalah menyangkut regulasi dan kapitalisasi media. Konsekuensinya adalah, peran dari jurnalisme warga, kebebasan menyatakan pendapat terkubur oleh kekuatan yang dimiki oleh korporasi media yang besar.
Semoga kita dapat lebih bijak dalam mengkonsumsi ataupun memproduksi media, dan memiliki literasi media yang baik (melek media). Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar kita tidak mudah terpengaruh ataupun terprovokasi oleh media baik itu cetak, elektronik ataupun new media (internet), karena tidak semua produk media itu terjamin akurasinya dan tidak semua produk media baik untuk kita konsumsi. 

Wednesday, 4 May 2016

DIBALIK BANJIRNYA FILM SUPERHERO HOLLYWOOD HINGGA 2020


(Paulina Damayanti)

Sejak tahun 2015 lalu, secara berturut-turut kita disuguhi berbagai film superhero Hollywood yang rilis secara berdekatan. Masa kejayaan film-film superhero tersebut jelas belum akan berakhir dalam waktu dekat ini, Hollywood akan merilis hampir 30 film superhero yang siap rilis hingga tahun 2020 nanti. Mengapa film superhero terus dibuat Hollywood?


Bukanlah hal yang kebetulan ketika Hollywood secara besar-besaran memproduksi berbagai film bertema superhero secara beruntun dari tahun 2015 hingga 2020 mendatang. Bisa dipastikan selama lima tahun kedepan, bioskop kita makin disesaki film-film superhero. Warner Bros yang memiliki hak atas tokoh superhero DC Comics, Disney pemilik Marvel, serta Fox dan Sony yang memiliki beberapa tokoh-tokoh kunci Marvel siap merilis hampir 30 film superhero.

Tahun 2015 lalu, masih lekat diingatan kita, secara berdekatan rilis berbagai film bertema superhero, seperti Avengers: Age of Ultron (1 Mei), Ant-Man (17 Juli), dan The Fantastic Four (7 Agustus). Diawal tahun 2016 ini muncul Deadpool (12 Februari), dan pada bulan Maret DC memulai seri cross-over Justice League lewat Batman, Superman, Wonder Woman, dan Aquaman dalam satu layar lewat Batman vs Superman: Dawn of Justice. Kemudian disusul film Captain America 3 (26 April), X-Men: Apocalypse (27 Mei), Suicide Squad (5 Agustus), The Sinister Six (11 Agustus). Awal tahun 2017 akan dirilis film Wolverine terbaru (3 Maret), Wonder Woman (23 Juni), The Fantastic Four 2 (14 Juli), Guardians of the Galaxy 2 (28 Juli), Justice League, Part One (17 November). Dan berbagai judul film lainnya, hingga tahun 2020 ditutup dengan film produksi DC, Cyborg (3 April) dan Green Lantern (19 Juni).

Rilis Hollywood untuk berbagai film superhero hingga lima tahun ke depan sekilas menjadi kabar gembira bagi kita, terutama para pecinta seri Marvel dan DC, namun bila kita cermati, film-film fiksi tersebut tidak hanya menghibur, tetapi banyak pesan dan informasi yang disampaikannya, bahkan secara tidak sadar pesan tersebut terekam dalam memori kita. Film mampu membangun keterikatan emosi pada penontonnya, sehingga bila dipaparkan terus-menerus penonton menjadi fanatik, bahkan secara tidak sadar dapat merubah ideologi, sifat, dan karakter kita sesuai dengan apa yang disampaikan film tersebut.

Sejak abad 19, film telah menjadi bagian dari hidup kita, yang telah berkembang dari pertunjukan keliling menjadi salah satu alat penting komunikasi dan hiburan serta media massa pada abad 21 sekarang ini. Film merupakan produk kebudayaan manusia yang dianggap berdampak besar bagi masyarakat dan merupakan salah satu bentuk seni, sumber hiburan dan alat yang ampuh untuk mendidik serta mengindoktrinasi para penontonnya.

Demikian halnya dengan berbagai film bertema superhero produksi Hollywood.  Pada awal berkembangnya sebelum diangkat ke layar bioskop, komik superhero memang tak lepas dari misi sosial politis. The Action Comic, komik yang pertama kali memperkenalkan Superman sebagai superhero pada tahun 1938, muncul sebagai kritik terhadap kehidupan sosial politik Amerika Serikat saat mengalami The Great Depression. Superhero tidak digambarkan melawan alien atau supervillain, namun bertarung melawan pelecehan terhadap wanita dan pemerintahan yang korup.

Ketika Perang Dunia II merebak. Dunia superhero ikut ambil bagian. Superman, Captain America, dan superhero lainnya menjalani misi propaganda sebagai agen patriot pemerintah Amerika. Misi yang bertolak belakang saat awal mereka dikenalkan. Kemudian Amerika Serikat memiliki presiden keturunan Afrika-Amerika pertama mereka. Feminisme, persamaan gender, dan keberagaman menguat di negeri tersebut. Perkembangan sosial politis ini juga turut menjadi inspirasi bagi dunia komik. Beberapa waktu belakangan muncul versi-versi alternatif dari superhero kenamaan lintas ras dan gender.

Jika dilihat, tren film superhero tahun 2016 ini bertema superhero melawan superhero. Misalnya saja dari kubu DC dengan Batman vs Superman serta film animasi Justice League vs Teen Titans. Marvel juga tidak mau kalah dengan tema serupa, melalui Marvel Cinematic Universe mereka menghadirkan film bertajuk Captain America: Civil War. Pesan sosial yang terkandung di dalamnya adalah bahwa perbedaan pendapat, pola pikir, apa yang diyakini benar dalam suatu tim, bahkan orang yang sudah dianggap sebagai sahabat atau keluarga dekat akan mungkin timbul perpecahan internal.

Baik itu film Batman vs Superman ataupun Captain America: Civil War sendiri mencoba mengangkat krisis dari berjayanya para superhero tersebut ketika mereka melakukan penyelamatan gemilang dari ancaman yang mampu menghancurkan kelangsungan hidup umat manusia. Namun, catatan hitam dari event tersebut adalah: korban jiwa tidak bisa dihindarkan. Meskipun masyarakat dan dunia tau bahwa keberadaan superhero sangat berjasa untuk mereka, namun status mereka sebagai organisasi privat yang tidak terikat oleh politik dan pemerintahan menjadikan warga cemas bahwa tidak ada yang mengawasi dan mengontrol mereka. Pada akhirnya, film tersebut menggambarkan, bahwa tetap para superhero itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran, sedangkan pemerintah dan militer selalu menjadi pihak yang terdesak dan lemah.

Film-film superhero yang secara beruntun diproduksi oleh Hollywood hingga tahun 2020 tersebut menjadi kritik terhadap situasi sosial politik dan pemerintahan di Amerika, terutama ditengah-tengah perseteruan panas pemilihan presiden Amerika tahun ini. Bahwa masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah, mereka mendambakan seorang ‘superhero’ sesungguhnya yang dapat mengentaskan kesengsaraan masyarakat secara cepat tanpa banyak pertimbangan birokrasi. Dengan hadirnya superhero tersebut, seolah-olah masyarakat merayakan utopia pembebasan dan kemerdekaannya dari berbagai bentuk kemusnahan dan kejahatan dunia seperti terbebas dari terorisme, pelecehan seksual, perampokan, pembunuhan, pemerintahan yang korup dan diskriminasi.

Semoga film-film superhero yang akan kita nikmati selama lima tahun ke depan tersebut tidak hanya dapat menghibur kita, namun juga dapat menjadi bahan refleksi kita terhadap berbagai permasalah sosial, politik dan budaya di sekitar kita. Kita sebagai penikmat film juga sebaiknya lebih kritis dalam mengkonsumsinya, karena tidak semua hal yang dianggap baik menurut ideologi film itu benar, dan sesuatu yang dianggap benar belum tentu baik untuk kita.

Monday, 4 May 2015

Filosofi Rok Mini dan Make-Up

Tas, high heels, pakaian, assesoris dan kosmetik sudah menjadi bagian dari gaya hidup wanita modern di seluruh dunia. Pusat-pusat mode dunia seperti Paris, London, dan Milan dengan para perancang busananya seperti Donatella Versace, Domenico Dolce dan Stefano Gabbana, Marc Jacob, Giorgio Armani, Christian Dior, Valentino Garavani, Tom Ford, Ralph Lauren selalu menciptakan beragam model fashion terbaru di setiap musimnya. Berbagai model tas, sepatu dan pakain tersebut ada bukan muncul secara tiba-tiba, tapi berkembang dari jaman ke jaman dan memiliki sisi historis dan filosofinya masing-masing.
Kita pasti tahu bahwa fashion dunia lahir dan berkembang di Eropa. Pada abad XV, fashion yang berkembang saat itu adalah model gaun yang bertumpuk-tumpuk, dengan garis bulat melingkar tubuh dan menekankan perhatian utama pada dada (payudara) dan perut, serta di dominasi warna-warna kuat dan terang. Ketika itu perempuan masih dianggap kaum kelas dua dibawah kaum pria. Perempuan hanya dijadikan sebagai obyek seksual pria. Image perempuan cantik masa itu adalah keibuan menjadi tolok ukur kecantikan.
Sekitar tahun 1830-an munculah fashion yang bermaksud hendak melindungi wanita dari cuaca, maka lahirlah korset pada masa itu. Korset sebagai pakaian yang berfungsi sebagai pakaian dalam wanita memang dapat melindungi wanita dari cuaca, tapi dampaknya, si pemakai akan sangat tersiksa dengan ketatnya korset yang mereka pakai. Korset pun sebenarnya memiliki perkembangannya sendiri, di mulai dari korset yang memiliki penyangga dari besi, hingga kemudian berubah menjadi tulang ikan hiu, namun kesemuanya adalah bahan-bahan yang tidak benar-benar membuat wanita merasa nyaman. Pakaian tersebut semakin membatasi gerak wanita. Wanita belum memiliki kesetaraan hak seperti kaum pria, seperti dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Wanita saat itu memiliki peran utama sebagai istri dan ibu rumah tangga, dan tidak diberi kesempatan untuk berkarya di luar rumah.
Pada tahun 1960-an merupakan era revolusi barat, Undang-Undang Hak Sipil di Amerika diberlakukan, perang Vietnam berkecamuk, dan gerakan feminisme untuk kebebasan dan kesetaraan hak perempuan mulai disuarakan dan diperjuangankan oleh para tokoh feminis. Seperti Betty Friedan yang menulis buku berjudul The Feminine Mystique yang mencoba menggambarkan mitos yang mendoktrinasi ibu rumah tangga yang bahagia dan mengungkapkan keinginan perempuan untuk mengembangkan segala potensi diri melalui pendidikan, seni, dan peran di pemerintahaan ataupun parlemen seperti yang bisa dilakukan oleh para kaum pria. Dari berbagai tulisan dan perjuangan para tokoh feminis, maka pada tahuan 60-an tersebut perempuan mulai memiliki peran di luar rumah, baik di universitas maupun di dunia kerja. Gambaran perempuan sebagai seorang istri dan ibu, berubah menjadi seorang gadis yang pintar, mandiri, bangga akan seksualitasnya, dan memiliki kepercayaan diri terhadap potensi yang dimilikinya.
Dari perjuangan kaum feminis tersebut, maka muncullah tren busana baru bagi para perempuan. Adalah Mary Quant (1960), seorang perancang busana paling berpengaruh di London yang mencipkan rok mini (miniskirt). Rok mini diciptakan sebagai simbol kebebasan perempuan dan revolusi desain pakaian masa itu. Pakaian wanita yang sebelumnya bertumpuk-tumpuk dengan korset yang ketat dan membatasi gerak perempuan, berganti menjadi pakaian yang ringan,  seperti miniskirt membuat perempuan lebih leluasa bergerak dan beraktifitas. Image perempuan yang sebelumnya digambarkan lemah, dan hanya menjadi pemuas napsu pria, dengan busana dres bertumpuk, korset ketat dan menonjolkan buah dada dan lekuk tubuh perempuan, telah berganti menjadi busana yang ringan dan modern, sehingga image perempuan berubah menjadi gadis muda, pintar, mandiri, dan tidak dipandang sebelah mata oleh kaun pria.
Seperti halnya rok mini, menurut Hoodfar make up juga merupakan simbol kebebasan perempuan. Make up menjadi alternatif yang digunakan perempuan untuk meningkatkan partisipasinya dalam wilayah publik, baik di dunia kerja ataupun pendidikan. Bahwa sepenuhnya perempuan berhak untuk mempercantik tubuhnya sendiri dan menjadikan dirinya bernilai. Ketika selama ini perempuan dipandang sebagai obyek pemuas napsu pria, dengan lekuk tubuhnya, pinggul dan payudara, maka make up menjadi media untuk mengalihkan mata para pria dari pinggul dan payudara perempuan, sehingga lebih tertarik melihat perempuan dengan makeup di wajah yang cantik dan attitude yang bagus.
Setiap perempuan dengan khasnya memiliki gaya fashion dan make up nya masing-masing, sehingga fashion, mulai dari baju, sepatu, accesoris dan make up yang dikenakan, dapat menentukan kepribadian perempuan tersebut, apakah dia termasuk feminin, tomboy, funky, glamour, menyukai hal-hal vintage, bergaya wanita karier, atau menyukai kegiatan outdoor dan lain sebagainya.

Fashion dan make up yang sekarang berkembang terutama di Indonesia, seharusnya bisa digunakan sesuai filosofi dan semangat awal dahulu, yaitu untuk mendukung perempuan dalam berkarya dan mengembangkan potensinya, dan bukan malah disalahgunakan untuk hal-hal negatif seperti dengan sengaja mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenis. Kebebasan berekspresi dalam berpakaian dan bermake up seharusnya dibarengi dengan attitude yang bagus dan kedewasaan pemakainya, sehingga fashion dan make up semakin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia itu cerdas, cantik dan berbudaya.

Friday, 10 April 2015

Pemanfaatan Teknologi dalam Ekonomi Komunikasi



Komunikasi menjadi bagian penting di setiap bidang kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial-budaya, politik dan ekonomi. Sehingga beragam kajian ilmu pun menempatkan komunikasi sebagai turunnya, misalnya komunikasi politik, komunikasi pendidikan, filsafat komunikasi, ekonomi komunikasi, teknologi komunikasi, dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadi kajian yang menarik karena kekuatan komunikasi dengan empat komponennya (source, message, chanel, receiver) memiliki dampak yang besar bagi masyarakat luas. Salah satu kajian yang menarik di bidang komunikasi adalah, pengaruh kemajuan teknologi komunikasi bagi pertumbuhan ekonomi. Kajian tersebut terdiri dari tiga hal pokok yang saling berkaitan, yaitu, teknologi komunikasi, ekonomi dan masyarakat.
            Teknologi dan ekonomi komunikasi kini semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Ekonomi komunikasi adalah aktifitas penyampaian informasi yang berhubungan dengan usaha-usaha yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Toffler : 1980). Sehingga ketika teknologi mengalami perkembangan, maka aktifitas ekonomi komunikasipun akan semakin meningkat. Aktifitas komunikasi dalam bentuk kerjasama bisnis, jual-beli barang dan jasa, pemasaran, perbankan, menjadi semakin mudah dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi. Ekonomi komunikasi menjadi semakin mudah, bebas dari batasan jarak dan waktu.
            Besarnya pengaruh kemajuan teknologi komunikasi bagi masyarakat, telah membuat catatan penting bagi sejarah. Alvin Toffler, dalam bukunya The Third Wave (1980), membagi sejarah teknologi menjadi tiga gelombang, yaitu :
Gelombang pertama (800 BC-1700), mulai berkembang teknologi pertanian (terjadi sebelum revolusi industri). Pada periode ini teknologi yang berkembang dan diterapkan adalah teknologi pertanian. Masyarakat pada periode ini masih menggunakan energi alam, yaitu matahari, angin dan air. Teknologi komunikasi yang digunakan masih bersifat analog, seperti menggunakan kurir untuk mengantar surat, cahaya lampu untuk navigasi, asap untuk signal, dan lain sebaginya.
Gelombang ke-2 (1800-1970), ketika dunia industri mulai berkembang semakin pesat, ditandai dengan ditemukannya mesin cetak dan mesin uap (masa revolusi industri), mulai diproduksi tekstil, mobil, kereta api uap dan lain sebagainya. Pada periode ini teknologi komunikasi semakin berkembang seperti ditemukannya telepon analog, fax, televisi analog, radio, surat kabar dan majalah. Teknologi komunikasi massa mulai berkembang menjadi media komunikasi untuk propaganda politik dan pemasaran hasil-hasil industri.
Gelombang ke-3 (1970-2000), kemajuan teknologi pada periode ini yaitu mulai berkembangnya teknologi komunikasi dan pengolahan data. Teknologi komunikasi berkembang dengan ditemukannya internet dan World Wide Web (www). Kemajuan teknologi komunikasi tersebut berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi industri. Sehingga produk dari industri dikomunikasikan melalui media teknologi komunikasi. Pada periode ini, terjadi perubahan gaya ekonomi komunikasi yang menjadikan perekonomian semakin menguat karena hadirnya berbagai kemajuan dibidang teknologi komunikasi, yaitu mulai munculnya web 2.0 dan 3.0 untuk pemasaran produk, bisnis, perbankan, public relations, menjadi lebih luas tanpa batasan jarak dan waktu.
Straubhaar (2011) menyebutkan bahwa web 2.0 merupakan media komunikasi online yang memungkinkan masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, namun juga berperan aktif memproduksi informasi. Sedangkan web. 3.0 merupakan media komunikasi online yang seolah-olah seperti komunikasi di kehidupan nyata. Dimana ciri-cirinya tanpa banyak sentuhan panca indra manusia, web sudah  dapat menyarankan rekomendasi hingga memberikan aplikasi sesuai kebutuhan manusia.
Adanya perkembangan teknologi komunikasi khususnya internet, Thomas Friedman (2005) menyebutkan bahwa dunia semakin datar (flat world/horizontal), maksudnya disini adalah dengan adanya kemajuan internet, jarak di bumi ini menjadi tak berarti lagi. Internet telah melampaui jarak dan waktu, sehingga informasi dan komunikasi dapat sampai di tempat tujuan dengan efektif dan efisien hanya dengan hitungan detik saja. Friedman juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi telah berhasil meningkatkan taraf hidup secara ekonomi, karena individu menjadi semakin kreatif, potensinya terasah, dan semakin membebaskan eksistensi diri karena di dunia maya tidak mengenal strata sosial.
Ekonomi erat kaitannya dengan globalisasi. Globalisasi dalam hal ini memiliki sifat menyeluruh, diterima di seluruh belahan dunia manapun. Friedman menyebutkan di buku The World Is Flat bahwa globalisasi terbagi dalam tiga era, yaitu globalisasi 1.0, globalisasi 2.0 dan globalisasi 3.0.
Globalisasi 1.0 disebutkan menjadi globalisasi negara. Dimana dalam hal ini Negara mempunyai peran penting sebagai pengguna dan pengembang teknologi komunikasi. Segala bentuk media teknologi komunikasi yang ketika itu masih web 1.0 yang masih bersifat satu arah, dimaksimalkan oleh Negara untuk mengirim informasi dalam bentuk elektronik mail antar negara ataupun antar pejabat kenegaraan.
Kemudian berkembang web 2.0, yang disebut sebagai era globalisasi perusahaan. Web 2.0 yang bersifat dua arah, telah menjadi bagian terpenting bagi perkembangan bisnis perusahaan. Aktifitas ekonomi komunikasi seperti perjanjian jual-beli, tawar menawar harga, promosi, pemasaran tidak hanya terjadi secara fisik, namun dapat dilakukan secara online dengan media internet. Sehingga kegiatan bisnis menjadi semakin luas tak terpancang jarak dan waktu. Sehingga mulai muncullah e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking, sebagai bagian dari globalisasi 2.0.
E-marketing, e-advertising dan e-public relations semakin populer karena memiki daya magnet yang kuat sebagai upaya peningkatan profit perusahaan. Kegiatan marketing dan public relations yang dahulu bersifat konvensional seperti memasang iklan di surat kabar, menyebar spanduk dan brosur, selain menghabiskan banyak biaya dan tidak ramah lingkungan, juga informasi pemasaran yang dihasilkan sangat terbatas. Sedangkan kini, muncullah kegiatan marketing, advertising dan public relations berbasis internet, yang dikenal dengan e-marketing, e-advertising, dan e-public relations, yang menginformasikan perusahaan, produk, kegiatan pemasaran, dan iklan, melalui website perusahaan, ataupun melalui sosial media twitter dan facebook. Dengan media internet, pemasaran akan lebih efektif dan efisien, informasi yang disampaikan juga lebih luas, tak terbatas jarak dan waktu.
Manusia kini telah memasuki era globalisasi 3.0, Friedman menyebutnya sebagai globalisasi individu. Globalisasi 3.0 merupakan pemberdayaan individu, dimana individu sangat dimanjakan dan dimudahkan oleh kecanggihan web 3.0. Dalam hal ini web 3.0 dengan pintar dapat memprediksi, memberikan rekomendasi dan menyediakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan masing-masing individu, sehingga masing-masing individu tersebut dapat memiliki media untuk menyalurkan bakat minatnya dan semakin kreatif mengembangkan potensi pribadinya. Di bidang ekonomi web 3.0 memudahkan pihak penjual ataupun pembeli menemukan target bisnisnya karena web sendiri yang akan mencarikan atau mempertemukan antar penjual dan pembeli tersebut sesuai segmentasi kebutuhan barang atau jasa yang diminati atau dicari masing-masing pembeli tersebut.
Keberhasilan suatu negara dalam meningkatkan ekonomi bangsa, tidak hanya dilihat dari faktor economic of scale saja, namun juga economic of internet (scope). Economic of scale dalam hal ini adalah sarana dan prasana barang dan jasa dan transaksi ekonomi secara fisik di dunia nyata, sedangkan economi of scope dalam hal ini adalah internet yang cakupannya lebih luas tanpa batasan jarak. Aktifitas ekonomi di dunia virtual ini meliputi jual-beli online, pemasaran online, e-marketing, e-advertising, e-public relations, e-banking dan lain sebaginya. Dalam hal ini, tercapainya pertumbuhan ekonomi, tentu akan berhasil apabila masyarakat Indonesia secara menyeluruh telah menjadi masyarakat informasi. Masyarakat informasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah masyarakat yang mampu memaksimalkan informasi dan teknologi komunikasi. Sehingga teknologi komunikasi dalam ekonomi komunikasi benar-benar dapat dimanfaatkan dengan positif dan semaksimal mungkin.

Buku Acuan
Friedman, Thomas. (2005). The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century, Farrar Straus and Giroux (USA)
Hoskin, C, McFadyen, Stuart & Adam Finn. (2004). Media Economics: Applying Economics to New and Traditional Media, Thousand Oaks, CA: Sage Publication
Straubhaar, J., LaRose, R. & Davenport R.,  (2011). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, 2011 Update  Seventh  Edition. Thomson-Wadsworth
Toffler, Alvin. (1980). The Third Wave. Bantan Books (USA)

FORMULA KEBERUNTUNGAN

The best luck of all is the luck you make for yourself (Douglas MacArthur)   Kita mungkin pernah tau bahwa di dunia ini ada jenis manusi...